Catatan FB Oleh Dimas Supriyanto

  • Redaksi
  • 5 ago
  • 0

KORAN KAMI – KETIKA FAKTA SAKIT, FIKSI OBATNYA : <

Membaca novel ‘Koran Kami’ saya seperti membaca ulang riwayat hidup sendiri.

Tidak dengan idealisme yang melambung dan menggebu sebagaimana yang digambarkan Bre Redana, penulisnya – karena dia wartawan koran besar, kredibel dan ‘bersih’ – melainkan, sebagaimana digambarkan dalam ceritanya – saya berada dalam kurun waktu yang sama.

Pada tahun tahun yang romantis ketika saya terlibat di dalamnya. Kami hidup dan hadir pada zaman yang sama.

Hadir pada masa ketika bangun pagi membaca koran pagi sambil ngopi – dengan berdebar menyimak, apakah berita yang saya tulis semalam dimuat atau tidak?

Masuk halaman satu atau halaman dalam? Lebih baik dan lebih lengkap dibanding berita harian kompetitor?

Siapa teman yang kecolongan dan tidak memuatnya. Bagaimana sudut pandang yang ditulis media lain. Samakah? Bedakah?

“Menulislah dan terus menulis bersama waktu yang berjalan yang akan menjadi gurunya” – begitulah kami berproses sebagai reporter – di era 1980an, 1990an – yang terlatih secara otodidak.

Karena saya bukan lulusan sekolah jurnalistik. Dan hanya menjalani pelatihan jurnalisme singkat di kantor masing masing, dengan perbaikan hari per hari oleh editor/redaktur sebagai atasan.

Narasumber adalah guru guru kami. Karena sebagai wartawan kami menjumpai para pakar, orang orang kompeten, empu orang orang yang selama ini dikenal unggul di bidangnya, sebagai narasumber dan bahan kutipan.

Olok olok yang biasa kami dengar, “wartawan adalah makhluk terbodoh di dunia”, karena sejak pagi, siang dan malam, terus bertanya. Tapi kami bertanya pada orang orang kompeten, sehingga seperti sekolah dan kuliah tiap hari.

Modal ilmu kewartawan saya masih pas pasan ketika harus berhadapan dan menyimak keterangan Prof. Dr Harsya Bactiar, Prof. DR. Haryati Soebadio, Prof. DR. Nugroho Notosusanfo, Prof. DR . Emil Salim, bertemu pelukis Affandi, R. Basoeki Abdullah, WS Rendra, Teguh Srimulat.

Sehingga sehabis menulis berita harus ke perpustakaan, mampir ke toko buku, membaca buku tebal tebal, menyelaraskan apa yang dikatakan para cendekiawan dan para maestro itu. Membeli buku sendiri dan membaca sampai ketiduran.

Saya kenangkan saat masih reporter hanya meliput ke lapangan dan menulis.

Mengetik dengan pelapis karbon rangkap tiga – suaranya bergemeretak di ruang redaksi, karena dua puluh mesin ketik bunyi bersamaan – lalu menyerahkan ke redaktur setiap sore atau malam. Selanjutnya menunggu nasib keesokan harinya – tidak instan sebagaimana di era online sekarang.

Apakah diedit, banyak koreksi, atau lolos tanpa potongan hingga alinea terakhir. Sebab sering juga tulisan saya dicincang-cincang, hanya tersisa satu alinea dan jadi “stopper” alias ganjelan di pojok bawah halaman saja.

Saya sedikit kecewa – sebab ditulis dari wawancara panjang. Atau dari menunggu acara berjam jam. Tapi saya tidak malu.

Di kemudian hari saya membaca sastrawan Martin Alieda membuat laporan lapangan sepanjang empat (4) halaman ketik dan diabaikan, dibuang, oleh Goenawan Mohamad pada masa awal penerbitan majalah ‘Tempo’ di tahun 1970an.

Berproses, berproses, itulah tahapan yang mematangkan kami.

SETIDAKNYA dua kali lagu ‘Lucy in The Sky with The Daimonds’ (The Beatles) – yang dijadikan judul novel ini – dan tiga kali “A Whiter Shade of Pale” (Procol Harum) dikumandangkan dalam peluncuran buku ‘Koran Kami’ – sekaligus pamit pensiunan Bre Redana dari koran ‘Kompas’ di gedung Bentara Budaya itu, 29 November malam itu.

Salahsatu lagu itu dinyanyikan sendiri oleh Tomy Awuy yang selama ini dikenal sebagai filsuf. Dia nyanyi sambil memainkan organnya.

Lagu itu segera menerbangkan kami – hadirin dan saya khususnya – ke masa lalu, ke dekade ‘flower generation’. Liriknya misterius dan dalam sekali maknanya.

Hit Procol Harum – sungguh nama yang aneh untuk grup band – menjadi lagu yang paling banyak dinyanyikan selama 75 tahun terakhir, menurut penelusuran BBC.

Pada masanya, seorang John Lennon menyebut, dia tak sanggup membuat lagu dengan kedalaman seperti itu.
“We skipped the light fandango /
Turned cartwheels ‘cross the floor /
I was feeling kinda seasick /
But the crowd called out for more……”

Saya lantas terkenang senior di kantor, Sakti Sawung Umbaran, wartawan olahraga, yang lihai membawakan lagu itu di satu satu acara kawinan.

Tak semua orang bisa membawakan lagu itu. Ya. Tapi Bang Sakti Sawung bisa. Dengan penghayatan penuh, membuat tamu tamu menengok ke panggung, melihatnya beraksi, berdiri di depan mikrofon dengan percaya diri. Dari balik jaket hitamnya.

Lagu itu juga mengingatkan pada ‘Love Hurt’ (Nazareth), ‘Du’ (Peter Maffay) dan kemudian ‘i Started a Joke’ (Bee Gees) Lennon).

Instrumen bagian intro-nya langsung menghanyutkan, mengingatkan juga pada lagu Prancis yang mendesah desah, ‘Je t’aime… moi non plus’ yang dipopulerkan Jane Birkin dan Serge Gainsbourg.

Lagu itu kemudian diadaptasi ke Indonesia oleh Adriyadi dan dibawakan oleh Titik Sandhora dengan judul ‘Mimpi Dirayu’)

Saya masih di kampung dan bertetangga dengan tukang servies radio & tape recorder, dengan salon besar dan terus menyanyikan lagu lagu 1970-an itu. Komplikasi ‘The Greates Love Song’. Dan ketika masuk era 1980-90an jadi kumpulan lagu “Evergreen”.

Dalam novel ‘Koran Kami’, tokoh SS – Santosa Santiana alias EsEs yang digambarkan Bre Redana merasa mentok di koran cetak harian, dan belum bisa menerima digitalisasi media berita di ‘online’.

Saat ini jurnalisme dalam krisis, dikuasai oleh kebohongan yang diproduksi dan direproduksi piranti digital. Perlu upaya penyelamatan seperti dilakukan tujuh jago pedang yang menyelamatkan petani desa dari cengkeraman bandit dalam film ‘Seven Samurai’ (hal.57)

“Manusia koran telah digantikan manusia digital. Real diganti Virtual, ” katanya, lewat tokoh Frans.

“Media digital telah melahirkan anak-anaknya, manusia digital. Kebiasan, cara hidup, tradisi manusia digital, tidak lagi sama dengan manusia koran”.

Bila di puncak represi Orde Baru, sastrawan Seno Gumira Ajidarma menawarkan kredo, “Ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara”.

Lewat novel ‘Koran Kami’, Bre Redana menyatakan,”Ketika fakta sakit, fiksi obatnya”.

Dengan nota : “Berdasar kisah tidak nyata dan tidak meyakinkan”, Bre Redana bukan hanya menuturkan kisah jurnalistik, tokoh utama dan pendukung
dengan segala keromantisannya – sebagaimana cerpen-cerpen dan novel sebelumnya. Melainkan juga nendang-nendang ke sana kemari, seputar kondisi masa lalu dan masa kini :

“Di zaman fundamentalisme ini orang akan percaya pada apa saja, kecuali kebenaran.”

Mak Jleb!

***

baca juga: Majalah MATRA edisi terbaru

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width