Budaya  

Intermeso, Oh My God, Please, Deh, Ah!

Penulis : Sekar Ayu Asmara (Penulis/Sutradara Film)

MATRANEWS.idTentu, banyak yang tidak setuju bahwa laki-laki berpoligami justru dianggap perkasa.

Ia pasti sukses secara materi, karena mampu menafkahi lebih dari satu keluarga. Ia pasti pejantan tangguh, karena punya stamina ranjang luar biasa.

Ia pasti pencinta ulung, karena mampu membagi hati dengan adil. Ia pasti jago manajemen, karena mampu mengatur berbagai rumah tangga sekaligus.

Bahkan, kalangan tertentu menganugerahkan piala Poligami Awards. O. M. G. P. D. A.! ( Oh my God, please deh, ah!).

Rupanya, poligami sudah dianggap sebagai bentuk prestasi.

Laki-laki berpoligami itu pengecut, karena mereka terang-terangan memanfaatkan ketidakberdayaan perempuan.

Terlebih dahulu, penting kita samakan definisi pengecut.

Menurut kamus dalam bahasa mana pun, pengecut adalah orang yang bernyali kecil. Orang yang melarikan diri dari bahaya.

Orang yang memperdaya mereka yang lemah. Menikam musuh dari belakang pun dianggap tindakan pengecut. Menipu dan berbuat curang juga disebut tindakan pengecut.

Lalu, apa bedanya dengan laki-laki yang hanya berani memanfaatkan ketidakberdayaan perempuan?

Tidak ada satu perempuan pun di muka bumi ini sudi dimadu. Kalau pun perempuan menerima, itu pasti karena terpaksa.

Jangan terkecoh. Kalau pun mereka mengatakan ikhlas di bibir, bisa dijamin hatinya berdusta. Dalam saat pacaran pun, mana ada perempuan mau diduakan. Ini manusiawi.

Memangnya, laki-laki mau diduakan?

Perempuan menjadi bagian dari poligami karena tidak berdaya. Biasanya, mereka takut mengarungi kehidupan seorang diri.

Mereka cemas membayangkan masa depan anak-anak. Mereka takut tidak bisa merasa bahagia. Tapi yang terutama, mereka merasa tak sanggup menafkahi diri mereka sendiri.

Kecemasan ini menghasilkan ketidakberdayaan. Yang dengan mudah diperangkap laki-laki berprinsip poligami.

Petiklah inspirasi dari sikap artis Jadul, Dewi Yull, perempuan tegar yang paham dirinya punya banyak kelebihan.

Begitu diancam poligami, ia memilih bercerai. Ia yakin tanpa suami pun, ia bisa menghidupi diri sendiri. Bisa menghidupi anak-anaknya. Dan, bisa tetap tersenyum.

Suka tidak suka, poligami menghasilkan suatu sistem ranking. Istri pertama. Istri kedua. Istri ketiga. Istri keempat. Istri kelima, dan istri seterusnya. Bisa dipastikan istri pertama merasa punya nilai lebih karena ia yang pertama.

Di bidang apa pun, masyarakat menerapkan sistem ranking. Kita semua pasti setuju, ranking di sekolah ditentukan atas dasar nilai.

Sebuah kontes menyanyi seperti Indonesian Idol dalam menentukan juara pertama mereka, juga dengan sistem ranking melalui perolehan SMS.

Bahkan, presiden yang sekarang sekalipun bisa menjadi presiden karena ranking, jumlah suara pemilih lebih banyak dibandingkan dengan pesaingnya.

Lalu, bagaimana dalam poligami? Apakah nilai istri pertama lebih tinggi daripada istri kedua? Dan, berapa nilai istri kelima?

Jangan disamakan ranking ini dengan urutan lahir anak-anak. Karena, satu-satunya ranking yang tak berdasarkan nilai adalah kelahiran anak.

Kelahiran merupakan sesuatu yang paling alami. Bagi seorang ibu, anak keempat dan anak ketujuh sama nilainya.

Lebih jauh, tanyakan pada setiap ibu. Apakah seorang ibu pernah mendoakan anak gadisnya kelak menjadi istri kedua?

Lebih menarik lagi, tanyakan pertanyaan yang sama kepada ayah yang punya anak perempuan.

Lakil-laki monogamis adalah laki-laki perkasa. Monogami jauh lebih sulit dibandingkan dengan poligami. Menekan hasrat melirik perempuan lain sulit bagi laki-laki.

Ini seakan melawan kodrat lelaki. Menghormati janji pernikahan bukanlah pekerjaan mudah.

Seperti segalanya dalam hidup, pernikahan adalah tebakan gaib. Tak ada manusia yang mengerti apa yang akan terjadi esok.

Tak ada yang bisa menjamin, pasangan kita akan selalu sehat rohani dan jasmani. Ikrar setia sehidup semati merupakan janji paling berat.

Laki-laki menjadi perkasa, karena berani mencintai satu perempuan. Mendampinginya, dalam suka maupun duka.

Kenanglah sikap Edward, pewaris takhta kerajaan Inggris. Kalangan istana tak menyetujui hubungan cintanya dengan Wallis Simpson, janda berkebangsaan Amerika.

Edward lalu melepaskan hak atas takhta demi mengawini perempuan yang ia cintai. Bukankah sikap Edward merupakan tindakan laki-laki perkasa?

Dan dalam monogami, cinta utuh itu tak terbelah. Bukankah ini lebih indah?

Tinggalkan Balasan