Nasional

Jenderal Moeldoko Berubah Nama

Moeldoko Hasibuan, Kepala Staf Presiden Republik Indonesia

41Views

Moeldoko akhirnya disematkan Gelar Tongku Namora Sende Hasibuan

MATRANEWS.id — Jika Anda search kata Moeldoko Hasibuan, maka yang muncul dalam laman pertama dari nama itu adalah Jenderal Moeldoko.

Pria kelahiran Kediri di desa Pesing, Purwosari, Jawa Timur 8 Juli 1957. Anak bungsu dari 12 bersaudara, putera Moestaman dan Moestamah seorang pedagang kecil yang rajin tirakat (puasa) Senin dan Kamis.

Asli Jawa, pria yang dimasa kecil rela bekerja mengangkut pasir dan batu dari sungai, semua dilakukannya untuk menambah penghasilan orangtuanya.

Masuk Akademi Militer pada tahun 1977, dan lulus pada tahun 1981, dengan memperoleh penghargaan Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik.

Karirnya dan pengalaman tempurnya banyak, dari Operasi Seroja di Timor-Timur tahun 1984, sebagai Pasukan Garuda untuk misi di Kongo tahun 1995, dan sempat ditugaskan ke Selandia Baru, Jepang, Singapura, Kuwait, Irak, hingga Kanada dan Amerika Serikat. Riwayat memimpin territorial pun dirasakan.

Mantan Panglima Kodam XII Tanjungpura tahun 2010 dan Panglima Kodam III Siliwangi. Kemudian Ia diangkat sebagai Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) hingga dipercaya sebagai Panglima TNI menggantikan Agus Suhartono.

Doktor Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2014 ini sekarang “pasang badan” untuk Jokowi. “Kalau ada yang mengganggu Presiden Jokowi, berhadapan dengan saya,” ujar pria yang kini menjabat Kepala Staf Kepresidenan RI.

Kamis (6/12/2018), Jendral (Purn) Moeldoko resmi menyandang marga Hasibuan dan sudah menjadi keluarga besar marga Hasibuan.

Penabalan marga Hasibuan kepada Moeldoko ini dilaksanakan langsung oleh DPP Marga Hasibuan Dohot Anak Boru di Jalan Pangkalan Mahsyur, Medan Johor, Medan.

Suasana khas adat Mandailing Natal terasa begitu kental sepanjang acara penabalan marga Hasibuan kepada Moeldoko berlangsung.


Moeldoko yang memakai Ampu (penutup kepala khas laki-laki Mandailing).

Ditempatkan di sebuah kursi megah. Didampingi para Raja Panusunan Buluh. Moeldoko Hasibuan, tampak duduk berdampingan dengan Raja Panusunan Bunung untuk mendengarkan nasihat dari para Raja Mandailing.

Rangkaian acara adat berlangsung cukup cepat. Moeldoko akhirnya disematkan Gelar Tongku Namora Sende Hasibuan. Artinya adalah raja pertama Hasibuan di Tapanuli Selatan.

Moeldoko langsung mendapat ulos dari para ketua adat.

Begitu mendapat ulos, Moeldoko melangsungkan Tortor Suhut bersama para raja adat.

Moeldoko sangat mengapresiasi atas pemberian marga Hasibuan. “Dengan peristiwa budaya ini, mudah-mudahan bangsa Indonesia menyadari betul bahwa budaya adalah solusi bangsa kita,” ujarnya. “Pendekatan budaya adalah pendekatan yang sangat efektif,” paparnya.

Berjanji membesarkan bangsa lewat marga Hasibuan. “Saya sudah buktikan itu. Saya jadi pangdam di Siliwangi. Pertama kali yang saya kumpulkan, berdiskusi adalah budayawan. Di sini, saya mendapat anugerah. Peristiwa budaya yang sangat besar. Saya syukuri ini. Sebuah kehormatan bagi saya,” ulasnya.

baca juga: majalah MATRA cetak (print) terbaru — klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas