Kolom  

Bukber Satupena Merajut Makna, repost Hariankami.com

Oleh: Swary Utami Dewi (Wasekjen Satupena)

MATRANEWS.id Tulisan ini “subyektivitas” saya. Yang mau saya katakan, acara buka bersama (bukber) Satupena dengan pengurus dan anggota Satupena, beserta penggiat literasi lainnya mampu menampilkan suasana berbeda nan membawa bahagia.

Kamis, 6 April 2033, acara bukber itu digelar di suatu tempat di Cikini, Jakarta.

Tamu pertama datang paling awal, Prof. Alimatul Qibtiyah. Lalu berdatangan Asri Hadi, Prof Didin S. Damanhuri, dan sebagainya.

Tepat 16.30 acara dimulai.

Beberapa lagu manis dipersembahkan, lalu tarian sufi Jalaluddin Rumi. Tari ini begitu memukau. Sang penari akan berputar terus selama beberapa menit tanpa henti.

Beberapa sahabat yang duduk di dekatku berbisik, duh pusingkah penarinya?

Penari lelaki berbaju warna toska terang ini berputar terus mengiringi lagu, seakan tidak peduli pada yang hadir.

Tangan kanan agak ke atas, tangan kiri cenderung ke bawah. Berputarlah terus ia. Khusu” dan fokus. Cara meditasi ini membuatnya ada dalam kesadaran penuh dan konsentrasi total.

Baju bagian bawah, yang lebih mirip jubah panjang, saat mengikuti gerakan tubuh membentuk lekukan indah.

Kita seakan terhipnotis mengikuti putaran itu. Sekitar lima menit durasi tarian tersebut menyihir– tarian yang merupakan meditasi aktif para sufi, utamanya dari Ordo Dervish dan Mevlevi Sufi. Dan mulailah acara buka puasa ini dengan berbagai wacana menarik.

Bukan Denny JA namanya jika tidak menampilkan ide baru yang sering menyentak. Kali ini juga demikian.

Ketua Umum Satupena tersebut mengatakan robot dengan artificial intelligence (AI) pun kini sudah menjadi penceramah agama. Sebuah kuil Budha di Kyoto, Koidaji Temple, telah melakukan hal ini.

Denny JA menceritakan, “Penganut Budha di sana diam tafakur mendengarkan khotbah biksu. Sang biksu begitu fasih mengutip ayat kitab suci dan hikmah hidup. Tapi biksu ini bukan manusia.

Ia adalah sosok robot dengan artificial intelligence.”

Fenomena tersebut diberitakan oleh CNN pada 2019. Sang robot biksu berteknologi AI ini begitu fasih mengutip ayat kitab suci dan menguraikan hikmahnya, sementara para penganut Buddha di sana diam tafakur mendengarkan khotbah. Menarik.

Bayangkan, AI bahkan sudah bisa mengambil alih peran pemuka agama.

Ada apa dengan kita manusia?

Apa yang secara hakiki dibutuhkan manusia? Tetap jawabnya, manusia selalu memerlukan oase spiritualitas. Dan oase itu ternyata bisa berkembang atau diadapasi sesuai perkembangan zaman.

Tapi bagaimana dengan yang “old-fashioned” atau tetap pada tradisi? Tentu saja itu tetap ada. Dan ini ditampilkan oleh Satupena melalui tausiah Prof. Didin Damanhuri jelang buka puasa.

Judulnya “Sholat dan Korupsi”. Anggota Dewan Penasihat Satupena ini menekankan bahwa sholat yang merupakan ibadah personal manusia dengan Allah ini seharusnya dan sejatinya berdampak pada perilaku sehari-hari.

Sholat lima waktu semestinya menjadikan manusia dapat menghindarkan diri dari berbagai tindakan penyelewengan. Ironis mendapati kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbesar di dunia masih masuk negara yang indeks korupsinya rendah di dunia.

Ada apa dengan ibadah kita?

Nyata, bukber Satupena ini memang lain dari yang lain. Banyak penulis terkenal, tokoh media, akademisi, budayawan dan sahabat dari berbagai latar belakang datang.

Ada hampir 60 orang yang hadir. Di antaranya, Gemala Hatta, Ilham Bintang, Nasir Tamara, Prof. Alimatul Qibtiyah, Prof. Musdah Mulia, Prof. Didin S. Damanhuri, Cita Soegomo, Wina Armada, Prof. Bachtiar Aly, Jose Rizal dan Prof. Ahmad Najib Burhani.

Prof. Musdah Mulia, tokoh feminis muslim Indonesia, memimpin doa agar apa yang dilakukan Satupena membawa berkah.

Bergantian para tokoh literasi ini memberikan kesaksian, puisi, nyanyian dan apa yang bisa menjadikan semua merasa bahagia dan bermakna menjadi kerabat Satupena.

Ilham Bintang, tokoh media terkemuka Indonesia, mengajak semua hadirin mensyukuri berkah Ramadan, dengan menyampaikan pujian kepada Allah Swt. “Kita kembali menikmati kemerdekaan setelah tiga tahun dijajah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Dan inilah salah satu cara komunitas Satupena mensyukuri nikmat, melalui Bukber Satupena untuk Merajut Makna.

BACA JUGATarik Menarik Konsep Perpres Publisher Right: Kepentingan Pers Kapitalis VS Pers Startup Media Digital?

Tinggalkan Balasan