0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
KomunitasNasional

Cukai Rokok Sebagai Penutup Biaya BPJS, Sebuah Ironi

95Views

Polemik Cukai Rokok: Apa Peran Media?

Apa Peran Media, Diskusi Soal Cukai Rokok

Pemerintah yang menggunakan dana bagi hasil cukai hasil tembakau untuk atasi defisit pendanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih menjadi pembicaraan di kalangan kaum idealis dan independen.

Hal ini mencuat dalam ruang temu, yang dilakukan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). Polemik Cukai Rokok: Apa Peran Media?, berlangsung di TierSpace (co-working space), Jl. Bhakti No. 10, Keb. Baru, Jakarta (9/10-2018).

Sebagai narasumber Bambang Harymurti yang merupakan mantan Pemred Majalah Tempo dan kini sebagai Komisaris Tempo. Kemudian Wisnu Nugroho, dari Pemimpin Redaksi Kompas.com serta Anindita Sitepu, Direktur Program, CISDI. Sebagai moderator acara adalah Bayu Sutiyono, Kompas TV.

Media massa termasuk perwakilan NGO dan organisasi kesehatan yang hadir menyayangkan sikap pemerintah, dalam mengatasi beban JKN dengan cukai rokok. Sementara pengendalian untuk mencegah perokok muda di kalangan anak-anak usia 10-14 di Indonesia, seakan terlewatkan atau malah tidak menjadi prioritas.

Semua sadar, kepentingan antara tingginya pendapatan ekonomi dari penjualan rokok dan dampak buruknya bagi kesehatan seperti dua kubu yang saling diperdebatkan. Termasuk, soal kenaikan tarif cukai rokok, apakah dianggap sebagai win-win solution untuk kepentingan ekonomi dan kesehatan bangsa.

“Kita lupa dengan esensi cukai. Cukai itu ditujukan untuk menuruni konsumsi barang yang dicukai dan meminimalisir dampak negatifnya. Kenyataannya konsumsi rokok di Indonesia naik terus. Ini menunjukan kebijakan cukai itu gagal,” tegas Bambang Harymurti.

Diskusi kemudian berkembang bedanya pajak dan cukai dalam pembangunan negara kita.

Cukai rokok, yang saat ini untuk menutup defisit BPJS Kesehatan yang diperkirakan membengkak jadi Rp 9 triliun pada tahun ini, banyak disayangkan. Sedangkan sisanya sekitar Rp 4 triliun akan diambil dari sumber lainnya.

“Ya, gimana enggak menjadi pembicaraan di kalangan media massa, organik BPJS tidak memberi contoh. Malah memakai asuransi kesehatan dari swasta (AXA-red) bukan memakai BPJS. Berapa biaya yang harus ditanggung BPJS untuk asuransi swasta itu, silahkan investigasi,” ujar Bambang Harimurti membuka rahasia.

Masih menurut Bambang, defisit BPJS dari dana talangan cukai karena harus diakui, pendapatan pajak saat ini tidak sesuai target. Tak ada jalan lagi untuk menambal defisit berjalan. “Ini realitas yang terjadi,” ujarnya.

Dana cukai rokok seperti sinterklas penolong atau seakan pemerintah senang dengan dana cukai rokok, tak memikirkan esensi rakyatnya yang sakit, karena konsumsi rokok. “Kita semua sadar itu,” ujar Herry Barus, jurnalis perokok yang kini sudah berhenti merokok dan kini menjadi aktivis anti rokok.

Direktur Program Center For Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Anindita Sitepu senang jika awak jurnalis menjadi aktivis anti rokok. Ia menyebut, dampak negatif menghisap rokok seharusnya juga menjadi konsen media massa di Indonesia, baik cetak, online, radio dan televisi.

“Kami mewakili media massa, memang selalu mengajak pihak-pihak yang peduli masalah ini, untuk bersuara. Sehingga kami memiliki berita yang menarik, tidak mengulang-ulang dari nara sumber yang itu-itu saja serta tidak kontinyu,” tutur Wisnu Nugroho, Pemimpin Redaksi Kompas.com.

S.S Budi Raharjo, selaku Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) termasuk yang komitmen untuk selalu mendorong media massa di organisasi untuk terus peduli, sebagai alat untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat.

Literasi mengenai makanan dan gaya hidup sehat, tanpa rokok juga kerap dilakukan. Hanya saja, kendalanya situasi seperti yang diungkap sekarang ini, bahwa cukai rokok saat ini masih menjadi andalan untuk permasalahan dana talangan BPJS. “Ya, ini sebuah ironi,” ujar pria yang kerap dipanggil Jojo.

Dana cukai rokok seperti sinterklas penolong atau seakan pemerintah senang dengan dana cukai rokok, tak memikirkan esensi rakyatnya yang sakit, karena konsumsi rokok.

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas