Cerita Inspiratif Musisi Dibalik Hijas Fair Palu

  • Beng Warna
  • 26 ago
  • 0

Matranews  –  “Alhamdulillah, dalam pertemuan yang begitu singkat kami merasa bintang tamu yang hadir dalam acara Hijas Fair yang kami adakan bak keluarga sendiri,” ungkap Ima Hafidz Hadado. Ima begitu terkesan dengan kehadiran musisi rock dalam acara Hijas Fair. Ungkapan kesedihan terlihat saat panitia menghantar kepergian bintang tamu di Bandara Mutiara Sis Aljufri kota Palu menuju Jakarta. Begitu pula ungkapan nelangsa dan begitu sedih pada beberapa akun fesbuk anggota komunitas hijas Palu.

“Alhamdulillah. Terima kasih untuk kehadirannya di kota Palu dan bersinergi dalam dakwah bersama kami,” ujarnya. Banyak pelajaran berharga dari kisah hijrah yang terjadi, “Om Edi, Om Anwar dan Bu Reny. “Doakan kami tetap istiqomah dan semoga Allah kembali mempertemukan kita secepatnya aamiin”. Ada haru yang teramat sangat yang dirasakan ketika mengantar dan berpisah di Bandara, bagamana artis kenamaan negeri ini sebegitu bersahabatnya dengan komunitas. “Menjadikan kami bukan hanya teman tapi juga keluarga,”

Tri Witarto Edi Purnomo. “Setiap orang, semuanya sedang berjalan menuju kuburnya masing-masing. Persiapkan bekalmu menuju kampung akhirat, Allah saja yang dapat membalas semua pengorbanan dengan pahala berlipat aamiin.”

Renny Djayusman.”Sekali hidayah datang, pol-polanlah dalam melaksanakan semua perintah Allah.”

Anwar Fatahillah.“Teruslah kita berbuat baik untuk sesama.” ini beberapa kalimat yang masih terngiang dan sering kami dengar dari beliau-beliau ini..semoga Allah senantiasa menjaga om Edy,om Anwar dan Bu Reny dalam dakwah aamiin. Itulah sekelumit untaian kata yang tertera dalam status akun Fesbuk milik Ningsih Pallalo, anggota komunitas Hijas Palu seusai mendengar cerita hijrah para musisi di asrama Haji Kota Palu Sulteng .

Perhelatan yang digagas dan dilakukan Komunitas Hijab Syar’i kota Palu, Sabtu 28 April 2018 dengan tema Let’s Hijrah Get Jannah” cukup berkualitas dilakukan. Pasalnya, Komunitas Hijas Palu mengundang tiga musisi rock senior sebagai narasumber dalam acara syiar dan dakwah. Acara yang cukup memukau jamaah yang hadir dipimpin Ustadz Ali Firdaus, Ketua Madina Palu (Presidium FUI Sulteng) sebagai penceramah utama.

“Diharapkan, hadirnya musisi ibukota dan dikenal banyak orang, menjadikan sebuah alat syiar yang baik merangkul umat dari berbagai kalangan dan latar belakang dalam misi memperbaiki kualitas beribadah,” tutur Ustadz Ali Firdaus di sela-sela acara Hijas Fair yang digelar di asrama haji Kota Palu (28/4/2018). Menurut Ustadz Ali Firdaus. Dalam  Islam, banyak cara merangkul umat agar masyarakat muslim kota Palu dapat berhijrah menjadi lebih baik menjalankan perintah agama.

Gagasan mengundang artis dan musisi adalah sebuah cara yang patut diapresiasi agar masyarakat dapat mendengarkan langsung cerita jalan hidup mereka yang pernah salah, dan kini berubah menjadi lebih baik dalam ibadahnya. Dan cerita hijrah para artis dan musisi yang dihadirkan bisa jadi penggugah semangat beribadah mencontoh hal yang baik yang dilakukan, agar lebih taat pada agama sesuai perintah dan ajaran Islam.

Hijas Fair adalah sebuah agenda tahunan bagian dari kegiatan akbar Komunitas Hijab Syar’i Kota Palu. Melibatkan beberapa musisi terkenal ibu kota diharapkan dapat menggugah niatan masyarakat untuk berkumpul mendengar syiar agama dan mengambil cerita inspiratif dari para musisi yang telah berhijrah.

“Sangat bersyukur dan Alhamdulillah mendekati H –1 (red; H minus satu), semua kendala kendala yang kami hadapi dapat kami lampaui, termasuk menyambut dan penanganan para bintang tamu yang kami fasilitasi saat berada di kota Palu,” ungkap Yuliana Tompo, Ketua Hijab Syar-i kota Palu.

Mereka pada takjub dengan kesediaan para bintang tamu dengan keikhlasan dan ketulusan hati mensuport acara. Artinya, ini memang sebuah hadiah dari Allah SWT atas terselenggaranya acara ini.

Informasi kegiatan terkait Hijas Fair pun dilakukan secara masif di berbagai media informasi. Tak hanya di media sosial, tapi juga menyebar beritanya di media online nasional, TVRI Sulteng serta baliho di berbagai jalan utama kota Palu. Wawancara ekslusif bintang tamu jelang Hijas Fair juga terdengar di Radio Pro 2 FM Palu.

Sesaat sebelum mengisi acara on air di RRI Pro 2 FM Palu – Foto : Beng

Diakui Yultom panggilan familiar ketua Komunitas Hijas, dalam penyelenggaraan tablig akbar kali ini menggandeng empat komunitas ; RDJ (Rumah Dua Jari), Niqob Squad ,Kafilah Media Partner, Madina dan Komunitas Teman Hijrah.

“Harapan kami, selaku penyelenggara kegiatan Hijas Fair dengan tema Let’s Hijrah Get Jannah adalah mengajak kaum muslimin memperbaiki ibadah dan membawa banyak manfaat,” ungkap Yultom.

Satu atau dua orang saja yang berhijrah menambah kecintaannya terhadap Allah SWT dan agama, sudah merupakan hal yang luar biasa. Maka, kegiatan yang dilakukan selama dua hari bersama tiga musisi rock terkenal ini, adalah “sesuatu”.:

Acara dimulai pada Jumat pagi, 27 April 2018 dengan menyantuni anak yatim piatu di panti asuhan Al-Mursalaat wilayah Sirkuit Bukit Panggona Palu.

Kemudian seusai sholat Jum’at, para musisi  menjadi narasumber acara  RRI Pro 2 FM Palu yang dipandu penyiar radio Umi Kalsum membedah kisah hijrah bintang tamu.

Setelah itu bintang tamu melakukan sesi foto bersama pendukung acara yang terlibat mensuport kelancaran Hijas Fair di area swimming pool Hotel Mercure Palu tempat mereka menginap.

Acara puncak dalam bentuk tauziah dan dakwah oleh Ustadz Ali Firdaus dan berbagi cerita hijrah bintang tamu di gelar pada tanggal 28 April 2018, menjadikan acara penutup dari event yang digelar di kota Palu.

“Ajakan saudara  seiman di kota Palu merupakan ajakan yang luar biasa. Mendapat misi diluar talenta musisi yang kami miliki. Apalagi misi ini adalah misi ke imanan untuk berbagi..Subhanallah,” kata Renny Djajoesman.

“Saya sangat terharu mendengar ini. Karena sebelumnya belum pernah terjadi undangan semacam ini secara khusus dan datangnya-pun jauh dari luar pulau Jawa,” masih Renny Djajoesman memaparkan, saat awal mendengar permintaan Komunitas Hijas Palu meminta dirinya berbagi cerita di acara Hijas Fair Kota Palu.

Hal senada juga diungkapkan Anwar Fatahillah leader Grup Band Rock Powerslaves dan gitaris Grup Band Grass Rock – Tri Witarto Edi Purnomo alias Edi Kemput.

“Akupun terharu dan bangga, ada komunitas muslimah yang mungkin sudah lebih concern dengan ibadahnya, mengundangku berbagi cerita dalam acara syiar dan dakwah bagi masyarakat muslim Kota Palu,” ungkap Anwar Fatahillah, basist grup rock Powerslaves. Sejujurnya, Ini adalah pengalaman pertama dipercaya dalam misi keagamaan..Alhamdulillah.”

Anwar mengaku terharuan atas undangan yang ditujukan komunitas Hijas Palu kepadanya.

Hijrah menurut agama Islam adalah sebuah kewajiban. Mengajak orang lain sesama muslim berhijrah menjalankan sebuah perintah agama menjadi lebih baik adalah sebuah upaya yang sangat mulia.

Dalam makna hijrah itu sendiri adalah, sebuah perbuatan yang dilakukan seorang muslim untuk mempertebal keyakinannya sesuai aqidah dan syariat dalam usaha mendapat rahmat Allah SWT.

“Hijrah berarti ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu pula yang dituju, agar keimanan menjadi lebih baik  dalam beribadah yang sesungguhnya,” ujar Edi Kemput, musisi rock  yang lebih dulu berhijrah.

Edi mengaku, kini lebih concern dalam kegiatan syiar Islam keberbagai tempat.

Ia pun menjelaskan, seminggu sebelum acara pun melakukan kegiatan sosial di luwuk Sulteng dan ikut berbagi dalam kegiatan dakwah Hijas Fair menilai apa yang dilakukan komunitas Hijas Palu adalah perbuatan yang sangat mulia dan perlu di apresiasi oleh berbagai pihak agar tercipta ahlak mulia di lapisan masyarakat muslim yang ada dikota Palu

“Mengajak orang berhijrah tentu tak mudah. Dan kami menyadari sebagai publik figur mungkin kami lebih mudah menyapa mereka dimana kehidupan para musisi rock mungkin berlatar belakang yang kurang baik awalnya,” ujar Edi.

Sebagai organik band dengan masa lalu kelam, yang telah menyadari akan kekeliruan hidup sebelumnya bisa memberikan contoh baik bagi mereka yang mungkin saja berlatar belakang yang sama.

“Cara yang baik dan berlatar belakang yang sama tentu bisa saja lebih menggugah keinginan saudara saudara muslim mendengarkan cerita kami untuk menuju keimanan yang lebih baik,” ujar Edi. “Kita jangan takut mati dalam ke adaan miskin atau lemah, tapi takutlah mati dalam ke imanan yang minim,” paparnya.

Untuk itu saat hidayah menghampiri berhijrahlah kita secara mental untuk lebih taat menjalankan perintah Allah SWT yang maha segalanya, masih menurut Edi.

Dalam acara tabligh Hijas Fair, apa yang disampaikan seorang Renny Djajoesman dalam sesi hijrah story cukup membesut hati jamaah yang hadir dan di dominasi kaum hawa.

Sekali hidayah datang, pol-polanlah dalam melaksanakan semua perintah Allah

Cerita dan kesungguhan Renny berhijrah cukup membuat suasana hening dengan lontaran kata-kata dan pengakuan apa adanya tentang masa lalu yang hitam. Jamaah terharu dan tertegun mendengar pengakuan Renny yang begitu terlihat sangat khusyu menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya masa lalunya.

Renny Djajoesman saat berbagi kisah hijrah – Foto : Beng

Di sisi lain, Renny pun mengajak para jamaah sesekali berteriak takbir yang diikuti segenap jamaah se-isi ruangan menyebut asma Allah.

Maka, ruanganpun menjadi hening kembali tatkala Renny bercerita yang menggugah emosi jiwa dan sesekali pula menjadi riuh tiap kali menyerukan takbir.

Penyampaian kisah hijrah diri Renny Djajoesman begitu dalam dan begitu sungguh sungguh mampu  membius jama’ah terkesima, menjadi lebih khidmat mendengarkan uraiannya.

Sesuatu yang luar biasa disampaikan seorang Renny Djajoesman hingga membuat sebagian jamaah tertegun dan makin yakin akan kebesaran Tuhan sang maha pencipta.

Disusul dengan kisah  seorang Edi Kemput yang lebih dulu berhijrah mengikuti seniornya alm Gito Rollies. Dalam pembawaan yang tenang dan lebih concern akan kegiatan syiar/ dakwah, Edi menceritakan masa lalu dimana musisi rock juga banyak dicap negatif oleh sebagian khalayak umum.

Edi yang mengingatkan kepada jama’ah, akan pentingnya sebuah bekal ke imanan untuk kehidupan setelah kematian mengajak jama’ah selalu istiqomah dan tawadhu dan terus disiplin menjaga dan menjalankan amalan dan ibadahnya.

Untuk saat ini, Edi memberi kesaksian, minimal dari sholat lima waktu sebisa mungkin tepat waktu dan jangan ditinggalkan.

Penutup cerita hijrah story dari bintang tamu disampaikan se orang Anwar Fatahillah, dimana baginya adalah saat ini yang bisa dilakukan dari hal yang simpel seperti selalu berfikir akan sebuah kebaikan, baik untuk diri sendiri, keluarga juga orang lain agar apa yang dilakukan bermanfaat bagi sesama.

#Beng Aryanto

baca majalah MATRA print (cetak) klik!

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width