Inilah Fotografer Media Massa Beken Pada Masa Analog

Oleh: SS Budi Raharjo MM

foto dok: WA Group & Stage Photography

MATRANEWS.id Inilah Fotografer Beken Yang Pada Masa Analog Sering Nongkrong di Rapico 1984-2004

Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.

Inilah fotografer beken dan pemilik studio foto yang pada masa analog punya hubungan unik atau bekerja di bidang media massa terkemuka.

Di tengah riuhnya kota Jakarta, terdapat suatu tempat yang menjadi “sarang nongkrong” bagi para fotografer hebat pada masa itu. Di masa motret masih pake rol film.

Rapico, begitu mereka menyebutnya. Momen kongkow 1984 hingga 2004 di suatu lokasi kawasan lintas melawai, Jakarta Selatan.

Fotogfafer lawas eks Melawai (Rapico Melawai dan Studio 88) ini, lagi foto-foto dan sedang reuni di Townhouse unit, kawasan Cilandak Dalam, Jaksel.

Silaturahmi dan makan-makan, sembari ngobrol. Mereka mengenang masa lalu. Di tempat di mana bukan hanya gambar-gambar yang dicetak, namun juga cerita-cerita hidup yang dibicarakan.

Dalam era analog yang gemilang, sosok-sosok fotografer ini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia media massa gaya hidup atau news.

Mereka adalah sosok yang selalu berada di garis depan, siap menangkap setiap momen berharga yang terjadi di sekitar mereka.

Di Rapico, tempat di mana kertas foto dicuci, dan diskusi mengalir seperti arus yang tak pernah berhenti, mereka bertemu untuk berbagi cerita, pengalaman, dan tentu saja, passion mereka terhadap seni memotret.

Bayangkan sejarah tanpa keberadaan mereka.

Berapa banyak momen penting yang akan terlewatkan tanpa kehadiran seorang fotografer?

Dari sorotan panggung fesyen yang memukau, hingga konser musik dan detik-detik dramatis dalam panggung politik, semuanya terekam secara sempurna berkat jasa mereka.

Fotografer bukan hanya sekadar pengamat. Mereka adalah cermin bagi dunia.

Melalui lensa kamera mereka, kita bisa menyaksikan keindahan alam, kepedihan manusia, keajaiban teknologi, dan segala nuansa kehidupan di antaranya.

Setiap gambar yang mereka hasilkan adalah sebuah kisah yang mampu mengungkap lebih dari sekadar kata-kata.

Tak heran jika mereka sering disebut sebagai pasukan kejutan jurnalisme.

Mereka adalah penjaga sejarah yang siap melompat ke dalam setiap tindakan, menangkap setiap momen bersejarah, dan mengabadikannya untuk selamanya.

Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang tak kenal lelah dalam menjalankan tugasnya.

Maka, mari kita hargai peran mereka dalam dunia media. Mari kita hargai dedikasi dan keberanian mereka untuk selalu berada di garis depan, siap menangkap setiap momen berharga yang terjadi di sekitar kita.

Tanpa mereka, dunia media akan kehilangan salah satu elemen paling berharga: kejutan di balik setiap jepretan mereka.

Fotograferlah yang memiliki kekuatan untuk mengabadikannya dalam sebuah gambar yang dapat berbicara lebih dari seribu kata.

Mereka adalah mata dunia, melalui lensa kamera mereka, kita dapat melihat keindahan alam, penderitaan manusia, keajaiban teknologi, dan segala sesuatu di antaranya.

Mereka tidak hanya menyampaikan gambar tapi juga emosi, cerita, dan kebenaran yang seringkali terlupakan di balik kata-kata.

Mereka adalah orang-orang yang siap untuk melompat ke dalam tindakan, menangkap momen-momen yang paling dramatis, dan membuat kita terpukau oleh keindahan dan kekuatan gambar yang mereka hasilkan.

Tanpa mereka, dunia media massa akan kehilangan satu elemen yang tak ternilai harganya: kejutan di balik lensa. Klik!

foto dok: WA Group & Stage Photography

Tinggalkan Balasan