EkonomiHukumNasionalPolitik

Aktivis dan Politikus Yang Konsisten Berjuang

82Views

“TNI menjadi kuat karena rakyat didukung rakyat,” ujar Dr Ferry Juliantono, mantan aktivis mahasiswa yang pernah menggerakan dan memimpin aksi demo besar di Tanah Air. Dalam konteks Hari Ulang Tahun TNI, Ferry termasuk rakyat yang mengapresiasi TNI dalam perkembangannya bisa mentransformasi diri di era reformasi dan eksis menjadi TNI yang kuat, profesional dan diapresiasi dunia internasional.

Ferry sendiri, dikenal sebagai sosok yang “bersentuhan” dengan polisi dan tentara di tahun 1993. Ia pernah ditahan oleh Rezim Orde Baru, karena kenekatannya melakukan aksi menentang pencalonan kembali Presiden Soeharto saat itu. Sejak mahasiswa, dia juga tercatat sebagai aktivis di kampusnya-Universitas Padjajaran Bandung (Unpad).

Pria kelahiran 1967 ini, termasuk mahasiswa yang berani menentang larangan aksi mahasiswa di luar kampus melalui pemberlakuan Normalisasi kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membekukan Dewan Mahasiswa. Bahkan saat itu, Ferry malah sering melakukan aksi dan gerakan ke luar kampus, menggerakan demo menyuarakan kepentingan masyarakat petani.

Di antaranya membela hak-hak petani mempertahankan lahan, melawan pemerintah dan kepentingan bisnis di Badega, Ujung Genteng, Cimacan-Jawa Barat dan daerah lainnya. Ia juga pernah jauh-jauh membela dan memberi advokasi masyarakat petani saat menghadapi kasus pembangunan Waduk Kedung Ombo di Boyolali, Jawa Tengah.

“Kebenaran dan idealisme itu terus ada hingga kini, bukan hanya ada di dalam sanubari tapi harus menjadi bagian dan setiap langkah kegiatan hidup kita,” ujar aktivis Pro Demokrasi ProDem ini.

Dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan Aktivis ProDem, yang mengorganisir wadah perkumpulan aktivis Pro Demokrasi Indonesia tahun 80-an sampai dengan Reformasi untuk terus memperjuangkan demokratisasi di Tanah Air.

Ferry juga menjadi salah satu tokoh yang selalu gigih menentang setiap ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sejak kejatuhan Orde Baru, aktivitasnya sebagai aktivis dan pegiat sosial kemasyarakatan, tetap tak pernah surut.

Ada periode, di saat ekonomi sulit tahun 2008, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ia juga keras menyuarakan kritiknya kepada
pemerintah. Tanggal 25 April 2008, Ferry bersama Dr. Rizal Ramli menggagas pertemuan Nasional Pemuda, Mahasiswa dan Aktivitas Pergerakan di Indonesia yang dihadiri ratusan perwakilan dari seluruh Indonesia.

Dari situlah Ferry mendapat dukungan dan mendapat masukan tentang penderitaan rakyat yang ada di daerah-daerah akibat ekonomi sulit. Akhirnya pada 12 Mei 2008, dia ikut menggerakan aksi dan memimpin demonstrasi menentang rencena kenaikan harga BBM yang dihadiri ribuan massa di Jakarta hingga mampu menggerakan aksi demo serupa di kota-kota lain.

Pada tanggal 20 Mei 2008 bertepatan dengan 100 Tahun Kebangkitan Indonesia dan 10 Tahun Era Reformasi, kembali digelar aksi demo damai di depan Istana Negara Jakarta yang diikuti puluhah ribu massa. Beberapa hari kemudian, terjadi aksi di sejumlah kampus, salah satunya di Universitas
Nasional Jakarta yang saat itu terjadi penyerbuan polisi ke dalam kampus hingga menimbulkan korban jiwa.

Dari rentetan aksi ini, Ferry Juliantono akhirnya ditangkap, karena ia dituduh mendalangi aksi demonstrasi besar tersebut hingga akhirnya harus mendekam dalam tahanan Mabes Polri karena divonis (1) tahun penjara. Setahun kemudian (2009), dia kembali bisa menghirup udara bebas, keluar tahanan meski setelah itu masih harus menjalani masa tahan kota selama 2 tahun.

Tapi, kesempatan itu justru ia manfaatkan meneruskan studi S2 di Universitas Indonesia dengan mengangkat Tesis “WTO dan Pengaruhnya Terhadap Pertanian di Indonesia”. Ia juga menyelesaikan program Doktor di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia.

Meski harus menelan pengalaman pahit, menjadi penghuni rumah tahanan, namun hal ini tak membuatnya jera.

Darah pergerakan dan jiwa sebagai pejuang untuk rakyat, keadilan dan kebenaran, tetap tak pernah pudar. Dia tetap konsisten menyuarakan kritik atas ketidakadilan dan membela hak-hak rakyat. Konsistensi sikap inilah yang membuatnya kerap didekati partai politik yang mengajaknya untuk bergabung.

Mengantongi jam terbang tinggi sebagai aktivis dan pengiat sosial kemasyarakatan, kian membuatnya matang dalam menapaki lika liku dunia sosial kemasyarakatan dan politis di Tanah Air. Selain mendirikan beberapa organisasi kemasyarakatan sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi dan aktivitas sosial, sejak beberapa tahun lalu, dia memilih bergabung dengan Partai Gerindra.

Belakangan kiprah dan namanya makin melejit karena ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum (Waketum) Bidang Penggalangan Massa di Partai berlambang Burung Garuda tersebut. Dengan posisinya ini, ia kerap keliling ke berbagai daerah mewakili Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Partai Gerindra untuk menghadiri bebagai acara penting di berbagai daerah.

Tak pelak jika sosok dan figurnya makin di kenal luas. Bahkan belakangan, namanya santer disebut dan kerap muncul di berbagai media, termasuk cover majalah eksekutif edisi Oktober 2017, karena Ferry termasuk sosok yang banyak dijagokan untuk ikut perhelatan dalam Pilihan Gubernur Jawa Tengah.

Meski masih menunggu keputusan resmi dari partainya, namun banyaknya dukungan dari berbagai elemen maupun tokoh masyarakat Jateng, hal ini membuat Ferry semakin serius menanggapi permintaan itu.

“Saya tidak ambisi, tetapi dengan banyaknya dukungan ini juga membuat saya makin serius. Ya, … mudah-mudahan ini bisa menjadi jalan buat saya untuk bisa mengabdi dan berjuang membantu masyarakat luas yang memang sudah menjadi tekad besar saya sejak dulu yang juga sudah saya lakukan selama ini,” ujar Ferry J. Juliantono.

Selanjutnya baca: JIka kehabisan edisi cetak, klik ini saja

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas