Ekonomi

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi
518Views

MATRANEWS.id — Pimpinan Majalah MATRA dalam rapat redaksi memberi info, sekaligus pencerahan, bahwa ada pejabat yang hebat.  Sosok pimpinan daerah yang bisa menjadi inspirasi, untuk kita semua.

Sejak 1 Juli 2019, pria itu menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Bupati Kulonprogo mengisi posisi jabatan,dimana selama enam bulan “kosong kepala” di badan itu. Sosok yang bisa disebut orang desa, muncul menjadi men-nasional.

Sosok yang menjadi teladan dalam senyap, nasionalisme di Kulonprogo menjadi viral.

Presiden Jokowi, sepertinya ingin memberikan warna baru dan sistem meritokrasi di pemerintahan dengan memberi kesempatan orang daerah yang berprestasi naik jenjang karir di level nasional.

Syaratnya: eksekutor, tipe pekerja keras, punya hasil yang dicapai.

Yang pasti, Dr. Hasto Wardoyo, SP. OG.(K) adalah seorang dokterkebidanan.

Sang mantan bupati, sebagai mastermind dari deretan capaian greget Kabupaten Kulon Progo. Daerah ini, bukanlah daerah yang menjadi sorotan media.

Kini, Hasto dituntut berinovasi dan mengkongkritkan ide, membuat gebrakan revolusioner mewujudkan pengendalian angka pertumbuhan penduduk di Indonesia.

Pria berkacamata plus 2 ini sedang bekerja memberikan terobosan-terobosan baru di internal BKKBN, untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi pelayanan, demi terwujudnya pelayanan prima.

Ada beberapa hal lain, soal branding, stunting hingga kehidupannya yang diakui sendiri, sebagai menghayati kemiskinan.

 

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & JokowiHasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Berikut wawancara S.S Budi Rahardjo MM untuk majalah MATRA. Petikannya:

BKKBN berencana untuk segera pindah duluan ke ibu kotanegara yang baru di Kutai Kertanegara dan Penajam Utara?

Puji syukur kepada Tuhan. Alhamdulliah Pak Jokowi sudah  mengumumkan lokasi ibu kota baru.  Jika diizinkan presiden, kami  BKKBN siap memulai pindah yang pertama ke Kutai Kertanegara  setelah ada persetujuan DPR nantinya.

Punya target tertentu?

BKKBN perlu segera memulai koordinasi dari Ibu kota baru dan  melihat kesulitan-kesulitan yang ada. Agar nantinya, bisa menjadi  bahan pembelajaran bagi kementerian dan lembaga yang lain.

Anda yakin, kalau ibu kota pindah ada migrasi angkatan kerja ke  Indonesia Timur? 
Ya,  ini sangat membantu mempercepat program kependudukan. Agar  tidak terjadi, kesenjangan bonus demografi antara provinsi di  Indonesia Timur dan Indonesia Barat.

Maksudnya?

Demi untuk memeratakan kesejahteraan rakyat, antara Indonesia  Timur dan Indonesia Barat. Membenahi pelaksanaan program  kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga dapat  berjalan lebih maju.

Loh, memangnya tugas BKKBN seperti apa?

Tugas-tugas tersebut, diantaranya adalah menurunkan angka kenaikan  jumlah penduduk secara signifikan. karena, laju pertumbuhan  penduduk saat ini, masih tinggi. Perlu inovasi, agar dapat menurun  sesuai dengan sasaran RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional).

Maksudnya?

Ditarget, agar penggunaan kontrasepsi secara konsisten, yang terbukti berhasil mengurangi angka kelahiran. Terus dikembangkan, melalui  inovasi teknologi.

Juga mempopulerkan kembali program  kependudukan, pogram keluarga berencana dan pembangunan  keluarga sehingga para pemerintah daerah, memberikan dukungan  maksimal untuk keberhasilan program tersebut.

Gimana caranya?

Pertama, saya ke daerah-daerah. Kita lihat dulu. Tiap daerah-daerah  itu kan, beda-beda.

Kalau kita dengan kepala daerah telah sepakat mengenai data kependudukan, berapa angka kelahiran, berapa angka kematian, barulah kita mulai cari teknis yang cocok untuk suksesnya  program KKBK.

Apa itu KKBK?

Upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia melahirkan, mengatur  kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan  hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Lebih jelasnya, gimana?

Pasalnya, ledakan pertumbuhan penduduk sangat berpotensi  menyebabkan gejolak sosial dalam masyarakat. Penduduk adalah  sentra pembangunan, jika tidak dikendalikan berpotensi menimbulkan  gejolak sosial, maka dari itu harus ikut KB.

Ikut KB, apa tidak ketinggalan jaman?

Rencana dan strateginya tentu saja berbeda. Tapi intinya, keluarga  berkualitas dapat diukur dari peningkatan ketahanan dan  kesejahteraan keluarga tersebut.

Dan, perempuan memegang peranan  penting dalam mewujudkan keluarga berkualitas. Pasalnya, ibu adalah sekolah pertama bagi anak.

Itu yang Anda akan branding ke ke anak-anak milenial?

Benar. Karena dulu, BKKBN sukses karena campaing-nya luar biasa.  Daripada sekadar teknis, kami punya target untuk merubah mindset,  menunda usia perkawinan.

Memberi pengertian secara medis, yang ideal usia reproduksi adalah usia 20 tahun ke atas ke anak-anak muda,  milenial.

Memberi pengertian ke anak milenial, jangan melakukan seks di
bawah 20 tahun?

Tentu saja, supaya ada pemahaman. Agar jangan terkena kanker, supaya mereka bisa menunda pernikahan, atas kesadaran diri sendiri dan punya cara pandang. Diisi pikirannya.Yang penting, substansinya, mengolahnya harus pas dan kena mereka.

Anak muda itu, kan, serba ingin tahu. Bagaimana untuk  meminimalkan dampak negative pembelajaran seks ini?

Ini murni pengetahui medis agar paham resiko bahaya dalam  berhubungan seks jika belum saatnya. Gaya kampanye nya pun  dirubah secara revolusioner dengan gaya generasi milenial.

Berita Menarik :  Antisipasi Skenario The New Normal BUMN, Tak Dipahami Direksi BUMN

Kaum milenial sasaran inovasi, modul kesehatan milenial dan kyai  atau ulama. Kami sudah melakukan FGD dengan kyai. Kami menarik  kesimpulan, medsos penting sekali. Karena anak milenilal, mereka-mereka itu, menjadi “mahluk media sosial”, bukan “mahluk sosial”.

Jadi, kami berpegang dengan pemahaman: Didiklah sesuai jamannya.  Karena mereka, tak lahir di jaman kita.

Contohnya seperti apa?

Kespro, kepo dengan masalah reproduksi. Setelah mens, seperti apa.  Kami ingin, mengolah materi dengan menarik. Karena, kesehatan  repsoduksi bukan pendidikan seks.

Program kesehatan reproduksi  harus rebranding, membuat jargon, slogan baru. Kita akan lombakan,  supaya kena di anak muda.

Tujuannya merubah mindset?

Iya. Jangan juga, terjadi di masyarakat miskin yang sudah punya anak  banyak, ia tidak ingin hamil tapi enggak pakai kontrasepsi.  Pemerintah harus hadir di situ.

Tak hanya memberi penjelasan, soal  kesehatan reproduksi ke anak-anak remaja milineal saja.

Mendatangi  masyarakat-masyarakat miskin itu, mengedukasi, untuk jangan hamil,  jika memang tidak diinginkan. Tidak kawin di usia muda dan jangan  hamil di luar nikah.

BKKBN dulu sangat beken dengan jargon, “Cukup Dua Anak  Saja”?

Kala itu, pak Haryono Suyono menjadi kepala BKKBN, memang luar biasa. Memastikan pasangan usia subur mendapat informasi kesehatan reproduksi, dan meningkatkan partisipasi program KB.

Masifnya program itu, sangat berhasil, karena bersama TNI-Polri.

Anda sendiri, terkait ketugasan BKKBN. Apa yang disiapkan?

Prinsip saya, harus belajar banyak. Karena pengalaman saya lebih  banyak di pemerintahan daerah, bukan departemen. Yang kedua,  belajar substansi, bahwa ada banyak hal yang harus disikapi terkait

masalah di Indonesia.

BKKBN lembaga yang independen ya?

Lembaga mandiri. Memiliki renstra misi dan visi. Kami memiliki  organik lengkap, penyuluh keluarga berencana di lapangan jumlahnya  14.566 ribu, yang mulai 2018 ditarik ke pusat, menjadi tanggung jawab BKBKN.

Total dengan orang di pusat dari eselon sampai staf,  sekitar 18 ribu orang.

Sekarang ini mulai penataan. Orang milik kita, asset sampai di  propinsi dan kecamatan, balai penyuluhan. Kami punya Kanwil di  seluruh wilayah. Seperti kepolisian, punya Kapolda. Jadi badan ini besar, termasuk dari sisi anggaran. Tubuhnya gemuk.

Karena organisasinya “gemuk”,  geraknya tidak lincah karena  terbatas anggaran?

Selama ini, anggaran hanya diratakan di tiap sektor. Dan, ujungnya  tak banyak menghasilkan produk kebijakan yang baik untuk  masyarakat. Karena itu, dalam menata anggaran saya dengan cara  membuat prioritas. Kalau nanti, ternyata prioritasnya untuk  pengembangan kontrasepsi.

Nah, pasti sektor itu yang paling besar.   Kami juga harus menguatkan koordinasi kemitraaan dan kerjasama baik dalam maupun luar negeri.

Banyak pihak menyebut organisasi BKKBN sedang kolaps,  ketika petingginya kena masalah korupsi kena hukum?

Orang melahirkan itu, tak boleh mati. Orang melahirkan itu, seperti  buang air besar. Saya orang yang optimis. Strategi minta anggaran,  tentu harus disesuaikan keuangan Negara saat ini.

Jika belanja  pegawai Rp 2,6 triliun, jika bisa separuhnya saja, sekitar Rp 5 triliun  sudah pas, walau belum ideal. Tapi, yang sedang saya lakukan adalah,  konesitas dengan berbagai mitra, biar PNS sibuk dengan jajarannya  dan berdampak.

Biar PNS sibuk, maksudnya?

Kalau dari anggaran kurang, Negara agak rugi menggaji organic  BKKBN. Sekarang ini, sekitar 70 persen dari total anggaran yang  diterima, jumlahnya hanya untuk gaji mereka. Ini PNS, tidak boleh  ada PHK.

Jadinya, harus dimaksimalkan, dengan kegiatan, yang mau  tak mau menyangkut dana juga. Saya minta ke gubernur, gerilya ke  samping-samping, termasuk menggerakan CSR (corporate social  responsibility) dari swasta.

Di internal, begitu Anda masuk apa yang Anda lakukan?

Kami pertama ke Irtama, meminta semua catatan di BKKBN yang  diberi catatan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).  Saya kasih waktu dan deadline ke bidang yang bermasalah itu. Harus bekerja  lurus, tanpa kepentingan.

Berita Menarik :  Memperingati Hari Pajak 2020, Mekari Dukung Digitalisasi Pelayanan Pajak di Indonesia

Pejabat jangan baper, saya terbuka. Ada  pakta integritas, kalau tak tercapai harus minggir sendiri, harus punya visi bersama.

Pejabat itu Anda kasih sangsi apa?

Saya sebagai orang baru, tak boleh mentang-mentang. Harus lebih  banyak mendengar dari mereka, organik PNS di BKKBN.

Keharmonisan penting. Jangan sampai disharmoni, karena  pemimpinnya. Jika perlu, seperti iklan: “Mengatasi masalah tanpa masalah.

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Hasto bersama Pengurus Forum Pimpinan Media Digital Indonesia & Asosiasi Media Digital Indonesia

#—

Sebelum menjadi bupati Kulon Progo, ia dikenal sebagai dokter dan   pengusaha bidang jasa kesehatan. Ketika menjadi Bupati Kulon  Progo, Hasto memenangkan 46,29% suara, mengalahkan dua  kandidat lain yang memperebutkan 53,71% suara.

Ia dilantik menjadi  bupati Kulon Progo pada 24 Agustus 2013. Iapun kemudian  memenangkan suara pada pemilihan Bupati Kulon Progo masa kerja  2017 — 2022.

Hasto adalah sosok pekerja lapangan yang mengetahui detail tentang  permasalahan yang ada dan sekaligus memiliki latar belakang ilmu  kedokteran. Pertama kali terpilih sebagai Bupati, ia dihadapkan Pekerjaan Rumah  besar dengan berbagai permasalahan.

Kulon Progo yang dipimpinnya adalah daerah minus dengan tingkat  angka kemiskinan cukup tinggi. Kulon Progo, saat itu, nyaris tak  punya potensi apapun kecuali pertanian tradisional dan jajaran  Pegunungan tandus jika musim kemarau kesulitan air.

Pertama menjabat Hasto menjadi pemimpin daerah yang saat itu  sepi, mayoritas warganya manula dan perekonomiannya minus. 

Tekadnya sebagai pemimpin daerah saat itu bagaimana rakyatnya  bisa sejahtera dan perekonomian bisa berjalan.

Melalui gagasan brilian, eksekusi yang cepat dan kerja keras, butuh  hanya dua tahun Hasto menyulap Kabupaten Kulon Progo  dipimpinnya menjadi daerah ramai dan menuju makmur.

Pariwisata  mulai menggeliat, hasil pertanian mulai dijual keluar daerah,   industri rakyat mulai bergerak kembali.

Sang Bupati mengawalinya dengan mendorong PNS membeli beras  pada para petani lokal agar padi hasil pertanian sawah petani bisa  menghasilkan uang. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan,  dengan kekuatan sendiri.

Alumni Fakultas Kedokteran UGM ini memberi teladan dalam  senyapnya publikasi. Ia memulai dengan gerakan “Bela dan Beli  Kulonprogo”. Antara lain, dengan mengeluarkan kebijakan yang  mewajibkan pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik  geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu.

Ternyata, dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan  ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik  tumbuh pesat, dari cuma dua menjadi 50-an.

Seribuan perajin batik  Kulonprogo yang biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bisa bekerja  di Kulonprogo. Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil ini   berputar di Kulonprogo.

Hasto, yang menjabat Bupati sejak 2011, juga berusaha menjamin  pendapatan petani lokal, dengan mewajibkan setiap PNS membeli  beras produksi petani Kulonprogo, 10 kilogram per bulan.  Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini  menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.

Sang Bupati yang  juga dokter spesialis kandungan ini juga membuat PDAM  mengembangkan usaha, dengan memprodusi air kemasan merk  AirKu (Air Kulonprogo).

Selain menyumbangkan PAD, keberadaan air kemasan ini  membangkitkan kebanggan warga setempat dengan mengkonsumsi  air produk sendiri. AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air  kemasan di Kulonprogo.

Berbagai terobosan melalui gerakan program ini menyebabkan  kabupaten Kulonprogo masih bisa tetap menerima pendapatan darah  yang memadai, meskipun menerapkan pembatasan iklan rokok yang  diatur dalam Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa  Rokok.

#———-
Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Anda menyebut Indonesia dalam situasi darurat rokok?

Ya. Literasi dan pemahaman akan risiko merokok, khususnya pada  kesehatan keluarga serta kesehatan reproduksi masih terbatas.

Konsumsi rokok di masyarakat, telah pada titik yang merugikan  bukan hanya berakibat pada kesehatan keluarga, tetapi juga kondisi  ekonomi keluarga.

Itu sebabnya, di Kulonprogo, Anda tidak mengijikan papan iklan  rokok?

Memimpin daerah, bukan cuma soal menggenjot pendapatan. Tapi,  menempatkan posisi moral yang memihak rakyat.

Dalam hal ini,  membela hak kesehatan rakyat. Memang, kebijakan ini mengurangi  pendapatan daerah, tapi sudah menjadi pilihan saya ketika memimpin.

Anda juga ingin di BKKBN mengubah paradigma bahwa “PNS  itu melayani bukan dilayani” dan senantiasa berorientasi pada  kepentingan publik?

Diharapkan, para PNS memiliki tanggung jawab yang tinggi, disiplin  dan berintegritas tanpa perlu selalu diperingatkan setiap saat.

Ketika bekerja sebagai dokter, apakah terbayang tugas BKKBN?

Tidak terbayang. Saya dokter sejak di puskesmas, dokter kebidanan.   Tapi, apa yang dilakukan BKKBN saya selalu kerjasama. Ilmu saya  kan, di bidang hormon dan kontrasepsi.

Berita Menarik :  Launching Pisang Goreng Kalimantan A3

Jadi, bukan hal asing, kalau  saya ke BKKBN, sama saja saya kembali ke dunia saya, kembali ke habitat. Ketika menjadi bupati, saya juga masih praktek sebagai  dokter, seminggu dua kali.

Kalau menjadi bupati, Anda seperti masuk dunia lain ya?

Ha-ha-ha. Saya mengembangkan nilai kemanusiaan, untuk memasuki  politik.Waktu sekolah SMP, saya bercita-cita di bidang pertanian dan  kehutanan.

Anak ke delapan. Kakak-kakak saya, tak ada yang  sekolah, karena memang tak ada biaya. Bapak merupakan mandor  hutan, golongan dua pensiun.

Anda sempat mengembala kambing juga ya?

Oh, itu dulu di Klepu, saya biasa ngarit untuk kambing saya.  Kambing itu dibeli dari ayam yang dipelihara. Dan, setelah kambing  berkembang kemudian dibelikan sapi.

Saat menjadi dokter, binatang  itu terjual satu demi satu untuk biaya hidup, buku-buku dan lain-lain.  Ternyata, kemiskinan bisa diatasi.

Saat SMP saja, saya punya  kambing 12, padahal orang miskin. Belajar sembari menggembala kambing itu. Belajar naik sepeda, sembari menggembala kambing.

Saya kuliah dari keinginan, saya tekun.   Sempat tes diterima di IPB, kemudian tes lagi menjadi dokter di
UGM. Pilihannya, mau cepat lulus dan cepat kerjanya atau memilih  pahit.
Ketika lulus dokter juga memilih kerja di pedalaman. Kenapa?

Saya agak idealis. Saya memilih yang pahit, ketika pilihan mau tugas  di kota atau pedalaman, saya memilih pedalaman. Walau sulit, saya  enjoy. Saat itu, belum menikah. Punya pacar, dokter juga, kalau  ngapel saya membawa perahu, melewati sungai.

Kami juga bangun  puskesmas, masyarakat gotong royong, ada yang membawa kayu,  semen, dan membantu konsumsi. Masyarakat senang.

Itu yang membuat Anda dinobatkan menjadi Dokter Teladan  pada 1992. Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden  Soeharto?

Sebagai dokter di pedalaman Kalimantan Timur. Usia 26 tahun, masih single, usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah  Mada Yogyakarta pada 1989. Memang, banyak dokter yang  ditempatkan di puskesmas pedalaman tersebut.

Namun, kebanyakan  hanya bertahan 2-3 hari saja.   Saat ditempatkan di daerah terpencil, begitu menikmati tugas.

Menemukan benang dari hewan, untuk menjahit tubuh manusia, saat  kecelakaan. Bahkan, sering melakukan kegiatan di luar bidang medis.   Saya juga ngajar SD, SMP karena di sana guru juga kurang. Ngajar Pramuka juga.

Kalau memiliki klinik, kapan?

Sebelum saya menjadi bupati. Klinik kecil, dibangun dari hasil  menabung. Nama klikniknya Sadewa. Nama Sadewa, diambil dari  nama wayang yang nomer lima, sederhana tapi cerdas. Konsepnya  menolong pasien miskin dan obatnya generik.

Hidup Anda menghayati kemiskinan. Maksudnya?

Mengukur kita kaya atau belum, gampang saja. Saat kita tak bisa  bekerja lagi, misalnya kena seseorang kena stroke. Apakah keluarga  dan kita bisa hidup sediakala, dengan pendapatan yang ada. Itu yang  saya jalankan dalam kehidupan.

Menjadi bupati, Anda tak main proyek dan main komisi?

Ternyata bisa. Tuhan atur semua. Rejeki dari klinik, sudah bisa hidup.  Tak harus rumah bagus atau mobil mewah. Anak anak, kalau ada  rejeki dan mau beli mobil, yang bekas saja. Biar roda ekonomi ke masyarakat.

Mobil setengah pakai, kan, uangnya berputar ke rakyat. Keluarga saya  tak ada yang jadi pemborong, yang ada kegiatan dengan kabupaten.

Saat menjadi bupati, banyak Peraturan daerah (Perda) saya yang  pahit, misalnya menggusur tanah untuk bandara, perda tak boleh  hiburan malam. Tapi, alhamdulilah semua didukung warga.

Kalau tak lagi di BKKBN, legacy apa yang Anda ingin tinggalkan?

Harus meninggalkan sistem, efektif dan efesien. BKKBN perlu itu,  perlu di hatinya di anak muda. Kalau dulu, di hati rakyat, kalau  sekarang bisa separuh bagus.

Kampanye untuk mencegah stunting,  angka kematian ibu harus bisa menurun dengan periode yang drastis. Indonesia belum punya sejarah itu.

Ngomong-ngomong, sebenarnya Anda kenal baik dengan  presiden Jokowi?

Hanya beberapa kali bertemu, saat pak Jokowi menjadi bupati Solo.  Saat saya menerima penghargaan di istana, beliau Presiden, malah  saya ditanya ini itu, ya ngobrol. Beliau kan bupati senior, dibanding  saya. Tukar pengalaman.

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & JokowiHasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & JokowiHasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & JokowiHasto Wardoyo (Kepala BKKBN) Tentang Seks Milenial, Gerakan Bela-Beli Kulonprogo & Jokowi

 

Konvergensi Majalah MATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »