Selasa, Agustus 20, 2019
Hotline Kerjasama-Iklan 0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
Gaya HidupHiburan KekinianHukumKepolisianNasional

Lebih Jauh Soal Artis Kena Narkotika dan Hak Asasi Manusia

Dibalik Berita Viral, Rehabilitasi atau Penjara?

Bersama aktivis LSM Anti Narkoba, Asri Hadi dan S.S Budi Rahardjo, usai pendaftaraan ke KPK.
1.21KViews

DR Anang Iskandar, SIK, SH, MH.
Dosen Trisakti (KA BNN 2012 -2015. KABARESKRIM 2015-2016)

Masuk dalam jajaran kandidat Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Polisi ini banyak pengalaman dalam pendidikan kepolisian.

Sempat viral dalam sebuah tulisan di media massa, saat ia menjabat orang nomer satu di BNN dan mendapat anugerah MATRA Award. Anak tukang cukur, yang menjadi jenderal.

Mantan Kepala BNN dan juga Kabareskrim Polri ini sekarang aktif menulis di medsos, selain menjadi dosen di Trisakti.

Sosok kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958 ini terus mengamati dinamika, lewat jalur zaman now.

Eranya ketika ia sempat belajar memangkas potong rambut, memang jauh berbeda sekali dengan percakapan atau conversation di medsos. Tapi, Anang gaul.

Karena kenyataannya, peran media social menjadi komunikasi yang efektif. Twiiter, Facebook dan blog telah menjadi alat komunikasi untuk mem-viralkan.

Putera dari pasangan Suyitno Kamari Jaya dan Raunah ini, ayahnya berprofesi sebagai tukang potong rambut.

Anang Iskandar menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya. Ia sekolah di SDN 6 Balonggari, Mojokerto, SMPN 2 Mojokerto, dan SMA TNH Mojokerto.

Saat di SMA, Anang juga juga belajar fotografi dengan seorang guru bernama Jacob Frehadi yang merupakan gurunya saat di SMP.

Selain itu, Anang juga belajar memangkas rambut dari ayahnya. Ayahnya menjadi tukang cukur hingga akhir hayatnya. Ia kadang menjadi tukang cukur untuk teman-temannya dan adik kelasnya di sekolah.

Setelah lulus SMA, Anang mengaku, sempat kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena ayahnya terkendala biaya sebagai tukang cukur.

Untuk tetap memupuk semangat sekolahnya, Anang mencoba ikut test masuk perguruan tinggi yang gratis.

Anang Iskandar mengikuti tes seleksi masuk AKABRI.

Puji Tuhan, Anang dinyatakan lulus dan berhak untuk belajar di AKABRI. Padahal sebelumnya ayahnya sempat pesimistis karena yang bisa masuk biasanya anak-anak jenderal dan orang kaya.

Anang membuktikan bisa dan lulus AKABRI Kepolisian pada tahun 1982.

Setelah lulus, Anang Iskandar mendapat tugas di Bali. Ia menjabat Wakapolsek Depansar Kota, lalu ia bergeser menjadi Kapolsek Denpasar Selatan. Setelah bertugas lebih dari satu tahun, ia pindah menjadi Kapolsek Kuta.

Puncak tugasnya di Bali, ia diberi tanggung jawab baru menjadi Komandan KP3 Bali International Airport Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Sukses di Bali, Anang ditarik ke Jakarta. Polda Metro Jaya menempatkan Anang menjadi Kasat Serse Polres Tangerang.

Menjadi petugas yang berprinsip, tugasnya terus berpindah tempat di wilayah ibu kota.

Ia ditunjuk menjadi Kapolsek Metro Pancoran, lalu ditarik ke Reserse Polda Metro sebagai Ka. Unit Vice Control, hingga bertugas lagi sebagai Kapolsek Taman Sari Polres, Jakarta Barat.

Setelah berkecimpung lama bertugas di teritorial, Anang pindah menjadi Paban muda Binkar Spers ABRI dan Anang Iskandar juga mendapat kesempatan untuk mengikuti Sespim Polri dan lulus Tahun 1997.

Pernah ditempatkan di Polda Bengkulu sebagai Sesdit Bimmas dan kembali lagi menjadi Paban Madya Binkar Spers ABRI di Cilangkap.

Anang pertama kali memegang tongkat komando kepolisian sebagai Kapolres Blitar. Karier komandonya terus berjalan. Dia dimutasi menjadi Kapolres Kediri.

Setahun menjadi Kapolres Kediri, Anang kembali ditarik ke bidang pendidikan. Ia pindah tugas menjadi kepala sekolah Polisi Negara Bangsal di Mojokerto.

Anang Iskandar juga dipromosikan menjadi Kepala SPN Lido Polda Metro Jaya. Setelah kembali ke Jakarta, ia dipercaya menjadi Kapolres Metropolitan Jakarta Timur.

Kariernya terus naik.

Pada tahun 2006, ia dilantik sebagai Kapolwiltabes Surabaya, Jawa Timur. Dia memiliki tugas khusus untuk memberantas perjudian, narkotika, dan ilegal loging.

Setelah sukses selama dua tahun, ia dipindah menjadi Kapus Cegah Lakhar Badan Narkotika Nasional (BNN).

Tugasnya untuk mengimunisasi masyarakat agar tidak terkontaminasi narkoba dan ia mendapatkan anugerah Jenderal Bintang Satu.

Naik menjadi Direktur Advokasi Deputi pencegahan BNN. Setelah tiga tahun di BNN, pada tahun 2011, ia menjabat sebagai Kapolda Jambi.

Setahun kemudian, pada tahun 2012, ia ditarik ke Mabes Polri.

Ia diangkat menjadi Kadiv. Humas Polri.

Tak lama setelah itu, pada tahun yang sama, Anang Iskandar dilantik menjadi Kepala BNN. Setelah tiga tahun menjadi nomor satu di BNN, jenderal bintang tiga ini mendapat tugas baru.

Pada tahun 2015, ia ditarik ke Trunojoyo 1 untuk menjadi Kabareskrim Polri. Ia menggantikan Komjen Budi Waseso yang digeser menjadi Kepala BNN menggantikan posisinya.

Tak lama bertugas di Bareskrim Polri, ia digantikan Ari Dono pada 27 Mei 2016, karena masuk masa pensiun.

Sekarang, Anang menjadi dosen dan pengamat gaya hidup.

—————–

Saat Anang Menerima Matra Award, diserahkan oleh Pemred Majalah Matra, beberapa waktu lalu.

KELUARGA
Ayah : Suyitno Kamari Jaya
Ibu : Raunah

PENDIDIKAN
SD Negri 6 Balonggari Mojokerto
SMP Negri 2 Mojokerto
SMA TNH Mojokerto
S1 FH Pancasila, Jakarta
S2 Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus Surabaya.
S3 Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti.

————————————————————————–

Bagaimana Anda melihat fenomena artis yang terjerembab ke narkoba?

Begitulah, banyak artis terkenal yang bermasalah dengan narkotika. Tak hanya Indonesia, sebut saja, Whitney Houston , Michael Jackson, mereka adalah penyalah guna narkotika yang momentum berita kematiannya menghebohkan dunia.

Jadi, benar dong bahwa banyak artis penyalahguna saat ini, yang dalam perawatan rehabilitasi?

Benar, mereka sedang berjuang untuk sembuh melawan penyakit adiksi narkotika serta dampak buruk akibat penyalahgunaannya.

Secara fisik mereka masih dapat melakukan aktifitas keartisannya namun secara mental mereka sakit jiwanya.

Artis itu, ditangkap penegak hukum dan dipaksa direhabilitasi?

Ya, seperti John Lenon, Bob Marley, donovan karena kepemilikan narkotika. Sedangkan artis Williams, justru dijebloskan ke penjara karena bertindak selaku pengedar.

Sebagai public figure nilai beritanya sangat tinggi, apalagi artis bermasalah dengan narkotika meskipun perannya sebatas penyalah guna maka beritanya akan dijadikan referensi oleh masarakat

Demikian pula artis narkotika yang banyak tertangkap di Indonesia?

Ini yang mau saya kasih gambaran, bahwa beberapa saat yang lalu umumnya sebagai penyalah guna (bedakan penyalah guna dengan pengedar) mereka adalah artis sakit.

Maksudnya?

Dengan kondisi fisik yang relatif bugar dapat beraktifitas secara wajar. Namun, dibalik itu, jiwanya sakit adiksi narkotika yaitu sakit ketergantungan narkotika.

Dimana, fisik dan psyikisnya menagih narkotika setiap saat. Terapinya masuk pada wilayah kesehatan jiwa. Artis sakit ini, tidak memiliki kamus efek jera karena jiwanya agak terganggu.

Artis sakit ini menurut undang-undang, gimana?

Menurut Undang-undang yang berlaku, dikategorikan sebagai artis yang menggunakan narkotika tanpa hak dan melawan hukum. Oleh undang undang, disebut penyalahguna.

Mereka, diancam hukuman penjara kurang dari lima tahun, sehingga tidak memenuhi sarat untuk ditahan. Mereka dijamin undang undang narkotika untuk direhabilitasi.

Kok?

Kalau penyalah guna ini dimintakan visum/ diasesmen oleh penyidik maka penyalah guna berubah status hukum menjadi pecandu.

Artis pecandu ini, yang merupakan metamorpose dari penyalahguna menurut undang undang wajib direhabilitasi, dan menjadi tanggung jawab negara. Itu sebabnya, dibentuk BNN dan ada nomenklatur Deputi Rehabilitasi.

Rehabilitasi ditanggung Negara?

Upaya rehabilitasi dapat dilakukan melalui: Rehabilitasi secara mandiri atas beaya keluarganya. Rehabilitasi dipaksa undang-undang melalui Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang dilaksanakan oleh Kemenkes, Kemensos dan BNN dibiayai oleh APBN.

Rehabilitasi dipaksa penegak hukum, melalui penempatan di lembaga rehabilitasi sejak penyidikan, penuntutan sampai putusan hakim dibiayai oleh APBN.

Ini yang dikritisi oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat. Kok, rehabilitasi menjadi ajang cari uang, atau surat keterangan untuk rehabilitasi di manfaatkan “oknum”?

Tugas kita membenarkan, yang salah.

Kesannya, enak banget, dia yang penyalahguna, tapi menghabiskan uang dari pajak masyarakat dari APBN?

Dalam penanganan dan pemberitaan artis atau pesohor yang menggunakan narkotika tanpa hak dan melanggar hukum, dengan diberikan penahanan dan hukuman penjara yang seharusnya direhabilitasi seperti selama ini lumrah terjadi, menyebabkan runyamnya penyelesaian narkotika di Indonesia.

Hal ini disebabkan penanganan dan pemberitaannya seakan akan benar menurut hukum dan bisa menyelesaikan masalah narkotika di Indonesia.

Ok, bagaimana Trend perkembangan penyalah guna narkotika?

Secara khusus penelitian terhadap penyalahgunaan narkotika di kalangan artis atau pesohor belum pernah dilakukan.

Namun, secara umum telah dilakukan penelitian oleh BNN dan Puslitkes UI yang dilakukan setiap dua tahun sekali dimana hasilnya menunjukan jumlah penyalah guna narkotika dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang signifikan.

Dari awal dilakukan penelitian BNN jumlahnya 1,5 juta yang sekarang ini sudah mencapai 5,8 juta.

Apa arti semua ini bagi kita ?

Selaras dengan hasil penelitian narkotika tersebut di atas, artis / pesohor yang bermasalah dengan penyalahgunaan narkotika di Indonesia jumlahnya cukup banyak.

Perkembangannya mengikuti deret hitung, jaman now perkembangannya sudah memasuki deret ukur banyak artis yang ditangkap dan dibawa ke pengadilan.

Pada titik ini saya memberikan apresiasi kepada penyidik karena prestasinya. Tetapi, kalau penanganan selanjutnya dilakukan secara konvensional, ditahan oleh penyidik dan jaksa dan dipenjara oleh hakim maka bisa membawa Indonesia masuk ke dalam “bencana” narkotika yang saat ini laju perkembangannya sudah memasuki tahap “darurat” narkotika .

Jadi, gimana dong?

Penyalah guna (drug user) berdasarkan konvensi internasional dan undang narkotika kita wajib dijebloskan ke tempat rehabilitasi tanpa babibu sesuai kewenangan yang diberikan oleh undang undang kepada penegak hukum.

Penyidik, penuntuk umum diberikan kewenangan menjebloskan penyalah guna ke tempat rehabilitasi. Hakim juga diberi kewenangan memvonis hukuman rehabilitasi baik terbukti salah maupun tidak terbukti salah dalam sidang pengadilan secara terbuka.

Masih berdasarkan undang narkotika bahwa rehabilitasi itu hukuman dimana hukuman rehabilitasi itu secara yuridis sama dengan hukuman penjara.

Menurut penelitian singkat saya, bagi penyalahguna narkotika hukuman rehabilitasi jauh lebih berat rasanya dibanding hukuman penjara. Pada point ini banyak masyarakat yang tidak memahami.

Menurut literatur dan hasil penelitian para ahli?

Ya, bahwa hukuman rehabilitasi jauh lebih baik dari pada hukuman penjara karena: Pertama, hukuman rehabiliatasi terasa lebih berat dan bersifat menyembuhkan, dipenjara hanya dapat nestapa dan melangengkan sakit ketergantunganya karena lapas tidak memiliki tupoksi rehabilitasi.

Kedua?
Menghukum penyalah guna dengan hukuman penjara menyebabkan penyalahguna jumlahnya makin lama makin bertambah banyak karena penyalah guna lama tidak di pulihkan sementara timbul penyalah guna baru .

Oke, yang ketiga?
Bandar narkoba dunia melirik indonesia karena pangsa pasarnya sangat besar. Dan yang keempat, tidak ada gunanya menghukum penjara orang kecanduan bahkan dapat dikatakan menghambur-hamburkan sumber daya penegakan hukum.

Melanggar hak asasi manusia enggak?
Artis menggunakan narkotika secara tidak sah dan melanggar hukum itu, apabila ditangkap selanjutnya tidak dijebloskan ke tempat rehab.

Maksudnya?
Dihukum penjara adalah bentuk tindakan penegakan hukum yang bertentangan dengan maksud undang undang narkotika dan tidak menghormati hak asasi manusia dalam upaya mendapatkan derajat kesehatan yang diperjuangkan pemerintah

Di sisi lain di luar artis ada jutaan keluarga Indonesia pengguna narkotika secara illegal/tidak sah dan melanggar hukum, yang dihantui rasa ketakutan karena takut ditangkap oleh penegak hukum dan dijebloskan ketahanan atau penjara mengalahkan upaya rasional mereka guna mendapatkan hak rehabilitasi untuk sehat sebagai elemen penting dalam hak asasi manusia.

Akibat salah kaprah dalam penanganan narkotika menyebabkan mereka menjadi kesulitan untuk mendapatkan akses untuk pulih, dampaknya mereka sepanjang hidupnya menjadi demannya peredaraan narkotika.

Dampaknya apa?

Seorang penyalah guna dalam perjalanan hidupnya akan bermetamorpose menjadi pencandu.

Pecandu yang tidak mendapatkan pertolongan dalam bentuk rehabilitasi berpotensi berdampak buruk dan rentan kejangkitan penyakit ikutan seperti gangguan fungsi metabolesme, gangguan penyakit lever, hepatitis, ginjal maupun terjangkit HIV AID.

Fenomena artis narkotika bagaimana dong?

Narkotika adalah “obat” bermanfat untuk menghilangkan rasa sakit sekaligus dapat menimbulkan penyakit adiksi / ketergantungan narkotika apabila pemakaiannya tidak atas petunjuk dokter.

Effek ganda narkotika ini, yang menyebabkan penyalahgunaan narkotika dilarang bahkan diancam pidana dengan tujuan agar masyarakat termasuk artis atau pesohor takut dan tidak menyalahgunakan narkotika.

Menurut undang undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika dalam menangani penyalah guna narkotika menggunakan kontruksi ancaman pidana melalui sistem peradilan pidana.

Namun ketika penyalah guna bermasalah dengan hukum maka penegak hukum wajib menerapkan sistem peradilan rehabilitasi sejak disidik, dituntut sampai diadili.

Mengapa demikian?
Karena undang undang narkotika menganut double track system pemidanaan. Dimana penyalah gunanya di proses melalui sistem peradilan pidana rehabilitasi berakhir di lembaga rehabilitasi. Sedangkan pengedarnya, diproses dengan sistem peradilan pidana berakhir hukuman penjara.

Pada point ini, masyarakat hukum kita tidak mempelajari maksud dan tujuan undang undang secara detail dan mengangap undang undangnya yang salah.

Fenomena manfaat dan mudaratnya narkotika yang tidak difahami oleh para artis /pesohor secara tidak lengkap, mereka tahunya hanya manfaat dari narkotika yaitu menghilangkan rasa sakit dan dapat menstimulan aktifitas keartisannya.

Mereka tidak memahami mudaratnya yaitu sakit adiksi berkepanjangan dan tidak bisa berhenti atas inisiatif sendiri, ini sangat merugikan bagi masa depan kesehatan artis itu sendiri, keluarga, bangsa dan negara.

Bagaimana artis yang juga menjadi pengedar?

Artis/ pesohor yang membeli, membawa, memiliki narkotika dalam jumlah tertentu (sedikit) untuk dikonsumsi sendiri dan temen-teman dalam pesta narkotika bukan penjahat murni.

Menurut victimologi adalah korban kejahatan para pengedar narkotika, yang oleh undang-undang dikriminalkan sebagai penyalah guna untuk diri sendiri. Namun, dibedakan proses pertanggungan jawab pidananya maupun penjatuhan sangsinya.

Karena apa?

Mereka tidak memiliki niat jahat, mereka membeli, memiliki narkotika hanya karena tuntutan penyakit kecanduannya. Mereka beli, tidak untuk dijual, guna mendapatkan keuntungan.

Yang dirugikan, artis itu sendiri, mereka hanya mendholimi diri sendiri, namun secara yuridis mereka pelanggar hukum.

Anda empati pada humanisme ya?
Artis sakit adiksi narkotika itu umumnya disebabkan karena salah pergaulan. Mereka diajak teman deket untuk menjadi penyalah guna narkotika.

Mereka untuk pertama kali menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya dirayu, ditipu dengan segala macam iming iming dengan segala “kenikmatan” narkotika oleh temen deketnya.

Bahkan, ada yang dipaksa.

Sesungguhnya mereka adalah korban penyalahgunaan narkotika yang secara teknis yuridis harus digali oleh penegak hukum karena korban penyalah guna narkotika itu wajib direhabilitasi.

Itu sebabnya kalau penyidik penuntut umum menahan penyalah guna dan hakim menghukum penjara dalam proses pertanggungan jawab hukum, masuk dikatagori melanggar hak asasi manusia?

Ya, karena menahan tersangka penyalahguna tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berbeda terhadap artis atau pesohor yang membeli narkotika dalam jumlah tertentu (banyak) untuk dijual agar mendapatkan keuntungan yang demikian digolongkan sebagai pengedar.

Mereka yang harus dihukum berat. Mereka mempunyai niat jahat mencari keuntungan untuk memperkaya diri dan menjerumuskan penyalah gunanya kedalam masalah adiksi , artis pengedar ini yang harus dihukum berat.


Harapan Anda apa?

Pada akhirnya kita berharap Indonesia dapat menyelesaikan masalah narkotika dengan baik sesuai undang undang no 35 tahun 2009.

Dimana undang undang narkotika ini sangat up to date (meskipun ada kekurangannya) karena mengakomodasi tiga pilar utama cara penyelesaian masalah narkotika yang harus dilakukan secara seimbang.

Pertama?

Terhadap penyalah guna narkotika harus didorong, dipaksa dan ditangkapi untuk dijebloskan ke tempat rehabilitasi agar tidak jadi pecandu/ demand.

Kedua?

Terhadap pengedarnya tidak hanya diberikan hukuman berat seperti hukuman penjara seumur hidup atau pidana mati tapi juga harus dikenakan tindak pidana pencucian uang serta di putus jaringan komunikasi bisnisnya selama menjalani hukuman dilapas agar tidak jadi pengedar lagi/ jera.

Ketiga?

Terhadap masyarakat khususnya remaja yang belum terlibat narkotika dibentengi dengan langkah pencegahan agar tidak jadi embrio-nya penyalah guna yang punya sifat kecanduan.

Kongkritnya seperti apa?

Pada titik ini, masyarakat hukum dan penegak hukumnya harus memilah dan mengawasi. Mana pelaku yang dikatagorikan sebagai pengedar yang harus penjara.

Kita perlu pilah, mana pelaku yang dikatagorikan penyalah guna yang harus ditempatkan di lembaga rehabilitasi sebagai bentuk hukuman sejak proses penyidikan, penuntutan, peradilan dan penjatuhan hukuman.

Kalau tidak, jangan mengharapkan penyalah gunaan dan peredaran narkotikanya menurun apalagi berharap indonesia bebas dari penyalahgunaan narkotika.

————————

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »