• Homepage
  • >
  • Trend
  • >
  • Tak Akan Ada Satire: “Senjakala Media Cetak”.

Tak Akan Ada Satire: “Senjakala Media Cetak”.

  • Redaksi
  • 5 ago
  • 0

“Ini eranya konvergensi media,” ujar Menkominfo, Rudiantara kepada Majalah MATRA dan tim majalah Eksekutif di Jakarta, dalam suatu kesempatan.

Sebagai menteri komunikasi, Rudiantara salut dengan majalah MATRA dan majalah Eksekutif yang melakukan branding baru walau sudah beken sejak lama, termasuk dengan majalah eksekutif yang sejak 1979 terbit di cetak hingga kini.

Rudiantara mengatakan, teknologi digital mengharuskan semua pelaku bisnis dapat beradaptasi. Tak terkecuali pada perusahaan media – terutama media cetak agar tetap bertahan. “Skema bisnis media cetak harus berubah,” ujarnya.

Media cetak masih menjadi acuan utama di tengah derasnya arus informasi. Informasi lebih dianggap “bernilai” atau tokoh yang ditampilkan menjadi menarik ketika dipaparkan di majalah cetak.

Untuk itulah, majalah cetak perlu melakukan sejumlah tahapan perlu dilakukan untuk melalui transformasi bisnis.

Jika pendapatan yang diperoleh untuk kelangsungan bisnis media adalah dari konsumen dan pengiklan. Konsumen punya banyak pilihan dalam berlangganan misalnya, dapat berlangganan versi digital tanpa perlu menggerus versi cetaknya.

Penjualan bundling antara versi cetak dan digital, pada tahap selanjutnya, dapat pula digunakan skenario branded content maupun penyelenggaraan event yang bekerja sama dengan pengiklan.

Kebutuhan pada analis data dan mengintegrasikannya ke dalam organisasi contohnya akan membawa perusahaan dapat mengambil keuntungan dari analisis data terkait bagaimana mengakusisi pelanggan, dan melakukan monetisasi.

Dengan data yang cukup membuat insight yang menyeluruh ketika akan membangun konten bagi konsumen. Kebutuhan kecepatan di era digital juga harus diadaptasi sehingga tidak sekadar memberikan konten dengan cepat tapi juga membungkus ide-ide segar dengan Iebih cepat.

Chief RA – sapaan akrab Rudiantara menambahkan, tantangan bagi industri media cetak adalah bagaimana media sosial menjadi penantang yang kuat baik yang ada di platform seperti Facebook, Youtube, maupun news media aggregator.

Pendapat Robert G Packard, professor bidang ekonomi media dan manajemen sekaligus peneliti senior di Reuters Institute, University of Oxford menyatakan, bahwa industri media cetak tidaklah mati karena gempuran digital.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh pebisnis media cetak adalah bagaimana menjadikan teknologi digital menjadi cara baru dalam mengoperasikan bisnis serta menjadi peluang untuk berkembang dan tumbuh.

baca juga: Majalah Eksekutif Terbaru
Media Cetak Di Era Konvergensi

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width