KepolisianNasionalPolitik

Eng-Ing-Eng, Kabulog Kordinasi Ke Kapolri Tangkap Mafia Beras

384Views

Orang dekat Buwas memberi “bocoran”informasi, bahwa Kepolisian Republik Indonesia terus membongkar mafia beras. Tim Bulog secara rutin memberi info A1 dengan data-data valid, kepada petugas satgas Pangan yang dikepalai oleh Kapolri. Hasilnya, mafia beras tak bisa bergerak bebas. Ada yang sudah ditangkap, walau ada juga yang masih mau coba-coba.

Sumber majalah MATRA menyebut, tim Bulog dan Polri sudah bergerak cepat dan “mengendus” soal temuan soal praktik kartel pangan yang terus terjadi di negeri ini. Mereka bebas mempermainkan harga, permainkan regulasi demi mendapatkan keuntungan tak wajar.

Praktik monopoli bisnis ini juga telah merambah ke berbagai komoditas yang berkaitan langsung dengan hajat hidup masyarakat seperti beras, bawang, ikan, kedelai, garam, dan gula.

Bila menengok pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan harga pangan kerap terjadi lantaran adanya kelangkaan di pasaran. Pemerintah selalu mengatakan bahwa hal itu terjadi akibat penimbunan barang oleh pihak-pihak yang coba mengambil keuntungan besar.

Modusnya antara lain, pelaku membeli beras bulog yang merupakan beras untuk orang miskin sebanyak 1 ton dan 500 kilogram beras biasa. Lalu, dua jenis beras itu dicampur. Setelah mencampur kedua beras beda kualitas itu, tersangka membersihkannya dengan cara dikipas. Setelah itu digunakan alat yang dibuat dan dirancang sendiri oleh pelaku.

Beras yang telah dioplos ini kemudian dikemas kembali ke dalam karung. Beras yang dioplos, mereka mengambil keuntungan Rp1000 saja per kilogram beras. Jika ada 400 ton, hitung saja.

Sekadar informasi, beras Bulog adalah beras impor yang digunakan sebagai cadangan beras pemerintah dan dikelola melalui dana APBN.

Beras ini hanya diperuntukkan bagi kegiatan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras nasional. Sehingga negara mampu menjaga pasokan beras dalam negeri.

Oleh karena itu, Bulog hanya mendistribusikan beras kepada distributor resmi yang ditunjuk pemerintah. Namun dalam kasus yang kemarin-kemarin, terjadi penyimpangan “orang dalam”.

Bahkan dalam proses berjalan beras tersebut dioplos dan merugikan kepada masyarakat. Beras subsidi sampai jatuh kepada kartel. Dipalsukan dengan diberi cap beras premium.

“Saya tahu bagaimana permainan dan juga kartel, saya sudah punya petanya, bagaimanapun saya pernah jadi aparat dan punya kekuatan jejaring intelijen dan sudah saya coba dan terbukti,” kata Buwas.

Mantan Kepala BNN ini menduga ada beberapa gudang di daerah yang menimbun beras. Ini karena jumlah beras di gudang tersebut lebih besar dibanding Bulog. “Temuan itu sudah kita laporkan ke Satgas Pangan Polri untuk penindakan,” jelasnya.

“Temuan itu sudah kita laporkan ke Satgas Pangan Polri untuk penindakan,” jelas Buwas.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, jajarannya akan menindak tegas para mafia pangan yang beroperasi jelang Lebaran 2018. Karena penimbunan bakal menimbulkan gejolak harga pangan di pasaran.

Stok pangan untuk Lebaran terkategori aman. Oleh karena itu, Polri fokus kepada distribusi pangan.

“Jangan sampai ada penimbunan, ada mafia yang main, ini (akan) kami pukul,” ujar Tito.

Kapolri mengungkap, polisi sudah menangkap 495 orang yang diduga terlibat mafia pangan. Lebih dari 390 orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

Ia berharap, banyaknya pihak yang ditetapkan sebagai tersangka kasus mafia pangan membuat siapapun mengurungkan niat untuk menimbun bahan pangan.

“Mudah-mudahan ini bisa menekan niat mereka memainkan komoditas pangan ini,” kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Catatannya adalah, di tengah keberhasilan Satgas Pangan sudah berhasil mengungkap tindakan mafia beras dengan mengoplos beras medium ke dalam kemasan premium. Saat ini, petani padi di sejumlah daerah juga sedang gegap gempita menyambut panen raya yang akan dimulai pada akhir Januari 2018.

Diperkirakan akan menghasilkan 4,9 juta ton beras, atau surplus 3 juta ton. Eh, di tengah gegap gempita tersebut, Kemendag justru bersikap sebaliknya, memilih opsi impor beras.

Ada apa?

baca juga: Majalah MATRA edisi terbaru – klik ini

Kapolri bersama S.S Budi Raharjo, Pemred Majalah MATRA sedang selfie
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »