EkonomiHukumPolitik

Dr. H. Ferry Juliantono: “Banyaknya Dukungan, Membuat Saya Makin Serius.”

405

Bakal Calon Gubernur Jawa Tengah yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerinda Ferry Juliantono dikabarkan mendapat dukungan dari kalangan buruh untuk maju dalam Pilkada 2018. Ia lebih dikenal sebagai aktivis yang banyak menyuarakan kepentingan rakyat melalui aksi demonstrasi.

Dia merupakan salah satu aktivis mahasiswa yang sempat mendekam sebagai tahanan politik pada saat demonstrasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun 2009. Saat itu Ferry merupakan Sekretaris Jenderal Komite Bangkit Indonesia yang banyak melayangkan kritik ekonomi kepada kebijakan Presiden SBY.

Ferry mengaku harus membela rakyat ketika kepentingan mereka diganggu dengan kebijakan pemerintah yang memberatkan mereka. Ia banyak terlibat dalam organisasi petani, nelayan, buruh dan agraria.

Tahun 2005, Ferry dipercaya menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Dewan Tani Indonesia. Ia juga masih menjabat sebagai wakil direktur pelaksana Induk Koperasi Tani Nelayan (Inkoptan).

Hingga akhirnya, dalam Rapimnas Partai Gerindra di Jakarta, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberi mandat kepada Ferry sebagai salah satu wakil ketua umum Partai Gerindra. “Pak Prabowo meminta saya jalan terus untuk ikut dalam Pilkada Jawa Tengah 2018,” kata pria yang disebut-sebut sebagai sosok multitalenta.

Lahir 27 juli 1967 keluarga dari orang tua yang berasal dari Kudus dan Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung, kemudian menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di Hubungan Internasional dan program Doktor Sosiologi Universitas Indonesia.

Sosok ini memang aktif di pergerakan politik sejak mahasiswa. Aktif di gerakan petani, buruh nelayan dan banyak lagi. Pernah menjadi kepala Departemen Pengembangan Masyarakat CIDES ICMI.

Bahkan, sejarah mencatat ia pernah ditahan di Era Orde Baru serta dipenjara selama 1 tahun karena menentang kenaikan harga BB pada tahun 2008. Pengalaman di partai politik dan sekarang menjadi Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra sekaligus menjadi Anggota Dewan Pembina partai Gerindra.

Ayah dari Jodipati Alif fitrahillah, sarjana Ilmu Politik dari Universitas Indonesia dan Rendrahadi Nezar Musyaffa, siswa SMA Al Azhar Kebayoran Baru ini mendirikan organisasi petani dan menjadi Ketua Umum Dewan Tani indonesia. Suami dari Ir Sita Komaladewi ini juga mendirikan serikat buruh/pekerja Gaspermindo dan menjadi wakil buruh pd sidang ILO di Jenewa tahun 2000.

Menjadi Penasehat HNSI, organisasi nelayan sampai sekarang. Aktivis pergerakan dan pernah menjadi Sekjen jaringan aktivis pro demokrasi. Sebagai seorang akuntan, Ferry juga tidak melupakan kegiatannya di dunia usaha. Jabatannya sebagai Komisaris di beberapa perusahaan dan dipercaya sebagai ketua umum asosiasi pemasok energi dan batubara indonesia telah dipegangnya dari tahun 2011 sampai sekarang.

Dalam pemikirannya sebagai orang politik, dia telah menulis beberapa buku, antara lain buku ” Tanah untuk rakyat (2000), buku ” WTO dan pembangunan pertanian Indonesia (2006), buku ” jalan baru ekonomi diadili” (2009) yang merupakan pledoi, ditulisnya saat ia dipenjara dan dibacakan di pengadilan negeri Jakarta Pusat. Kemudian buku reproduksi kemiskinan nelayan; Analisa Agen dan Struktur yang terbit bulan September lalu.

Dr. H. Ferry Juliantono menjadi aktivis dan politikus yang konsisten berjuang. Mantan aktivis mahasiswa yang pernah menggerakan dan memimpin aksi demo besar di Tanah Air. Tahun 1993, ia pernah ditahan oleh Rezim Orde Baru karena kenekatannya melakukan aksi menentang pencalonan kembali Presiden Soeharto saat itu.

Sejak mahasiswa, dia juga tercatat sebagai aktivis di kampusnya – Universitas Padjajaran Bandung (Unpad). Termasuk mahasiswa yang berani menentang la¬rangan aksi mahasiswa di luar kampus melalui pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koor¬dinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membekukan Dewan Mahasiswa.

Bahkan saat itu, Ferry malah sering melakukan aksi dan gerakan ke luar kampus, menggerakan demo menyuarakan kepentingan masyarakat petani. Di antaranya membela hak-hak petani mempertahankan lahan, melawan pemerintah dan kepentingan bisnis di Badega, Ujung Genteng , Cimacan-Jawa Barat dan daerah lainnya.

Ia juga pernah jauh-jauh membela dan memberi advokasi masyarakat petani saat menghadapi kasus pembangunan Waduk Kedung Ombo di Boyolali, Jawa Tengah.

Sebagai aktivis Pro Demokrasi (ProDem), dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan Aktivis ProDem, yang mengorganisir wadah perkumpulan aktivis Pro Demokrasi Indonesia tahun 80-an sampai dengan Reformasi untuk terus memperjuangkan demokratisasi di Tanah Air. Dia juga menjadi salah satu tokoh yang selalu gigih menentang setiap ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sejak kejatuhan Orde Baru, aktivitasnya sebagai aktivis dan pegiat sosial kemasyarakatan, tetap tak pernah surut. Mengantongi jam terbang tinggi sebagai aktivis dan pengiat sosial kemasyarakatan, kian membuatnya matang dalam menapaki lika liku dunia sosial kemasyarakatan dan politis di Tanah Air.

“Saya tidak ambisi, tetapi dengan banyaknya dukungan ini juga membuat saya makin serius,” ujar Ferry J. Juliantono. “Sejak dulu saya ini orang pergerakan. Makanya, saya sudah siap dengan semuanya dan konsekuensi yang harus saya hadapi,” paparnya.

baca juga: majalah eksekutif edisi Oktober 2017

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas