InternasionalNasional

Berjalan Di Belakangnya

Berjalan di belakangnya membuatku tahu, sesungguhnya ia benar-benar ingin membahagiakan rakyat. Melalui pembangunan. Melalui kunjungan. Melalui kewajaran sikap dan perhatian.
268Views

MATRANEWS.id — Oleh: Alberthiene Endah

Sehabis makan malam, Pak Jokowi mendadak ajak ke Mal Panakukang. Dua jam yang dahsyat dan mengesankan. Aku berada persis di belakang punggungnya dan menyaksikan sesuatu yang luar biasa.

Berjalan di belakangnya membuatku makin tahu, ia lebih dari magnit.

Puluhan massa membelalak kaget melihatnya muncul di mal. Puluhan orang itu kemudian berkembang jadi ratusan, lalu ribuan, lalu menjadi kepungan padat massa.

Ia tersenyum hangat dan tenang. Pancaran sejuk jiwanya membuat massa berseru-seru. “Pak Jokowi we love youuuu!”

Berjalan di belakangnya membuatku tahu, ia sadar kehadirannya yang mendadak di mal sesungguhnya mengundang risiko keamanan bagi dirinya. Namun, ia lebih yakin lagi bahwa rakyat tahu ia mencintai mereka.

Atas dasar cinta…ia tahu pasti kepungan massa itu akan aman. Karena ia dan rakyat sama-sama merindukan.

Berjalan di belakangnya membuatku tahu bahwa yang dirindukan rakyat dari seorang Presiden adalah sapaan hangat dan tulus.

Tak perlu jas mentereng dan suasana seremonial. Cukup tshirt, celana denim, sepatu kets dan kehangatan yang jujur.

Rakyat terkesima merasakan tatapan dan sentuhan tangan Presiden sungguh ada di dekat mereka.

Berjalan di belakangnya membuatku tahu, sesungguhnya ia benar-benar ingin membahagiakan rakyat. Melalui pembangunan. Melalui kunjungan. Melalui kewajaran sikap dan perhatian.

Terlihat betapa rakyat mencintainya.

Dalam perjalanan pulang ke hotel aku duduk di sebelah Pak Moeldoko, Kepala Staf Presiden.

Ia mengatakan, “Beginilah yang terjadi setiap Pak Jokowi ke daerah. Massa membludak dan merubung. Dan Pak Jokowi selalu hangat, sabar dan tak berhitung waktu untuk memenuhi permintaan foto bareng atau salaman. Ia presiden yang berjiwa melayani.”

baca juga: majalah MATRA cetak (print) klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »