• Homepage
  • >
  • Hiburan
  • >
  • “Digital Disruption” & Bagaimana Mengatasinya, Untuk Mal Yang Lagi Sepi…

“Digital Disruption” & Bagaimana Mengatasinya, Untuk Mal Yang Lagi Sepi…

Oleh: Arifin Yoshodharmo,

/>Dahulu kala, waktu Jaman Internet masih pakai Telepon. Ketika itu, saya masih kuliah S2 di Universitas Bina Nusantara, mengambil Double Degree dari Curtin University di bidang M.Com(IS), Istilah2 seperti IOT (Internet of Things) dan “Digital Disruption” sudah mulai terdengar.

Kami, seolah-seolah sudah diperingatkan, akan datangnya masa itu, ketika Bisnis Konvensional akan diobrak-abrik oleh Proses Digital.

Saya membayangkannya pun belum bisa. Wong buka Internet Cafe saja masih pakai Modem Telepon yang bunyinya “tang ting tung” itu…

Kini, hal itu menjadi kenyataan.

Mall-mall sepi. Retail2 besar kelas Internasional malah sudah tutup.

Retail kelas Nasional sudah melakukan Downsizing dan penyebaran lokasi usaha.

Ada yang bilang, ekonomi sedang melesu. Nyatanya bukan itu. Data menunjukkan bahwa terjadi perpindahan Trend. Dari belanja Konvensional, menjadi Belanja Online. Kita pun bisa melihatnya secara nyata.

Sekarang orang lebih memilih untuk belanja secara Online, karena lebih murah, lebih mudah, dan bahkan tidak perlu keluar rumah, bisa dilakukan kapan saja, dimana saja. Tidak perlu bermacet2an di Jalan, bayar parkir yang semakin mahal, bayar transport, dan lain-lain.

Anda bisa bandingkan harga. Antara barang yang dipajang di toko, di Mal, dengan barang yang dijual secara Online. Harga bisa beda jauh.

Kenapa harga barang di Mal jauh lebih mahal?

Ya iyalah. Mereka khan harus bayar sewa Toko, Listrik, Service charge, Bayar pegawai, inventory, modal tertahan, dan lain2.

Sedangkan bagaimana yang jualan Online?

Hanya dengan modal HP seharga sejutaan, orang sudah bisa melakukan foto produk, menawarkan barang secara Gratis, tidak pakai sewa tempat, service charge, SPG. Tidak perlu gudang, tidak perlu punya armada pengantaran barang, karena barang bisa diantarkan oleh pihak ketiga. Mudah, Murah dan

Cepat bukan?

Akibatnya Mal menjadi sepi, karena orang malas belanja mahal di Mal.

Kemarin saya jalan-jalan ke salah satu Mal terbesar di Indonesia (dulu).

Hati saya terenyuh.

Dulu, mal ini ramai sekali. Sekarang sepi sekali…

Saya masuk ke salah satu Toko Buku terbesar di situ, ternyata lebih banyak Karyawannya, daripada customernya…
Bahkan langkah kaki kita pun bisa terdengar menggema diantara rak2 buku…

Hati saya sedih, oleh karena itulah saya mencoba untuk membuat tulisan ini…
(Secara saya tidak rela, kalau sampai ada Mal yang tutup. Bisa dibayangkan, bagaimana nasib ratusan bahkan ribuan karyawannya. khan kasihan…? )

Mengapa Mal Sepi ?

– Karena Harga Barang di Mal jauh lebih mahal, dibandingkan di Online Shop.
– Parkir Mahal dan susah
– Perlu biaya Transport untuk pergi ke mal.
– Macet, menghabiskan waktu di jalan
– Harga makanan juga mahal.

Apa yang sudah dilakukan supaya Mal Ramai?
– Customer Base yang kuat. Contohnya, beberapa Mal sudah melengkapi (mengelilingi) Mal nya dengan Apartemen dan Gedung perkantoran.
Tetapi ternyata masih sepi juga.

Mal yang saya ceritakan tadi, sudah punya sejumlah tower Apartemen di atasnya.
Ada Tower apartemen di seberangnya, dan sedang membangun beberapa Tower apartemen di sampingnya.

Tetapi, mengapa masih ada Mal yang ramai?

– Karena Selain Apartemen (hunian), ternyata Mal itu juga dikelilingi Perkantoran dan Kampus. (Mahasiswa di kampus dan orang kerja di kantor, tidak bisa masak makanan sendiri, mereka harus bawa, seduh, atau beli)
– Harga barang dan makanan di Mal tersebut, tidak terlalu mahal
– Ada Bioskop dengan harga yang terjangkau.
– Mal tersebut sudah ter-image dengan baik sebagai pusat barang2 tertentu. (Misalnya : ITC RoxyMas yang sudah terasosiasi sebagai Pusat HP)
– Soal parkir mahal, tampaknya tidak terlalu pengaruh bagi pengunjung mal, yang memang sudah tinggal / berkantor / berkampus di sekitar mal tersebut.

Beberapa Peluang yang perlu diperhatikan :
– Orang tetap butuh Refreshing. Pemandangan dan Pengalaman yang berbeda, bukan cuma di kantor/di kampus/ di rumah saja.
– Orang bisa bosan / jenuh
– Orang tetap butuh jalan2 / olah raga / outdoor activity.
– Orang tetap butuh Hiburan
– Orang tetap butuh berbelanja, window shopping
– Orang butuh makanan yang berbeda
– Orang butuh berSosialisasi dengan orang lain secara nyata dan bertemu muka.

So, apa yang harus dilakukan Mal agar ramai lagi?
Intinya:
“Berikan ALASAN yang KUAT agar orang mau datang ke Mal”

Dan itu bisa berupa:
EXPERIENCE MARKETING with Lower Price (VALUE)

Berikan Customer “pengalaman yang berbeda” dengan Harga yang Terjangkau.
Bisa melalui :

– EVENT
Sering2lah mengadakan Acara di Mal. Bahkan kalau bisa, tiap hari ada acara. Tidak usah menunggu Weekend, maupun hari libur. Karena tidak semua orang pekerja kantoran. Tetapi mereka tetap punya uang untuk dibelanjakan.

Acara yang paling mudah untuk dilakukan adalah :
Pameran, Bazaar, dan Kegiatan Sosial serta Acara Komunitas.
Contoh Kegiatan Sosial : Donor darah, Pengumpulan Buku/pakaian bekas, garage sale, Make Over, Pendidikan/Seminar/Workshop, dll.
Jarang ada khan, Seminar Motivasi Gratis untuk umum di Mal?

– RANGKUL KOMUNITAS
Ada banyak sekali Fan Base dan Komunitas yang butuh Kegiatan dan Tempat berkumpul.

Komunitas yang berpotensi menarik orang lain untuk menjadi anggotanya adalah komunitas yang umum dan menarik.
Misalnya Komunitas : pencinta binatang, Kendaraan/Otomotif, barang antik / High tech, gamer, cosplay, dll.

– PROMOSI

Ingat ketika ada Midnight Sale dengan Diskon besar2 dan Parkir Gratis? Pasti Mal-nya langsung rame sampai malam. Sering2 berikanlah Diskon besar2an, walaupun hanya untuk barang2 tertentu. Tidak perlu selalu Midnight Sale terus (Kasihan SPG-nya).

Promosi tidak selalu harus diskon. Bisa saja pakai program beli A dapat B.
Atau Reward karena Customer sudah melakukan sesuatu (publisitas/promosi) untuk perusahaan, seperti yang banyak dilakukan di Instagram akhir2 ini.

– Hiburan yang terjangkau

Bioskop dengan harga murah, salah satu jawabannya. Walaupun Harga DVD bisa lebih murah. Tetapi pengalaman menonton di dalam Teater dengan Layar Besar dan Sound System yang menggelegar sulit dilakukan tiap hari di semua rumah. Dan biasanya orang kalau menonton bioskop, selalu mengajak orang lain (rame2). Karena kalau nonton sendirian, bisa dilakukan di rumah

Contoh : Mal Daan Mogot.
Saya tahu mal ini dari dulu. Sejak masih sepi, dan Bioskopnya cuma 3 teater.
Sekarang, di masa mall lain sepi, mal ini tetap ramai. Dan Bioskopnya pun nambah 2 Teater, jadi totalnya 5 Teater.

Hiburan yang terjangkau ini, bisa juga dalam bentuk pertunjukan musik, sandiwara, bekerja sama dengan sekolah/universitas, sebagai tempat untuk mereka mementaskan karya2 kesenian siswanya, dll.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah membuat Panggung Pentas Seni & Budaya.
Tidak usah membayar artis untuk pentas.
Cukup berikan kesempatan kepada Komunitas untuk Manggung atau bikin acara.

– Taman
Hampir semua Mal masih minim sekali dengan taman (ruang terbuka) karena terlalu fokus pada membangun toko2 di dalam mal. Padahal pekerja2 kantoran (salah satu target market Mal yang penting) sudah jenuh berada di dalam ruangan kantor setiap hari.

Akan sangat menyenangkan sekali jika kita bisa keluar dari rutinitas pekerjaan, dan menikmati pemandangan alam di ruang terbuka hijau. Tidak heran banyak orang yang jalan2 ke Puncak, Bogor dan tempat2 wisata alam lainnya.

Mengapa Mal tidak menyediakan itu?

Sehingga orang tidak perlu jauh2 mencari taman? Dan juga tidak perlu menunggu saat weekend?
Jika suatu mal tidak punya lahan untuk dijadikan taman, alternatifnya bisa memakai Rooftop atau teras di samping gedung, atau di atas gedung parkir bisa disulap menjadi taman artificial seperti di Bandung. Mau lebih menguntungkan? Bisa digabungkan dengan kafe tenda atau tenda2 kios atau “Pop Market”

Contoh : Central Park Mal

Menurut saya, ini adalah salah satu Mal yang paling ramai ketika weekend atau hari libur. Cari parkirnya susah pada “peak hours”, bisa setengah jam sendiri, untuk dapat parkir. Padahal tempat parkirnya sudah ribuan.

– Outdoor Activity
Kalau sudah ada taman / ruang terbuka, maka akan cocok sekali jika diadakan aktifitas outdoor.

Yang paling mudah adalah membuat taman bermain untuk anak2. Karena kalau ada anak2, pastilah biasanya ada orang tua dan keluarganya, sehingga menarik lebih banyak orang untuk datang ke Mal. Satu orang anak saja, biasanya sudah ditemani oleh satu orang dewasa. Bayangkan kalau 1 anak membawa seluruh keluarga besarnya…

Alternatif lain adalah dengan menyediakan fasilitas Olah Raga.

Terutama yang tidak biasanya ada di tempat lain / eksklusif.

Contoh : Panjat tebing, arena/lintasan skate, kolam/danau buatan lengkap dengan perahu2nya…
(Danau Buatan ini, bisa berfungsi sebagai penampungan air juga lho…)

– Tematik / Spesialisasi

Buatlah perbedaan dengan Mal2 lainnya.
Buatlah orang hanya mencari Mal Anda, ketika mereka mencari barang/event/kegiatan tertentu.
Tanamkan Image Khusus yang Spesial di benak orang2, sehingga nama Mal Anda adalah yang pertama terlintas di ingatan mereka.
Contoh : Mau beli HP, ya di ITC Roxymas
Mal yang ada Tamannya yang adem : Central Park
(ada beberapa Mal lain yang ada tamannya. Tapi kalau siang/sore, masih panas, karena menhadap Barat / tidak teduh. Sedangkan taman di Mal Central Park dikelilingi oleh Bayangan Mal, Tower-tower apartemen dan Hotel di sekitarnya)

Bagaimana dengan Pusat perbelanjaan Elektronik di Pecinan? Mengapa Sepi?
Padahal sudah “trade mark” sebagai pusat belanja elektronik?
Banyak penyebabnya.

Mulai dari kurangnya pembaharuan, kurang fasilitas/rusak, jorok, sempit, parkir susah, panas, kurang nyaman, harga mahal (harus ditawar dulu) dan harus muter-muter membanding-bandingkan dengan toko-toko lain.

Berbeda dengan belanja Online, yang nyaman, bisa dilakukan di rumah, membandingkan harga dan barang cukup klik2 di Hp, dan bisa mendapatkan harga yang murah dengan mudah.

Oleh karena itu, Mal harus bisa bersaing dengan Media Online.

Mal harus bisa menyediakan yang tidak bisa dilakukan oleh HP.
Yaitu Pengalaman, Aktivitas Outdoor dan Sosial, serta VALUE Over Price.

Dan pastinya, pulikasikanlah melalui: SOCIAL MEDIA !

baca juga: Sensasi & Gaya Hidup Baru

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas