• Homepage
  • >
  • Ekonomi
  • >
  • Dorong Infrastruktur Konektifitas Lewat Kerjasama BIMP-EAGA

Dorong Infrastruktur Konektifitas Lewat Kerjasama BIMP-EAGA

  • Mistqola
  • 8 ago
  • 0

 

Pertemuan Tingkat Menteri Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) dan Pertemuan Terkait ke-21 kembali digelar di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Kegiatan yang dilangsungkan selama empat hari, mulai 30 November – 3 Desember 2017 ini membahas berbagai kerjasama subregional antar negara peserta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan kerjasama subregional memainkan peran penting sebagai pondasi pembangunan kerjasama regional. Terlebih kerjasama BIMP EAGA mencakup delapan bidang utama yaitu pariwisata, perdagangan dan investasi, transportasi, ketenagalistrikan, ICT, pertanian, lingkungan serta kebudayaan dan pendidikan.

“Kehadiran BIMP-EAGA menyumbang kontribusi dalam mendukung pelakasanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN dan kerjasama ASEAN pada umumnya,” ujar Darmin saat membuka Pertemuan Tingkat Menteria BIMP-EAGA ke-21, Minggu (3/12/2017), di Tarakan, Kalimantan Utara.

Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Brunei Darussalam Datuk Erywan Yusof, Wakil Menteri di Kantor Jabatan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Devamany, Menteri Pembangunan Mindanao Filipina Datu Abul Khayr Dangcal Alonto dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara Udin Hianggio.

Banyak capaian secara ekonomi yang telah dibukukan oleh kerjasama BIMP-EAGA. Selama peirode 2015, investasi yang masuk ke BIMP-EAGA mencapai USD 34 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD 28 miliar. Di sisi lain, sektor pariwisata di wilayah BIMP-EAGA menunjukkan pertumbuhan positif. Dari tahun 2010-2016, total kedatangan wisatawan tumbuh 6,9% mencapai 83 juta pada 2016 termasuk 4,5 juta diantaranya wisatawan mancanegara.

“Melihat pertumbuhan perdagangan dan investasi serta potensi sektor pariwisata yang ada, sebagai regulator kita harus terus memberikan dukungan baik dalam bentuk kebijakan atau melalui pembangunan infrastruktur,” kata Darmin.

Dirinya menekankan pentingnya konektivitas antarwilayah menjadi faktor utama dalam mendukung kegiatan ekonomi. Untuk mendukung hal tersebut, telah disepakati berbagai Proyek Infrastruktur Prioritas/Priority Infrastructure Projects(PIPs) di kawasan BIMP-EAGA dengan nilai mencapai USD 21,4 miliar yang terdiri dari proyek bandar udara, pelabuhan, jalan, jembatan dan kereta api.

“Proyek konektivitas yang menjadi prioritas bagi Indonesia antara lain pembangunan Tol Manado-Bitung, Samarinda-Balikpapan, pembangunan pserbatasan di Kalimantan Barat, Kawasan Ekonomi Khusus Bitung, Pelabuhan Bitung dan Pelabuhan Makassar,” kata Darmin.

Pelaksanaan Pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA ke-21 juga mempunyai arti yang sangat penting. Hal ini mengingat pertemuan yang berlangsung membahas tindak lanjut dari beberapa arahan Kepala Negara pada saat pertemuan BIMP-EAGA Summit ke-12, salah satunya adalah mekanisme implementasi  BIMP-EAGA Vision (BEV) 2025 yang mengangkat visi:Resilient, Inclusive, Sustainable and Economically Competitive (R.I.S.E).

Lebih lanjut, Darmin menambahkan guna peningkatan perekonomian secara lebih terarah, maka telah dibentuk 2 (dua) koridor ekonomi yaitu West Borneo Economic Corridor dan Greater Sulu Sulawesi Economic Corridor.  Dengan menggunakan pendekatan kewilayahan dan fokus pada sektor prioritas. “Target yang ingin dicapai adalah peningkatan nilai perdagangan, investasi, industri, pariwisata dan UMKM untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, pertemuan juga membahas perkembangan inisiatif green city yang intinya ingin mewujudkan wilayah perkotaan yang layak huni, ramah lingkungan dan kompetitif secara ekonomi. Sejauh ini, kota Kendari, Indonesia telah menyelesaikan tahap pertama dengan menyusunGreen Cities Action Plan (GCAP).

Sementara masing-masing negara telah menunjuk dua kota baru yang berkomitmen untuk ikut serta pada inisiatif tersebut, yakni Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam), Pontianak dan Tomohon (Indonesia), Kota Kinabalu dan Kuching (Malaysia), Davao dan General Santos (Filipina). (Mistqola)

 

 

 

 

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width