Jokowi: Pandemi Ini Harus Perbaiki Ekosistem Pendidikan Nasional

Presiden RI Joko Widodo saat memberikan sambutan secara virtual launching program Kebijakan Merdeka Belajar episode 6
MATRANEWS.id –– Presiden RI Joko Widodo memberikan sambutan secara virtual launching program Kebijakan Merdeka Belajar episode 6.  Acara dengan tema “Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi”.

“Pandemi dapat menyadarkan, bahwa kita butuh SDM yang mampu beradaptasi cepat untuk bertahan menghadapi kesulitan dan menang dalam persaingan,” tutur Presiden dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, tak boleh surut dan berhenti. “Meski dilanda pandemi Covid-19,” ujar pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961.

Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014 ini memaparkan,  kondisi pandemi dengan segala dampak di setiap sendi kehidupan ini justru menyadarkan semua pihak betapa penting SDM tangguh.

“Kita mampu bergerak dengan cara-cara luar biasa dan beradaptasi menghadapi kesulitan sehingga unggul dalam persaingan,” masih sambutan Presiden pendekatan pemecahan masalah hingga mampu menciptakan dampak positif.

“Tekad membangun Indonesia maju tidak boleh surut, meski kita sedang dilanda pandemi Covid-19. Justru krisis ini menyadarkan kita bahwa memiliki SDM tangguh sangat penting,” ujar Jokowi menegaskan.

“Kita butuh orang-orang yang mampu berpikir dan bertindak dengan cara-cara luar biasa, yang punya kemampuan adaptasi cepat untuk bertahan menghadapi kesulitan, tidak tertinggal, dan menang dalam persaingan,” demikian tutur Presiden.

Salah satunya melalui transformasi pendidikan tinggi agar mampu mencetak lebih banyak lagi talenta yang mampu bersaing di tingkat dunia.

Pandemi ini harus dimanfaatkan untuk memperbaiki ekosistem pendidikan nasional, termasuk pendidikan tinggi.

“Perguruan tinggi harus merelaksasi kurikulum dari kaku menjadi fleksibel dan membuka diri terhadap cara-cara baru. Harus lebih responsif menghadapi tantangan yang ada, (mengubah) dari pendekatan teoritis menjadi pendekatan pemecahan masalah hingga mampu penciptaan dampak positif,” tegas Presiden.

Jokowi memaparkan, dosen yang baik adalah dosen yang memfasilitasi mahasiswanya belajar kepada siapa saja dengan media apa saja.

Perguruan tinggi yang baik adalah perguruan tinggi yang membangun ekosistem merdeka belajar dan memanfaatkan materi dan media belajar yang luas. Kemudian, harus bisa bertransformasi lebih dinamis dan menciptakan terobosan dan membangun iklim kompetisi untuk meningkatkan daya saing.

“Bersinergi dan berkolaborasi dengan BUMN dan industri, untuk mendorong prestasi lebih baik,” pesan Presiden.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, mengatakan Merdeka Belajar Episode Keenam lahir dengan fokus pada pembangunan SDM unggul di jenjang pendidikan tinggi.

Targetnya, perguruan tinggi di Indonesia baik negeri maupun swasta harus bergerak lebih cepat agar dapat bersaing di tingkat dunia.

Saat ini, kata Mendikbud, fokus pengembangan perguruan tinggi bukan hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas.

“Di sisi peningkatan mutu, kita harus menciptakan lulusan yang lebih baik lagi. Di sisi pendanaan per mahasiswa pun, Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain,” kata Nadiem.

Maka, Kemendikbud meningkatkan anggaran dalam konteks kinerja, untuk mencapai mutu yang kita inginkan.

Dana pemerintah untuk pendidikan tinggi berada pada angka Rp2,9 triliun di 2020 dan akan ditingkatkan sebanyak 70% pada 2021 menjadi Rp4,95 triliun,” terang Mendikbud.

Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014 ini memaparkan,  kondisi pandemi dengan segala dampak di setiap sendi kehidupan ini justru menyadarkan semua pihak betapa penting SDM tangguh.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan