Gaya HidupKomunitas

Golden Triangle

S.S Budi Raharjo, Pengamat Gaya Hidup

1.47KViews
Konvergensi Majalah MATRA

Segitiga emas di kawasan Asia Tenggara ini merupakan sebuah wilayah tempat bertemunya tiga negara, yaitu Laos, Myanmar, dan Thailand. Sesuai dengan namanya, kawasan ini merupakan daerah penghasil ’emas hitam’ atau opium. Sekarang kawasan perbatasan ini dijaga oleh tentara bersenjata lengkap, sehingga tak ada lagi celah untuk menyelundupkan opium.

MATRANEWS.id– Dari perbatasan inilah, laporan ini disingkap.

Ikut dalam rombongan ke perbatasan itu adalah, Ali Johardi, yang sempat menjadi Deputi Cegah BNN, kemudian Ahwil Lutan (mantan Kalakhar BNN/Duta Besar Meksiko) serta Andika (Deplu) juga H Domiri Alpacino, aktivis Ridma Foundation.

Tak hanya menjadi ladang ’emas hitam’ terbesar di Asia Tenggara, wilayah ini pun menjadi penghasil ’emas hitam’ terbesar di dunia.

Kawasan atau tempat ini memiliki sejarah yang kelam karena menjadi pusat perdagangan narkoba pada masanya.

Hal ini pun membuat Golden Triangle menjadi kawasan yang rawan konflik dan menjadi tempat pelarian para pengungsi dari Myanmar dan China. Tapi, masa itu sudah lewat.

Golden Triangle. Sekarang kawasan perbatasan ini dijaga oleh tentara bersenjata lengkap, sehingga tak ada lagi celah untuk menyelundupkan opium.

Dengan luas mencapai 950 ribu km2, Golden Triangle menjadi titik bersatunya Sungai Mekong dan Sungai Ruak.

Tak lagi menjadi lokasi strategis bagi para imigran gelap yang ingin melintas ke tiga negara tanpa surat izin.

Di Chiang Rai, kawasan di ujung utara Thailand. Jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Internasional Chiang Rai.

Dari Jakarta menuju Chiang Rai, transit di Bangkok, tepatnya di Bandara Internasional Don Muang. Total durasi perjalanannya sekitar 6,5 jam.

Di Chiang Rai. Kota di atas gunung bersuhu sejuk ini selalu sepi.

Turis yang datang biasanya memang ingin melakukan aktivitas menjelajah alam di Golden Triangle, kawasan perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos, yang sempat populer sebagai jalur perdagangan opium pada tahun 1950-an.

Berbicara mengenai suhu, Chiang Rai bersuhu 18 derajat Celcius di siang hari dan bisa lebih dingin di malam hari.

Golden Triangle Elephant Camp & Resort jauh dari keramaian kota. Dekat White Temple, kuil serba putih yang merupakan objek wisata paling populer di Chiang Rai.

Istana Doi Tung dan Taman Mae Fah Luang.

Properti ini milik keluarga Kerajaan Thailand yang sering digunakan sebagai rumah peristirahatan. Menuju ke sana perjalanan terasa berliku-liku, mirip di Cipanas.

Kawasan Doi Tung merupakan ladang opium terbaik pada saat itu, karena suhunya selalu dingin pas untuk menanam dan memanen.

Istana Doi Tung berdiri di atas lahan seluas puluhan hektare. Bangunan utamanya berupa vila dengan belasan kamar bernuansa kayu. Yang beken, kopi Doi Tung yang khas.

Golden Triangle merupakan jalur emas penjualan opium di masa lampau. Ada aliran Sungai Mekong. Tiga pojok Negara. Masyarakat yang tinggal di Golden Triangle tidak boleh sembarangan berkunjung, karena butuh surat izin.

Sensasi wisata diujung perbatasan utara Thailand. Kawasan yang menggabungkan bagian Laos, Myanmar dan Thailand yang berbatasan dengan profinsi Yunnan Tiongkok.

Lewat Doi Tung Development Project, kawasan narkoba itu dirubah menjadi salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Thailand.

Terlepas dari sejarahnya yang menyeramkan, saat ini Golden Triangle menjadi destinasi yang wajib dikunjungi jika sedang liburan di Thailand.

Sama sekali tak terbayangkan bahwa 20 tahun yang lalu tempat itu sangatlah gersang dan kering. Bukit-bukit dan hutan gundul, kondisi jalanan yang sangat tidak memadai, rakyat yang miskin dan sebagian besar dari mereka hidup dari pertanian dan perdagangan opium.

Pada waktu itu, di daerah itu memang bisa dikatakan tidak ada mata pencaharian yang layak. Para anak gadis bahkan terpaksa dijual ke daerah lain atau menjajakan diri mereka. Daerah itu merupakan bagian dari Segitiga Emas (Golden Triangle) yang tersohor akan ladang opiumnya.

Keadaan itu mulai berubah ketika ibunda raja Thailand saat ini, Her Royal Highness Sondej Phra Sirnagarindra Boromarajajonani (yang biasa disebut dengan the Princess Mother), mengunjungi daerah itu pada 1987.

Keprihatinannya akan kemiskinan rakyat di Provinsi Chiang Rai saat itulah yang mendorong perubahan di Chiang Rai. Pada masa itu, tingkat pendidikan sangat rendah dan pelayanan kesehatan pun bisa dikatakan tidak ada.

Princess Mother lalu mulai memikirkan cara untuk mengangkat harkat dan martabat penduduk setempat. Rusaknya ekosistem daerah tersebut yang hancur karena proses penanaman opium (slash and burn, potong dan bakar) sangat memprihatinkan.

Sang Princess Mother mulai memikirkan pentingnya sebuah proyek akbar untuk mengubah kemiskinan.

Dari rancangannya, lahirlah sebuah proyek Sustainable Alternative Livelihood Development yang kemudian diberi nama Doi Tung Development Project pada 1988.

Pada saat itu pulalah the Princess Mother memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk mengembangkan dan memperbaiki lingkungan daerah ini dan menyelamatkan rakyat Chiang Rai dari lubang kemiskinan dan ketergantungan mereka akan kebun opium.

Tanggung jawab untuk mengimplementasikan proyek Doi Tung (Doi Tung = Bukit Bendera) ini diberikan kepada Yayasan Mae Fah Luang, sebuah non-government organization (NGO) yang berada dalam perlindungan keluarga kerajaan.

Proyek yang mereka kerjakan adalah proyek pengembangan alternatif yang menjadi sebuah strategi untuk mengurangi dan pada akhirnya mengeliminasi penanaman dan peredaran opium.

Cara pengembangan alternatif ini bukanlah cara pembasmian tanaman opium dengan menangkapi para penduduk yang menanam opium. Proyek menanam buah naga berhasil, bunga-bunga indah-indah.

Yayasan Mae Fah Luang percaya bahwa penduduk setempat tidak mengultivasi opium karena mereka menyukai tanaman terlarang itu, tetapi karena mereka tidak mempunyai pilihan penghasilan lain untuk menopang hidup.

Dengan mempromosikan pengembangan daerah terbelakang ini dan menyediakan pekerjaan alternatif yang berkesinambungan, Yayasan Mae Fah Luang tidak hanya menghentikan penyediaan dan peredaran opium, tetapi juga menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik dan stabil.

Lewat dukungan dan komunikasi yang baik dari pihak pemerintah, penguasa lokal dan tim di lapangan memainkan peran yang sangat vital dalam pelaksanaan proyek ini.

Tidak ada proyek pengembangan yang dapat membuahkan kesuksesan dalam sekejap. Setiap proyek pembangunan sangat kompleks dan memakan waktu panjang untuk membawa sebuah hasil.

Oleh karena itu, sangatlah penting bahwa segala bantuan dan strategi yang dijalankan merupakan suatu strategi yang menyeluruh dan terintegrasi.

Masalah narkoba dan kejahatan yang terkait hanyalah sebuah akibat dari akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu kemiskinan dan kurangnya kesempatan yang memadai.

Dengan visi seperti ini, proyek pengembangan itu merupakan sebuah proyek jangka Panjang.

Maksudnya mencakup (a) perhitungan jangka waktu yang dibutuhkan untuk perubahan agrikultur (pindah dari penanaman opium ke tanaman lain yang legal), (b) waktu untuk mengimplementasikan perubahan ekonomi, (c) dan juga waktu untuk mengembangkan sebuah infrastruktur sosial.

Setidaknya dibutuhkan 30 tahun untuk mencapai semua perubahan dan untuk melatih komunitas Doi Tung untuk mandiri.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menanggapi masalah kesehatan masyarakat yang mendasar.

Prinsip mereka sederhana: orang sakit tak bisa bekerja. Prinsip kedua yakni orang lapar tak bisa bekerja.

Setelah kesehatan warga memadai, mereka diajarkan cara untuk mendapatkan mata pencaharian yang legal, dimulai dari pencukupan kebutuhan pangan.

Bagaimana masyarakat diberdayakan, mempertahankan kehidupan baru mereka.

Anak-anak, tidak lagi harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, barulah pendidikan menjadi prioritas tertinggi.

Pendekatan yang dilaksanakan dibagi berdasarkan beberapa fase untuk menanggapi kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang. Contohnya, ketika penanaman opium dihentikan dan masyarakat kehilangan mata pencaharian, mereka membayar para petani baru ini untuk menanam dan menghijaukan hutan mereka kembali.

Tidak hanya para petani yang mengubah penghasilan mereka dari penanaman opium yang ilegal menjadi penghasilan yang legal. Akan tetapim mereka juga mempersiapkan lingkungan sekitarnya untuk bisa digunakan pada tahap selanjutnya.

Setelah itu, para petani ini dilatih untuk menanam kopi dan kacang macademia. Mereka diberikan keterampilan dasar untuk menanam dan mengembangkan kopi dan kacang macademia dan juga ditanamkan dalam diri mereka rasa kepemilikan yang tinggi terhadap hasil bumi yang mereka produksi.

Dengan cara itu, mereka berhasil memberikan pekerjaan alternatif kepada para penanam opium itu yang pada akhirnya berhasil membasmi peredaran dan kultivasi opium dari daerah tersebut.

Tidak hanya para laki-laki, para wanita pun diberikan keterampilan. Mereka mencari tahu keahlian penduduk setempat, yang terdiri dari enam suku yang berbeda. Ternyata suku Akha sangat terampil menyulam dan suku Shan pandai menenun.

Untuk mengembangkan, membimbing dan membina keahlian tersebut, dibangunlah Handicraft and Cottage Industry. Pusat pelatihan keterampilan yang sekarang ini memberi nafkah kepada lebih dari 300 orang (80% di antaranya adalah wanita).

Dengan cara itu, para wanita mempunyai pekerjaan yang membantu mereka keluar dari jerat prostitusi. Mereka diajarkan cara membuat kain tenun, keramik, daur ulang kertas, dan budi daya tanaman bunga.

Usaha dan kerja keras dari segala pihak, masyarakat Doi Tung berhasil menaikkan pendapatan tahunan mereka, dari yang tadinya hanya US$94 per orang per tahunnya (didapatkan dari kultivasi opium), menjadi US$750 per orang per tahunnya (tanpa opium).

Peningkatan yang luar biasa ini (8 kali lipat) dinikmati oleh 11.000 penduduk yang tergabung dalam proyek ini.

Mereka juga berhasil meningkatkan taraf kesehatan mereka. Hal itu dapat dilihat dari jumlah peningkatan penduduk berusia 56 tahun ke atas yang konsisten (dua kali lipat dalam 15 tahun) dan juga berkurangnya jumlah anak-anak dari umur 1-6 tahun.

Dengan keberhasilan proyek Doi Tung di Chiang Rai, pemerintah Myanmar lalu meminta agar proyek ini juga bisa diimplementasikan di wilayah Yong Kha, sebuah daerah yang juga sarat dengan permasalahan akan peredaran dan kultivasi opium.

Di daerah ini, opium, yang ditimbang dengan peluru asli, ditukarkan dengan beras dan bahan makanan pokok lainnya.

Pada 2002, proyek Doi Tung II pun dimulai. Dengan menggunakan template yang telah berhasil di Doi Tung I, mereka kembali melakukan program Sustainable Alternative Livelihood Development di Yong Kha secara sukses.

Mobilisasi unit kesehatan, pembangunan rumah sakit dan sekolah, dan penggalian kanal irigasi, berhasil meningkatkan taraf hidup 6.022 penduduk yang tergabung dalam proyek ini.

Pendapatan oleh Milanny Halim mereka meningkat dari US$0 per orang per tahun menjadi US$117 per orang per tahun hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Mereka juga berhasil menanggulangi penyakit seperti malaria, TBC, penyakit kulit, dan kurang gizi pada anak-anak balita.

Ternyata tidak hanya Myanmar, Afghanistan pun tertarik untuk mencontoh program Sustainable Alternative Livelihood Development ini.

Pada 2006, pemerintah Afghanistan dan Mae Fah Luang Foundation memulai proyek Sheep Bank (bank domba) yang dilaksanakan di Provinsi Balkh. Mereka memilih untuk menjalankan Sheep Bank setelah melihat dan berbicara dengan penduduk lokal di sana.

Rakyat memang sudah terbiasa dan memiliki tradisi dan keahlian dalam peternakan domba. Bantuan dan bimbingan pun diberikan dalam meningkatkan kesehatan dan kesuburan domba mereka, yang nantinya bisa menjadi sumber mata pencaharian mereka.

Setelah sukses di tiga negara, akhirnya pemerintah Indonesia pun tertarik akan cara dan penanggulangan yang mereka lakukan.

Mae Fah Luang pun terlibat dalam program rekonstruksi Aceh setelah bencana tsunami. Dengan tujuan meningkatkan taraf hidup 1,5 juta orang Aceh dari penghasilan US$1 per hari menjadi US$2 per hari dalam waktu lima tahun, mereka pun memulai proyek ini di daerah Lamteuba pada 2007.

Dapatkah kesuksesan itu dinikmati oleh provinsi yang sangat terkenal akan kultivasi ganjanya itu?

Pertanyaan ini, hanya bisa dijawab oleh waktu. Iya kan?

S.S Budi Rahardjo

klik: ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »