Jenderal Dudung Abdurachman: Kisah Perjuangan dari Kecil Hingga Puncak Karier Militer

MATRANEWS.id — Dalam sebuah momen HUT TNI ke 78 di Silang Monas Jakarta, tampak Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia, SS Budi Raharjo yang juga Pemred Majalah MATRA dan CEO majalah EKSEKUTIF ngobrol dengan sosok pemimpin militer yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga penuh dengan sisi humanis yang mengagumkan.

Dialah Jenderal Dudung Abdurachman, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD), seorang sosok yang telah menorehkan jejak perjalanan hidup luar biasa dan sukses yang patut diinspirasi.

KASAD Dudung Abdurachman, dalam obrolan yang mengalir alami, Dudung berbagi tiga resep sukses yang telah membuktikan nilainya dalam hidupnya.

Pertama, lupakan masa lalu dan pandanglah masa depan dengan optimisme. Kedua, lakukan segala sesuatu secara optimal. Dan yang ketiga, perjuangkan cita-cita dengan tekad yang kuat.

Namun, perjalanan hidup Jenderal Dudung tidak selalu mulus seperti saat ini.

Lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 16 November 1965, Dudung berasal dari Akademi Militer (Akmil) tahun 1988. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Pangdam Jaya sebelum kemudian dipercayakan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Nama Dudung Abdurachman semakin melambung di mata publik saat ia memberikan perintah untuk mencopot baliho Habib Rizieq Shihab pada September 2020.

Keputusan tegas ini membuatnya menjadi buah bibir masyarakat. Dudung menjelaskan, “Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq, itu perintah saya.”

Sebelumnya, Dudung juga telah mengisi berbagai jabatan strategis lainnya, termasuk Gubernur Akmil pada tahun 2018-2020, serta Wakil Asisten Teritorial KSAD dan Staf Khusus KSAD. Perjalanan kariernya hingga menjadi perwira tinggi tidaklah mudah.

Dalam perjalanan hidupnya, Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ini harus menghadapi berbagai rintangan.

Ayahnya meninggal dunia saat Dudung masih SMP pada tahun 1981. Sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, Dudung merasa tanggung jawab untuk membantu ibunya mencari nafkah.

Dengan gigih, ia menjual koran, mengantar koran ke pelanggan sejak pukul 4 pagi, dan bahkan menjajakan kue klepon di lingkungan Kodam III/Siliwangi, Jawa Barat, setelahnya.

Dudung sengaja memilih sekolah di siang hari agar dapat membantu ibunya dengan pekerjaannya.

Saat hampir setiap hari ia mengantar kue, Dudung mulai dikenal oleh tentara yang berjaga di depan pintu. Namun, satu hari, ia mendapat perlakuan kasar dari penjaga baru yang belum mengenalnya.

Kue-kue yang dibawanya ditendang hingga berhamburan. Kejadian itu memicu keinginan besar dalam diri Dudung untuk menjadi perwira tinggi.

Dengan tekad yang kokoh, Dudung melanjutkan perjuangannya. Ia berhasil masuk Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah, dan tiga tahun kemudian lulus sebagai Letnan Dua.

Dari situlah, perjalanan karier militernya semakin menanjak hingga mencapai puncak sebagai KASAD.

Dudung Abdurachman adalah contoh nyata bahwa tekad, ketekunan, dan semangat juang yang kuat dapat mengatasi segala rintangan.

Dalam perjalanan hidupnya, ia tidak hanya mencapai sukses dalam karier militer, tetapi juga mempertahankan sisi humanisnya yang luar biasa.

Pada 19 November 2023, Jenderal Dudung Abdurachman akan memasuki masa pensiun.

Apa rencana dan sisi lain dari Jenderal Dudung Abdurachman disebut akan memasuki masa pensiun pada 19 November 2023? Simak wawancara majalah MATRA edisi cetak bulan depan.

https://www.hariankami.com/profile-kami/23610391279/kepala-staf-tni-angkatan-darat-kasad-jenderal-dudung-abdurachman-di-hut-tni-ke-78-di-silang-monas-jakpus

foto: istimewa dok Andi Beritamiliter-PK

 

 

 

Tinggalkan Balasan