0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
KomunitasTrend

Di Tengah Tsunami & Gempa, Pendidikan Perlu Menjadi Perhatian

Oleh Gunawan Winata (Managing Partner DS.Consulting – People Is Our Business-Services)

143Views


MATRANEWS.id — Berhemat-hematlah di dalam segala hal, kecuali untuk PENDIDIKAN!

Ada cerita dari Jepang, saat mereka berada di ujung akhir 2nd World War yang membawanya bertekuk lutut kepada Sekutu! Saat kritis di ujung “kekalahan”, Kaisar Hirohito berkata kepada para pembantunya (menterinya), “Seberapa banyak guru yang ada, selamatkanlah mereka! Kita akan (bisa) bangkit lagi jika ada guru!”

Cerita kedua dari Inggris, saat mereka “terseret” kepada perang yang sama oleh Jerman! Sang PM legendaris, Winston Churchill, dalam satu “sidang darurat” di parlemen, sedang membahas “bagaimana mendapatkan dana untuk biaya perang?”

Salah seorang menterinya berkata, “Dari pos pendidikan saja, kan, kita sedang berperang, maka tidak perlu biaya ke sana!” Churchill menjawab dengan elegan, “Menteriku, Anda duduk disini karena jasa guru!”

Moral kedua cerita di atas menunjukan betapa pentingnya guru dan pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa.

Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

Sejak kecil, agar anak memiliki kehidupan yang sukses dan berhasil, dia disekolahkan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan menjadi dasar dalam kehidupan seseorang dan seharusnya menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan secara saksama oleh suatu bangsa.

Bagaimana dengan bangsa kita, Indonesia?

Tampaknya, (guru dan) pendidikan belum menjadi sesuatu hal penting. Masih banyaknya anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan dasar dengan baik merupakan salah satu bukti, kurangnya perhatian kita semua dan pemerintahan. Selain itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam masyarakat kita juga masih kurang.

Maka, tidaklah terlalu mengagetkan jika “Daya Saing Indonesia Terendah di ASEAN”, kemudian peringkat HDI/Human Development Index, Indonesia oleh UNDP ditempatkan di urutan ke-111 dari 175 negara.

Kita jauh tertinggal dari negara tetangga di Asia, dan bahkan di Asia Tenggara kita hanya setingkat di atas Vietnam. Tajuk Rencana Kompas, 4 November 2004, “Pendidikan dan Nasib Masa depan Bangsa” serasa melengkapi “nelangsanya” nasib para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu dan terutama dunia pendidikan kita.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan para guru, khususnya para guru di daerah terpencil, membawa dampak yang signifikan terhadap kualitas pengajaran yang mereka berikan.

Minimnya ketersediaan buku pelajaran yang baru dan informasi yang memadai mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial yang up-to-date mengakibatkan informasi yang disampaikan masih terbatas.

Bagi para pendidik yang kurang memiliki dedikasi tinggi, keterbatasan ini mereka gunakan sebagai alasan untuk melepaskan tanggung jawab dari beban moral yang mereka emban di dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kiranya, diperlukan komitmen dari pemerintah. Pihak swasta pun harus memiliki komitmen yang sama.

Jangan ada lagi, di tahun 2018 ini sekolah yang digusur hanya karena di tempat itu mau didirikan sebuah mal, pertokoan, atau apartemen.

Sebab, jika guru sebagai manusia diperlakukan sebagai “keset” dan bukan “aset”, rasanya masalah SDM Bangsa serta nasib pendidikan kita tidak akan pernah (dapat) menunjukkan hasil yang maksimal.

Maka, dalam pascapenanggulangan korban bencana gempa dan tsunami, perlu dipikirkan langkah maju di dunia pendidikan ini. Bukankah begitu?

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas