Kafein Bantu Pertajam Ingatan, Klik Ini Biar Jelas

MATRANEWS.id — Kafein Bantu Pertajam Ingatan. Tak hanya melawan kantuk, kafein juga pertajam ingatan jangka panjang.

Komponen kafein paling sering dikaitkan dengan minuman kopi. Mungkin karena paling sering orang menemukan zat ini pada minuman favotir kebanyakan orang di dunia. Tapi kafein juga ada pada minuman teh, sebagian besar minuman bersoda, dan di semua jenis minuman berenergi.

Apakah di kopi, di minuman cola, atau yang berenergi; kafein inilah yang membuat peminumnya jadi segar, terjaga, waspada, dan tidak mengantuk.

Tak heran banyak orang kecanduan minuman yang mengandung kafein ini. Betapa tidak, mereka ibarat baru bangun setelah menenggak secangkir kopi, misalnya. Ini minuman yang sarat kafein.

Tak sedikit pula yang wajib menenggak minuman berenergi jika harus lembur atau mengemuikan kendaraan semalam suntuk. Memang, untuk urusan menjaga kebugaran, kafein jagonya. Mungkin yang bisa ngalahin dia hanya narkoba.

Kini ada kabar yang kian membuat kafein kinclong di mata penggemarnya. Selain untuk kebugaran, kafein ternyata juga mampu membantu mempertajam ingatan jangka panjang seseorang.

Hal ini ditemui sejumlah peneliti dari Johns Hopkins University yang menulis hasil penelitiannya di jurnal Nature Neuroscience beberapa waktu lalu.

Temuan intinya adalah, zat kafein menunjang munculnya ingatan tertentu 24 jam setelah dikonsumsi.

“Kami sudah tahu kafein punya dampak mempertajam beberapa fungsi kognitif (ingatan, pengenalan obyek, berhitung, dan sebagainya) tetapi pengaruhnya bagi penguatan ingatan sehingga tak mudah luntur belum pernah diteliti secara mendalam pada manusia,” ungkap Michael Yassa, ketua tim peneliti yang juga asisten profesor di Johns Hopkins University itu. “Kami temui, ada efek spesifik kafein pada memori 24 jam setelah dikonsumsi.”

Uji Klinis

Tim peneliti Johns Hopkins University ini melakukan percobaan double blind di mana para partisipan penelitian yang tidak biasa mengonsumsi (makan atau minum) produk berkafein diberikan (a) tablet kafein 200 mg atau (b) tablet plasebo (tidak mengandung kafein).

Pemberian tablet ini diberikan lima menit setelah para peserta diperlihatkan pada sejumlah gambar (images) atau ilustrasi.

Untuk mengetahui tingkat kadar kafein dalam tubuh para peserta maka tim peneliti juga mengambil sampel air liur mereka. Pengambilan sampel atau contoh air liur diambil saat sebelum mengonsumsi tablet.

Setelah itu sampel diambil satu jam, tiga jam, dan 24 jam setelah mengonsumsi tablet.

Keesokan harinya kedua kelompok peserta penelitian (yang mengonsumsi tablet kafein maupun placebo) diuji kemampuannya mengingat gambar-gambar yang diperlihatkan ke mereka sehari sebelumnya.

Pada ujian kali ini para peserta diperlihatkan pada gambar-gambar yang sebagian sama dengan yang dipertontonkan sehari sebelumnya.

Selain itu dipertunjukkan pula beberapa gambar yang sepenuhnya baru dan beberapa yang hanya mirip dengan beberapa gambar kemarin.

Penelitian menemukan, lebih banyak anggota kelompok pengonsumsi kafein dibanding kelompok plasebo (non-kafein) yang tepat mengenali “kemiripan” beberapa gambar dari ujian hari pertama dengan hari kedua.

Kemampuan melihat adanya kemiripan (similarity) antara dua gambar dianggap lebih tinggi daripada sekadar mampu melihat dua gambar yang sama. Kemampuan melihat kemiripan disebut pattern separation dan menandakan daya retensi (simpan) ingatan yang lebih tinggi.

Dampak Lanjutan

Lewat penelitian ini dapat disimpulkan kemampuan lebih tinggi untuk mengenali images (bisa membedakan antara yang mirip dengan yang sama persis) diperoleh berkat adanya asupan kafein.

Penelitian ini juga memastikan peningkatan daya ingat peserta itu karena asupan kafein yang berdampak pada proses kerja otak. Jadi bukan karena orang menjadi lebih segar (atau tajam ataupun terjaga) akibat mengonsumsi kafein.

Penelitian ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan lanjutan. Di antaranya, bagaimana mekanisme kerja otak itu sehingga zat seperti kafein bisa meningkatkan daya ingatannya?

Kedua, seberapa jauh pemberian kafein ini berdampak pada berbagai kelompok usia atau yang berbeda kelamin (gender difference)?

Ketiga, apakah kafein ini berpengaruh kepada penyakit yang mengganggu fungsi kognitif seperti Alzheimer disease? Misalnya, jangan-jangan kafein dapat mengurangi parahnya dampak penyakit ini.

Ternyata zat kafein yang terdapat pada kopi, minuman berenergi atau yang mengandung soda itu bukan hanya mampu membuat kita merasa lebih segar-bugar tetapi juga punya berbagai manfaat lain.

Kalangan pecinta kopi akan mengatakan kerja jantung juga akan lebih optimal bila meminum 1-2 cangkir kopi sehari. Pasti tidaknya itu kita masih harus menunggu.

Kelak bakal ada studi ilmiah yang membenarkan atau mematahkan tesis itu.

Adapun yang lebih pasti, berkat penelitian tim dari Johns Hopkins University, konsumsi kafein (termasuk dari minuman kopi) mampu memperbaiki daya ingat atau memori.

Dan itupun termasuk ingatan jangka panjang, yakni kategori ingatan yang selama ini dianggap paling sulit untuk diukur atau dilakukan percobaan terhadapnya.

#sumber: majalah EKSEKUTIF

Tinggalkan Balasan