Dari Pinggir Citarum Ke Tengah Laut

  • Redaksi
  • 18 ago
  • 0

“Hidup itu anugerah, mari jalani dengan niat baik dan semangat berkarya,” ujar Laksamana Ade Supandi, di tengah kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2018.

Rangkaian acara MNEK berlangsung dari 4 – 9 Mei 2018 ini, mengambil tema “Cooperation to Respond to Disasster and Humanitarian Issues”.

Acara inti sudah selesai. Walaupun kegiatannya dalam bentuk latihan non-perang, namun esensinya adalah tetap mengedepankan kerja sama maritim di kawasan regional.

“Baru sampai Jakarta, besok ada kegiatan lain lagi,” ujar pria kelahiran Batujajar, 26 Mei 1960 ini, saat tengah malam dikonfirmasi majalah MATRA, sedang apa.

Benar saja. Enerjinya, memang luar biasa, baru pulang dari Lombok Barat, NTB, pada tengah dini hari kerja masih kerja, berkutat dengan buku bacaan.

Makanya, ketika mengaku kepada banyak jurnalis usai purna tugas 1 Juni 2018 ini, suami Endah Esti Hartanti Ningsihia akan “istirahat” dan fokus mengurus keluarga, banyak pihak tak percaya.

Jalani kehidupan ini dengan baik dan terus berbuat baik kepada orang dan sekeliling, itu memang iya. Tapi, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) ini disebut-sebut juga akan mengakrabi dunia digital, seperti kesukaannya sejak kecil yakni dunia elektronik dan kini “electronic gadget.”

Begitulah anak juragan kulit di Batujajar yang lahir dari keluarga sederhana, yang tak berinteraksi dengan debur ombak dan asinnya air laut.

Merupakan KSAL kedua dari tanah Pasundan. Kesamaan antara Laksamana RE Martadinata dan Laksdya TNI Ade Supandi, keduanya sama-sama putra Pasundan. Laksamana gagah digdaya ada dalam darahnya.

Keduanya juga berada di masa kepemimpinan yang boleh dibilang concern terhadap maritim. RE Martadinata dibawah pimpinan Bung Karno fokus membangun Bangsa ini dari maritim.

Kecil dan besar dari pinggir Citarum, sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting. Kiprah dan posisi Ade Supandi, telah membuat sejarah baik di TNI, sebagai tentara laut.

Dikenal tegas dan pemurah, muslim yang taat dan punya jiwa seni ini mengaku, akan tetap berkarya untuk bangsa. Jika dibutuhkan, bersedia untuk berbagi ilmu dan pengalaman terkait kemaritiman.

“Negara kita negara maritim, mungkin saya masih dibutuhkan untuk berbicara, berdiskusi masalah kemaritiman,” ujar Ade Supandi, pria yang selalu menikmati hidupnya dengan penuh rasa syukur.

baca juga: wawancara ekslusif Laksamana Ade Supandi – klik ini

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Be designer for your site
Background Pattern
                       
Background Image
           
Skins
           
Page Width
Full Width Boxed Width