Ekonomi

DR Charles Saerang: “Paket Ekonomi Cukup Banyak. Hanya Saja, Pertanyaannya Kenapa Tidak Dievaluasi?”

373Views

MATRANEWS.id –Faktor pelemahan rupiah yang terjadi sekarang ini, menjadi konsen Dr Charles Saerang. Ia berharap, pemerintah segera menyiapkan serangkaian cara, agar rupiah tak bergerak jauh dari fundamentalnya.

Pria kelahiran Semarang 20 Februari 1952 ini melihat, perekonomian kita “cukup rapuh” bukan saja karena ketegangan perang dagang Amerika dan Cina. Tapi, disebabkan tindakan pemerintah Indonesia yang selama ini tidak melibatkan pengusaha Indonesia, khususnya pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM).

Rupiah terus tertekan, Charles mengatakan, tak sekedar menyusul pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika (The Fed Funds Rate) dan neraca perdagangan Indonesia terus defisit. Itu karena, defisit negara transaksi berjalan (CAD) yang melebar.

Memburuknya perekonomian Turki, Charles menyebut, Turki tersandung utang dollar. Menjadikan sejumlah kalangan khawatir krisis ini menular. Bisa berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia jika serangkaian kombinasi langkah tak melibatkan organisasi semacam KADIN.

“Ya, gimana lagi. Selama ini, produk lokal kita, umumnya yang berbasis eksport itu, bahan-bahannya dari import juga,” ujar Charles Saerang prihatin.

“Bayangkan, jarum tusuk itu. Bahan-bahan intinya juga import,” Charles Saerang sembari menahan nafas panjang.

Vice Chairman of Industrial sector KADIN ini menyebut produk lokal yang dikembangkan ini, masih rata-rata berbasis import komponen. Lonjakan import inilah yang menyebabkan pengeluaran, mendominasi sentimen pelemahan rupiah.

Pria bertinggi 172 cm dan berat 68 kg ini menyebut, pentingnya subtitusi bahan import dengan produk local belum bisa cepat dilakukan, menjadi penyebab current account deficit (CAD) membengkak.

“Hal lain, pengusaha dalam negeri masuk dalam kondisi sulit, tak mikir jangka panjang karena situasi politik kita juga,” ujarnya menyayangkan Negara kita yang tak punya Garis Besar Haluan Negara (GBHN) seperti waktu lalu. Menjadikan pengayaan tingkat kandungan dalam negeri tidak berjalan. Belum lagi masalah regulasi.

Charles Saerang berterus terang, aturan-aturan kita parah. Saling tumpang tindih. “Presiden Jokowi tahu. Tapi, tak punya tim khusus untuk membenahi ini,” ujar Charles menyebut jumlah perbaiki paket ekonomi cukup banyak. Hanya saja, pertanyaannya kenapa tidak dievaluasi, misalnya mana yang efektif dan kurang efektif.

“Harusnya, pemerintah Indonesia ajak pengusaha, atau organisasi semacam KADIN untuk diajak bicara, untuk mencapai strategi pemulihan,” ujar Charles mengibaratkan situasi sekarang, dengan setiap keputusan ekonomi, maka ibaratnya negara ini lari di tempat.

Jika pengusaha dianggap hanya berpikir untung, perlu pula diajak para akademisi berkontribusi. “Perlu mengajak ABG (academic, business, government), agar perekonomian Indonesia lebih berdaya,” papar Charles mengkritisi tim ekonomi sekarang terlalu ber-basis scientific tanpa mengindahkan situasi lapangan riel.

“Di kita banyak yang teorinya bagus, dalam implementasi lemah atau tidak jalan,” ujar Charles memberi contoh ijin eksport di Badan POM.

Secara teori, katanya ijin bisa dua hari selesai. Nyatanya, ijin untuk itu baru selesai dua bulan. “Bukan regulasinya tapi personilnya tidak menguasai,” ujar Charles terus terang. Ijin satu pintu juga demikian. Pemerintah pusat tak punya kuasa memuluskan, jika pengusaha mengalami hambatan di pemerintah daerah.

Hal ini, yang menurut Charles Saerang, pemerintah bukannya tak peduli. Realitas yang terjadi di lapangan dan dialami pengusaha Usaha Kecil Menengah adalah, pada aplikasi di lapangan yang bisa mencong dari tujuan ideal.

“Mesti ada tim khusus, yang melacak, mengikuti. Karena bukan dipersulit, tapi karena personilnya tidak ditata rapih,” papar Charles mengingatkan, agar jangan sampai dollar Amerika merangkak ke atas Rp 15 ribu. Sebab, lagi pengusaha yang akan tertekan dan bisa menaikan harga-harga. “Hati-hati,” ia mengingatkan.

baca juga: Majalah MATRA cetak (print) terbaru –klik ini

“Di kita banyak yang teorinya bagus, dalam implementasi lemah atau tidak jalan,” ujar Charles memberi contoh ijin eksport di Badan POM.

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »