EkonomiHukumNasional

Anies Baswedan Heran, Ketika Papan Tulis Sempat Tak Ada Di Balai Kota

301Views

Gubernur DKI ditemani staf khusus Naufal Firman Yursak menerima Pemimpin Redaksi majalah Eksekutif dan MATRA

“Seperti dilempar tusuk gigi,” ujar Anies Rasyid Baswedan, Gubernur mengibaratkan dirinya di-bully oleh warganet adalah, bagian dari masyarakat yang peduli dan cinta akan Jakarta untuk lebih baik.

“Geli-geli, gimana gitu. Ha-ha-ha,” ia berujar dalam silaturahmi Majalah MATRA dan Eksekutif yang ditemani Naufal Firman Yursak, Staf Khusus Gubernur bidang media massa di Balai Kota, Jakarta.

Anies memberikan cerita, ketika masa kampanye justru lebih parah. “Kritik atau pelintiran di media sosial, seperti diberondong mesiu. Ha-ha-ha.”

Bagi Anies, ia akan terus bekerja, seperti halnya ketika menjadi bagian dari kabinet. “Kerja-kerja-kerja, bukan untuk tidak di-bully, akan tetapi dicatat oleh sejarahwan masa datang. Apa saja yang telah dihasilkan,” ujar suami dari Fery Farhati Ganis, S.Psi, M.Sc ini.

Sembari bercerita soal program-program yang tengah dipersiapkan. Walau banyak yang masih off the record, tapi berjanji untuk melanjutkan, apa yang baik dari gubernur-gubernur sebelumnya untuk diteruskan.

“Niat kami tulus, menyerap aspirasi dan mencari solusi mengenai permasalahan di Jakarta,” ujar Anies, termasuk konsepnya membereskan kemiskinan di Jakarta. Karena kemiskinan itu bisa menjadi sumber perpecahan.

“Yang ini tidak off the record,” ujar pria kelahiran 7 Mei 1969 ini bercanda. Bahwa di Balai Kota sempat, tidak ada papan tulis putih (white board). Sehingga yang terjadi adalah selalu perintah, mencari salah dan membesarkan masalah sebagai trending topic.

“Kami sekarang tidak ingin lagi menjual masalah, tapi interaksi agar terjadi solusi,” papar Ph.D yang seorang akademisi pendidikan Indonesia dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Jokowi.

Niat luhur Anies pun merasa perlu mengajak semua orang terlibat. Hal ini ketika ia merintis “Gerakan Indonesia Mengajar”. Mantan rektor Universitas Paramadhina sebagai rektor termuda di Indonesia pada usia 38 tahun ini menyebut, papan tulis bagian dari merawat tenun kebangsaan.

Dengan papan tulis yang kini sudah ada hingga ke SKPD dan kelurahan agar terjadi interaksi saat rapat. Anies menyebut interaksi rapat tidak lagi satu arah, perintah, tapi menjadi diskusi.

Ayah dari Ismail Hakim, Mikail Azizi serta Kaisar Hakam dan Mutiara Annisa ini menyebut, setiap generasi mewakil zamannya. “Kalau buruh, ya harus keras, suaranya harus nyaring, agar dikutip media,” ujar Anies.

Sementara generasi yang lahir dan tumbuh dalam milenial atau gen Y, salah satu tipikal generasi ini memang sulit diatur atau tidak bisa dikendalikan seniornya (baby boomers).

“Ini tentu menjadi tantangan tersendiri, karena pemimpin kita rata-rata generasi X,” pungkas Anies yang sedang terus jalin terkoneksi dengan banyak lini untuk memahami “bahasa” generasi milenial, generasi yang lahir 1980-2000.

“Saya juga tertarik berbicara dengan Asosiasi Media Digital, yang anggotanya selain pemilik media digital, juga para motivator dan para penulis buku di media digital. Orang-orang yang berpikir positif untuk bangsa ini, karena sikap dan perilaku positif memang harus ditularkan,” papar Anies panjang lebar.

baca juga: Wawancara Panjang Anies Baswedan di Majalah Eksekutif

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »