Nasional

Duka Tenaga Medis di Balik Perjuangan Menghadang Covid 19

Duka Tenaga Medis di Balik Perjuangan Menghadang Covid 19
706Views

Kengerian yang mencekam melanda segenap alam.

Kala makhluk itu datang menyerang dan mematikan.

Dia tak terlihat mata, tak bisa diraba.

Namun sangat mengerikan seluruh manusia.

 

Hampir di segenap negeri mereka menutup diri.

Isolasai bersembunyi ketakutan tak terperi.

Hanyalah padaMu Tuhan, kami memohon perlindungan.

Dari ancaman bahaya virus yang makin mewabah.

 

Berilah inayah untuk menghentikan.

Mata dunia terbuka betapa lemah manusia.

Walaupun sudah digdaya ternyata rapuh adanya.

Hanyalah dengan mikroba bernama corona.

Sungguh telah menghancurkan sendi kehidupan.

Syair terbaru dari Raja Dangdut Rhoma Irama berjudul Virus Corona yang baru diposting di channel Youtube dan disimak hampir 1 juta viewer itu sungguh menyentuh. Menggambarkan betapa dahsyatnya virus corona yang sekarang sedang mewabah. Korban berjatuhan di mana-mana, hampir di seluruh negara di dunia.

Yang lebih menyentuh lagi adalah tak sedikit korban yang terserang berasal dari para dokter dan tenaga medis, di saat mereka berjuang untuk menangani para pasien yang positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid 19).

Perjuangan mereka sungguh menguras air mata publik dunia. Mereka benar-benar bertaruh nyawa di saat banyak orang harus bersembunyi dan berdiam diri di dalam rumah. Wajar jika empatin pun datang dari banyak kalangan.

Namun, di balik perjuangan para tenaga medis yang sangat rentang dengan risiko kematian, ternyata tak semua publik mampu menghargai jasa mereka. Tak sedikit dokter dan perawat yang mendapat stigma negatif di masyarakat sekitarnya, karena merawat pasien covid-19. Alasannya, mereka dikhawatirkan membawa virus corona.

Berita Menarik :  Dunia Prihatin Terhadap Penyalahgunaan & Peredaran Gelap Narkotika

“Itu memang nyata, tapi biarkan kami para dokter dan teman tenaga medis bekerja dengan keikhlasannya. Mohon kami dibantu dengan doa saja,” ungkap seorang dokter yang menangani pasien Covid 19 kepada MATRANEWS.id.

Demi menghindari rasa pamrih dan stigma buruk sebagian masyarakat di lingkungan tempat tingganya, dokter ini juga enggan disebutkan identitasnya. Ia, lagi-lagi, hanya berpesan meminta dukungan doa dari masyarakat agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Tenaga Medis Diusir Tentangga

Tak hanya stigma buruk yang para tenaga medis dapat, namun yang jauh lebih miris adalah munculnya sikap diskriminatif dari sebagian masyarakat. Ini sungguh di luar perikemanusiaan.

Beberapa hari lalu, para staf medis, termasuk perawat dan dokter RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, sempat mendapat perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitarnya di tengah pandemi Covid-19.

Duka Tenaga Medis di Balik Perjuangan Menghadang Covid 19

Mereka sempat diusir tetangga di sebuah indekos dekat Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur. Ada yang memilih menginap sementara waktu di rumah sakit karena tak punya tempat pulang.

Namun, mereka yang mendapat perlakuan diskriminatif kini bisa bernapas lega. Selepas tiga hari menginap di rumah sakit, mereka kini memeroleh tempat baru.

“Memang saat itu ada yang diminta keluar dari kost-nya. Pagi ini saya sudah dapat informasi valid bahwa mereka sudah dicarikan tempat oleh direktur rumah sakit. Karena mereka 3 hari sudah menginap di rumah sakit,” jelas Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah, seperti yang ditulis Kompas.com.

Berita Menarik :  Jenderal TNI Andika Perkasa: "Kami Tetap Mengedepankan Asas Praduga Tak Bersalah."

RSUP Persahabatan juga turut memfasilitasi mereka dengan tunjangan akomodasi di tempat barunya. Selama masa wabah ini ada pula fasilitas antar-jemput untuk para tenaga medis ini.

Kekhawatiran para tetangga dokter dan tenaga medis tersebut juga bisa dipahami, mengingat cukup banyak para dokter dan tenaga medis yang tertular virus corona. Bahkan, ada sebagian yang akhirnya bertaruh nyawa dan meninggal dunia.

Di Jakarta, menurut Ketua II Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DKI Jakarta Catur Laswanto, hingga akhir Maret lalu ada 42 tenaga kesehatan yang terinfeksi covid-19 di Jakarta. Mereka terinfeksi karena menangani pasien covid-19.

“Tenaga kesehatan yang terinfeksi mencapai 42 orang,” ujar Catur dalam konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta yang disiarkan akun Facebook Pemprov DKI, Senin (23/3/2020).

Karena itu, Catur mengingatkan seluruh warga untuk selalu berdiam diri di rumah dan menerapkan social distancing demi mencegah meluasnya penyebaran virus corona tipe 2 (SARS-CoV-2) penyebab covid-19.

Dikutip dari situs resmi corona.jakarta.go.id, jumlah pasien positif covid-19 di DKI Jakarta mencapai 356 orang. Dari jumlah tersebut, 22 orang dinyatakan sembuh dan 31 orang meninggal dunia. Kemudian, 221 pasien dirawat di rumah sakit rujukan. Sementara 82 pasien positif lainnya menjalani isolasi mandiri.

Segera dan Diperluas Cakupannya

Penanganan wabah covid 19 memang terus dilakukan oleh pemerintah. Namun, gerak pemerintah masih harus menghadapi tantangan yang berat. Terutama terkait dengan sarana dan peralatan pencegahan yang masih terbatas. Sementara penularan covid 19 sudah menyebar hampir merata ke seluruh pelosok negeri.

Berita Menarik :  Dubes Peter Gontha, "Ditarik" ke Indonesia Jadi Panitia IMF Meeting

Duka Tenaga Medis di Balik Perjuangan Menghadang Covid 19

Karena itu, alat pengujian Polymerase Chain Reaction (PCR) harus disegerakan dan diperluas cakupannya. Selain PCR cakupan pengadaan alat tes diagnostik cepat (RDT) (yang memeriksa sampel darah seseorang yang diambil dari ujung jari) juga perlu segara dipenuhi.

RDT atau yang juga dikenal sebagai Rapit Tes ini untuk mendeteksi timbulnya antibodi seseorang terhadap virus SARS-CoV-2 dalam sampel darah yang diperiksa.

Pemerintah perlu “menggerakkan” tak sekadar Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan). Melalui uji laboratorium juga bisa dilakukan, agar bisa cepat teridentifikasi dan melakukan isolasi terhadap kasus positif, sehingga tidak menjadi sumber penyebaran di lingkungan masyarakat.

Pemerintah juga perlu melakukan terobosan menjalin kerjasama dengan Rumah Sakit dan Fakultas Kedokteran. Selain itu, Alat Pengaman Diri (APD) pekerja kesehatannya  juga perlu ditambah agar lebih memadai.

Intinya, untuk mengatasi penyebaran wabah covid 19 dibutuhkan tenaga, pemikiran, dan dana ekstra. Kesadaran publik untuk menjaga diri dan mematahi himbauan pemerintah juga perlu ditingkatkan, agar penyebaran covid 19 tak makin meluas. Semoga Indonesia segera terbebas dari wabah yang melumpuhkan semua sendi kehidupan ini. (Abdul Kholis)

Konvergensi Majalah MATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »