Trik Fotografer Menelanjangi Model. Sudah tahu belum?

  • Redaksi
  • 6 ago
  • 0

foto: istimewa investigasi

ADA SEMACAM KREDO DI DUNIA fotografi: kalau belum memotret orang tanpa busana, berarti belum sampai pada titik kulminasi. “Pada tahap itu dilatih penguasaan anatomi, dan sejauh mana kepekaannya terhadap setiap lekukan tubuh manusia,” ungkap seorang fotografer terkenal.

“Tapi, polos bukan berarti vulgar,” mantan fotografer majalah pria itu berpendapat. Ia menyebut karya Robert Farber, fotografer asal Amerika Serikat yang kerap menampilkan wanita telanjang sebagai objek. Karya forografinya berserakan di berbagai tempat, semisal untuk iklan pusat perbelanjaan ternama Bloomingdales,
Revlon, Plilip Moris, Seagram, dan sebagainya.

“Ketelanjangan bisa diekspos secara tidak vulgar, “kata pria yang sudah 20 tahun menekuni profesi ini. Foto nudes, menurut mat kodak ini, bukan naked. “Agar foto tak terkesan porno, fotografer harus sungguh-sungguh melihat aspek artistiknya. Tidak asal telajang. Itu akan membuat model puas dengan hasil akhirnya dan punya kebanggaan,” kata Roni, (nama sasaran).

Pria berpenampilan keren dan berambut gondrong ini sudah cukup lama malang melintang di dunia fotografi, mulai memotret untuk sampul kaset sampai foto “panas”. Begitu jagonya, ia menaklukkan model, terbukti dari kerapnya rekan seprofesi meminta bantuan untuk “menelanjangi” sang model – apalagi bila dihadapi seseorang artis.

Nilai artistik dari foto tanpa busana bisa didapatkan dari sistem pencahayaan dan setting lokasi – misalnya di gedung kuno, kamar mewah, atau tumpukan jerami. “Penthouse dan Playboy, fotografinya bagus karena tidak sekadar menampilkan tubuh telanjang,” ujarnya, panjang lebar.

“Saya tidak peduli dengan komentar yang menyebut sebagai fotografer porno, fotografer bugil, atau apa saja, “kata Leo, yang bekerja di sebuah tabloid kerap memunculkan foto-foto syur. Diakuinya, di kalangan fotografer profesional namanya masuk kotak alias tak diperhitungkan.

“Fokus saya adalah mendapatkan model, membujuk model, dan menikmati proses pemotretan ini,“ tegasnya.

Leo mengaku, selalu memilih model-mode yang seksi. “Umumnya berdada besar,” ujar pria yang enggan disodori cewek cantik tapi berdada tipis ini.

“Kurang menggairahkan, dan tidak menantang kreativitas saya!” tutur lelaki yang sejak SMA di pertengahan tahun 1970-an sudah mengenal majalah dewasa yang menampilkan foto-foto seksi seperti Violeta, serta Vista, Variasi, Ultra, TOP, Serta Adam & Eva itu.

Awalnya, fotografer tabloid ini memotret model yang kurang begitu populer dengan pertimbangan mereka bisa “longgar” dalam eksperimen pemotretan yang dilakukannya. “Jujur saja, memotret pemula lebih asyik,” ujar pria yang belakangan banyak membidik selebritis itu.

Begitulah, hampir semua fotografer sependapat bahwa masalah kepercayaan antara model dan fotografer adalah kunci untuk bisa mengabadikan pose penuh sensasi. Untuk menjaga nilai kepercayaan tersebut, ada fotografer yang pantang menyimpan klise foto modelnya dan memilih memberikan langsung kepada sang model.

Bila di era di digital seperti sekarang, hasil itu langsung dicopy ke yang bersangkutan, untuk kemudian di delete.

Leo lantas membuka kartu cara “menelanjangi” seorang model.

“Bila yang datang sedang-sedang saja, saya puji dengan gaya sedang-sedang juga. Misalnya dengan mengatakan wajahnya kok mirip banget sama Sarah Azhari. Yang dipuji biasanya langsung klepek-kelepek. Atau mereka bilang, ‘Ah bisa aja!’ Kalau yang ke’ge-er’an menjawab begini ‘Memang banyak sih yang bilang begitu’ Ha…ha…ha….” kata leo sambil terbahak.

Cerdiknya, jika Leo melihat modelnya cerdas, maka dia putar otak lagi. “Kenapa kita baru ketemu sekarang? Mestinya kamu sudah menggantikan Luna Maya!” begitulah bujuk rayu pria yang mengaku memotret wanita dengan pose vulgar, persis foto-foto di halaman tengah Hustler atau Penthouse. Tentu, gombalan ala Leo ini bukan harga mati yang diterapkan fotografer.

Tantangan terberat memotret orang telanjang, kata seorang fotografer senior, adalah mengendalikan diri dan nafsu berahi. Maklumlah, mereka merasa lebih nyaman saat memotret di suatu ruangan.

“Kadangkala tak kuat menahannya,” kata fotografer itu terus terang. Ironisnya, setelah “mencicipi” si model, kreativitas untuk memotret model itu dalam keadaan telanjang justru buyar.

Kendati begitu, ia mengaku foto yang mengarah ke vulgar bisa ada karena ada disitu terjadi hukum penawaran dan permintaan.

“Ada artis yang belum top, mau tampil di satu media, karena mungkin dipikirnya salah satu jalan ke arah itu adalah harus mau difoto bugil. Nah, kemungkinan peluang itu tidak disia-siakan oleh fotografernya. Jadilah dia difoto yang bisa setengah bugil atau malah polos. Padahal, belum tentu model itu dipakai di medianya,” kata mantan fotografer majalah pria dewasa, seraya tertawa.

Beberapa artis pemula yang siap diapakan saja oleh para Mat Kodak, tak sedikit yang meminta imbalan agar setidaknya diperkenalkan kepada produser, “Saya tekankan bahwa ini bentuk kerjasama. Kalaupun kemungkinan ada produser yang berjalan, itu nasib baik dia,” ujar Roni, yang mematok sekitar Rp 5 juta untuk memotret telanjang bagi pendatang baru, dan minimal 10 juta bagi mereka yang sudah punya nama.

Sebagai orang yang sering bergaul dengan artis, fotografer memang pelaku sekaligus pendengar gosip yang baik.
Fotografer punya lingkungan yang sama dengan orang salon – tempat orang berias, cukur dan bergosip. Fotografer akan dengan mudah mendapat info seorang model F yang dipelihara sang petinggi kita atau bankir. Atau, artis beken S yang dipersembahkan tim sukses anu. Atau juga, seorang banci menjual model ke pejabat B.

Seorang fotografer tahu banyak artis yang tampilannya alim, intelektual dan ada artis “acaraan” dengan tarif-tarif tertentu.

MATRA menginvesigasi dan melihat sendiri, bagaimana suatu kali ada model cantik. Karena kepepet bayar kost da terjebak dalam gaya hidup shabu. Untuk “one cret only’ Rp 12,5 juta. Kemudian, ada fotografer yang menawarkan makan siang dengan model charge Rp 5 juta.

Ada lagi yang saat ini jadi trend, banyak eksekutif muda penggemar fotografi sengaja membayari sang fotomodel. “Ia yang menanggung biaya tiket sampai penginapan,” ujarnya. Hal ini, tak sulit dan hanya memakan biaya tak sampai Rp 5 juta. Model fresh yang awalnya berpose buka-bukaan. Dalam situasi dan kondisi, yang memang dikondisikan. “Posenya seperti penawar dahaga,” jelas si fotografer.

Memadukan rapsodia dan realitas. Semua itu terjadi, baik atas kemauan sendiri atau setelah diadakan pendekatan. Abel, bintang sinetron yang wajahnya menghiasi kalender dengan pakaian minim, mengakui itu. Sistem “satu paket” itu artinya bisa “dipakai” seusai difoto.

Ada lagi, dalam dunia foto nudes dan seksi yang sedang menjadi incaran kaum eksekutif. Ada sebuah majalah pria dewasa yang menyediakan paket-paket foto berwisata bersama model-model cantik, untuk beberapa hari ke luar kota. Tunggu investigasi berikut, bagaimana telanjang itu keindahan dan seni. Aduhai.

baca majalah MATRA terbaru: Klik ini

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width