BudayaEkonomiTeknologi Informasi

Menguak Harta Dunia Maya

Buzzer, endorser, fotografer

1.02KViews

MATRANEWS.id — Buzzer, endorser terdaftar sebagai profesi yang diminati sekarang ini. Bahkan, ada seorang fotografer kondang pada masanya, sekarang “berpindah” profesi menjadi buzzer dan endorser.

Fotografer itu alih profesi menjadi buzzer digital karena situasi sulit order sekarang ini. Di lain sisi, ia memiliki kemampuan, bermain medsos dan memiliki banyak pengikut di akun yang dibangun lewat brand yang memang punya nama.

Awalnya, menciptakan ruang baru sehingga keluarga, teman atau orang asing yang baru kenal bisa berinteraksi. Di tahun politik, kerjaan sambilan ini mendapatkan klien, dimana politikus menjangkau rakyat.

Tujuannya cuma satu, mendukung kubunya, menjatuhkan lawan beda kubu.

Facebook, Instagram dan Youtube dipakai “tim sukses” untuk berkampanye, sekaligus mem-black campaign endoser politik.

Buzzer atau sebutannya endorser. Ada juga yang menyebutnya sebagai influenser atau KOL (key opinion leader).

Akun di media social yang dikelola baik dan ikuti trend, bisa rutin mendapat order posting pesanan klien. Syaratnya, ia harus punya pengikut di media social. Harus memiliki di atas 10.000.

Para influenser dunia maya ini direkrut atau disewa secara kongkrit. Hanya saja, transaksinya diam-diam, jauh dari pajak dan dalam waktu tertentu juga sangat personal.

Jika sekarang jaman politik, ya kliennya tak jauh dari itu. Per blast, bisa juga kontrak sebulan dengan syarat-syarat dan ketentuan tertentu. Hanya buzzer dan endorser serta klien yang paham.

Biaya menyewa sangat relatif dari pengikut sang influenser. Fotografer yang kini pindah kuadran itu, adalah contoh saja. Ketika fotografi sebagai proses kreatif sedikit demi sedikit tergerus.

Sebagai seorang fotografer yang kini memasuki medsos, sebenarnya adalah mengembangkan talenta lain. Bakat video, men-syut atau sebagai pembuat trendsetter.

Era beberapa dekade lalu, dimana seorang fotografer lapangan masih harus dibekali kemampuan cuci-cetak foto di kamar gelap. Saat ini, mungkin spesifikasi tersebut sudah tidak lagi menjadi prioritas.

Dengan format digital, fotografer hanya perlu mengirim data foto via email untuk naik cetak atau terbit online.

Lebih jauh lagi, teknologi kamera digital juga menghadirkan fitur-fitur auto yang cukup canggih. Dalam mode full auto, fotografer bahkan cukup menekan tombol tanpa harus mengukur ISO, diafragma, hingga depth of field bidikan.

Sekali jepret, gambar yang dihasilkan bisa jadi lebih baik daripada bidikan dengan mode manual. Ironinya, salah satu yang gugur digerus perkembangan teknologi kamera digital justru pencetusnya sendiri.

Steven J. Sasson, insinyur Kodak, melahirkan kamera digital pertama dengan resolusi hingga 10.000 piksel yang tersimpan dalam pita kaset. Sejak runtuhnya fotografi film dan maraknya tren kamera digital, fotografi menjadi semakin “ramah” di mata masyarakat.

Teknologi handphone, yang baru terus, menghadirkan kualitas kamera berpiksel besar. Seiring dengan kehadiran media sosial Instagram, maka fotografi mobile menjadi kekinian. Demam Instagram juga melanda di Indonesia. Profesi “Instagrammer” juga menjadi sesuatu yang menjanjikan bagi orang-orang yang minat pada fotografi.

Jika ada era fotografi harus diproduksi oleh kamera dan proses cetak kimiawi film negatif, itu sudah berlalu. Fotografi semakin luas, bukan lagi modal kamera pocket. Fotografi hingga membuat video, bias dengan kamera handphone saja.

Kita bisa menggubah, memindahkan, memotong, menimpa, mengobrak-abrik citraan tanpa harus mengganggu salinan asli hanya dengan hitungan detik. Hebatnya lagi tiap citraan bisa keluar (output) di atas permukaan apa pun dan ukuran yang gigantik sekalipun.

Rekayasa digital membawa dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat kontemporer di berbagai segi. Dunia fotografi memasuki peran yang menyebabkan adanya ketidak-percayaan masyarakat pekerja/profesional fotografi.

Jurufoto yang telah lama berprofesi di sini, “dihantam” perkembangan tehnologi.

Tanpa latar belakang akademis [seni fotografi] dan apalagi sertifikasi, lewat utak atik digital, karyanya bisa viral. Lewat grup atau medsos, disebar sehari bisa berapa kali.

Sehingga, yang bisa di”monetisasi” atau honor dibayar tak lagi sekedar karya foto, tapi bagaimana karya itu diterima di masyarakat, dengan memasukan ke medsos atau memuatnya terlebih dahulu di media digital, agar lebih kredibel.

Nah, di sinilah, peran medsos. Si buzzer akan menulis cerita disamping karya foto itu. Inilah harta dari dunia maya. Internet yang bak magnit menarik banyak orang mempertebal kantong atau menumpuk cuan.

#ssbudirahardjo – pengamat gaya hidup digital (0816-1945-288)

majalah MATRA edisi cetak — klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »