Tokoh

Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P. “Tegakkan Hukum di Laut!”

539Views

MAJALAH MATRA – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi seakan tengah menuliskan sejarah untuk dirinya sendiri. Menjadi orang Sunda kedua setelah Laksamana R.E. Martadinata yang menjadi orang nomor satu di AL tentu menjadi torehan sejarah menakjubkan, baik bagi diri, bangsa, dan negara.

Pria kelahiran Batujajar, Bandung, Jawa Barat, 26 Mei 1960 itu dikenal sebagai pribadi yang mandiri memegang teguh disiplin dan tekun dalam belajar. Kendati memimpin TNI AL, sosoknya tetap bersahaja, rendah hati, serta pintar menempatkan diri, disebut-sebut pas di era keterbukaan TNI terhadap perubahan serta berjiwa inklusif.

Magister Administrasi Publik (MAP) atau program S2 di Universitas Hang Tuah, Surabaya ini bahkan tergolong “nyentrik”, tak seperti tentara umum yang kaku. Pria yang menyempatkan diri sekolah lagi di Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelma menjadi sosok prajurit yang bersahaja dan disenangi karena sikapnya yang rendah hati dan mudah diterima berbagai kalangan, baik bintara, tamtama, hingga perwira.

Penghobi bulu tangkis dan renang ini sosok yang ramah dan murah senyum, serta agamis, juga bersih dari kancah politik. Keramahannya pun terlihat saat ia membolehkan dirinya “diganggu” di tengah rentetan acara yang padat. Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) TNI angkatan ke-28 tahun 1983 itu selama ini bisa disebut “menyelam” publikasi diri.

Guna meningkatkan kembali budaya maritim seluruh elemen masyarakat, ia pun membuka diri terhadap kepentingan publikasi dan tak canggung berkumpul dengan awak media. “Kita ngobrol yang berkaitan Angkatan Laut, semisal membentuk idealisme sebagai bangsa bahari. Kalau mau bicara yang pribadi kita bicara di rumah saja,” ujar pria yang sudah sejak lama membuka jaringan Whatsapp-nya 24 jam bagi wartawan, dengan sikap santun.

Karena itu, sepanjang perjalanan karier militernya, kenaikan pangkat serta jabatan yang diemban Laksamana Ade Supandi selama ini murni karena kemampuan dan dedikasi serta loyalitasnya di dalam melaksanakan tugas. Bukan karena dikatrol atau karena dekat dengan kekuasaan.

Hanya lewat prosedur aplikasi Whatsapp, Majalah MATRA pun mendapat jadwal ekseklusif untuk mewawancarainya. Kali ini MATRA mengutus S.S. Budi Rahardjo dan Yul Adriansyah guna mewawancarai seputar poros maritim, kesiapan TNI AL, kelengkapan alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta perjalanan masa kecilnya di Batu Jajar, Jawa Barat.

Dengan campuran logat sunda yang khas, suami Endah Esti Hartanti Ningsih ini menjawab lugas setiap pertanyaan. Tawanya renyah tiap kali disinggung masa kecil yang bahagia, kebiasaan ngurek alias mencari belut di sawah, indahnya mengenyam pendidikan pondok pesantren serta hal-hal humanis yang selama ini jarang dibuka ke publik.
Berikut wawancaranya:

****
Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan Indonesia ke depan akan fokus pada dunia maritim. Apa yang Anda tangkap dari pencanangan ini?

Indonesia sebagai negara maritim dengan posisi strategisnya antara dua samudera: Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Karena itu, sudah saatnya menegaskan diri sebagai Poros Maritim Dunia. Pemerintah memandang bahwa posisi sebagai Poros Maritim Dunia membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun kerjasama regional dan internasional bagi kemakmuran rakyat.
Berbagai kebijakan pun diarahkan untuk memperkuat tujuan tersebut, di antaranya upaya membangun kembali budaya maritim Indonesia, pengelolaan sumber daya laut, pengembangan dan konektivitas maritim, diplomasi maritim, dan pembangunan kekuatan pertahanan maritim. Semua itu jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan mengembalikan Indonesia kepada kejayaannya sebagai bangsa maritim dunia.

Lalu, apa langkah Anda dalam upaya membangun kekuatan pertahanan di TNI AL?

Terkait dengan upaya pembangunan kekuatan pertahanan maritim, maka pemenuhan kecukupan kekuatan tetap diperlukan dengan melanjutkan program pembangunan kekuatan pokok minimum atau MEF (Minimum Essential Force) yang didalamnya merupakan representatif kekuatan TNI Angkatan Laut yang disebut Sistem Senjata Armada Terpadu, yang terdiri dari kapal perang, pesawat udara, marinir, pangkalan, logistik dan komando pengendalian.
Kesemuanya tentu saja harus tetap di-update kebutuhan-kebutuhan tersebut, khususnya dalam mendukung kebijakan poros maritim dunia. Dengan terpenuhinya kekuatan kecukupan tersebut, TNI Angkatan Laut mampu tidak hanya dalam menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.
Namun demikian, TNI AL tentu tidak mungkin bergerak sendiri dalam upaya mewujudkan kedaulatan dan keamanan maritime, perlu kerjasama dengan instansi pemerintah sektor maritim dan stake holder kemaritiman termasuk sinergi pemikiran dengan institusi pendidikan juga sangat dibutuhkan.
Sumbangan pemikiran dan kerjasama dengan dunia pendidikan dibutuhkan dalam rangka membangun kembali budaya maritim Indonesia serta meningkatkan kesadaran bangsa Indonesia untuk menyadari dan melihat bahwa identitas, kemakmuran, dan masa depannya sangat ditentukan dari bagaimana pengelolaan lautan.

Atas dasar itukah Anda membangun sinergi dengan kalangan akademisi?

Tentu saja dalam membangun poros maritim bukan saja membangun negara maritim, tetapi juga menjadi bangsa maritim dan untuk mewujudkan nya melalui pendidikan. Untuk itu dalam rangka memperkuat sinergi pembangunan kemaritiman Indonesia, TNI AL menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta, antara lain Universitas Indonesia (UI) dalam hal ini khususnya dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
Jalinan kerja sama akan dituangkan dalam bentuk Nota Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama Bidang Riset dan Pengabdian Pada Masyarakat, antara TNI AL dengan FIB UI.

Anda mengedepankan efisiensi operasi di TNI AL. Bisa dijelaskan?
Program untuk melakukan efisiensi operasi dalam rangka kesiapan operasional TNI AL dan sudah dikomunikasikan dengan Mabes TNI melalui penggelaran pasukan secara merata di sejumlah daerah. Mulai tahun 2017 ini penataan gelar kekuatan angkatan laut diharapkan dapat terlaksana. Penggelaran pangkalan itu, kan bagian efisiensi operasi. Kalau ada satuan kita dekat dengan daerah operasi maka efisiensi dan efektivitas operasi dapat dicapai dengan dukungan logistik yang memadai di wilayah.
Selama ini gelar pangkalan kekuatan AL seperti pangkalan utama angkatan laut (Lantamal) dilakukan secara bertahap. Contohnya lantamal dulu kita hanya 3, kemudian sekian tahun menjadi 5. Alhamdulillah awal tahun 2016 sudah 14 lantamal. Jadi kita bangun dalam rangka efisiensi operasi dan logistik.

Anda juga menganggap penting adanya penggelaran pasukan. Mengapa?

Pentingnya penggelaran pasukan mengingat wilayah Indonesia jika dibentangkan sama dengan benua Eropa dan Amerika Serikat. Ke depan memang kebutuhan TNI AL itu tiga armada. Tidak hanya dua armada seperti sekarang ini.

Adakan rencana untuk menambah armada lagi?

Kita butuh armada di kawasan (lagi) di kawasan timur khususnya agar beban Pangarmatim tidak terlalu berat. Karena wilayah Armatim ini dari mulai perairan Tegal sampai ke perbatasan Papua. Paling tidak kita pendekatan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). ALKI I untuk Pangarmabar; ALKI II untuk Pangarmateng, dan ALKI III untuk Pangarmatim.

Sebenarnya dalam sejarah, TNI AL sudah membangun tiga armada yakni pada 1967 yaitu Armada Siaga, Armada Nusantara, dan Armada Samudera, kemudian dilikuidasi.

Apakah penambahan armada ini dimaksudkan demi tegaknya hukum di laut seperti yang Anda harapkan?
Penegakan hukum di laut harus bisa menjamin kepastian hukum. Kepastian hukum yang dimaksud adalah untuk tindak pidana yang terjadi wilayah laut Indonesia. Efisiensi dan efektivitas penegakan hukum di laut, harus bisa menjamin kepastian hukum. Hal yang penting adalah semua stakeholder penegakan hukum di laut bisa berkoordinasi tentang penyidikan dan penyelidikan pelanggaran di laut.
Kapal-kapal yang ditangkap dan diproses hukum cukup lama dan memakan waktu. Ada solusi?
Percepatan peradilan menjadi tujuan pemerintah. Kenapa bisa lama, berhenti di mana proses hukumnya, sedang kami lihat. Masalah penegakan hukum di laut sangat kompleks, karena itu dia berharap hasil rapat bersama Menko Kemaritiman bisa membuat proses hukum akan kapal bisa lebih cepat. Sesuai arahan pak Menko (Kemaritiman), bisa tidak proses lebih cepat.

****
Kendati tergolong ramah, bersahaja, dan murah senyum, Ade Supandi juga bisa bersikap tegas, khususnya bila menyangkut kedaulatan negara di laut. Sebagai contoh, ia pernah dengan tegas mengatakan Kapal Cina KM Kway Fey 10078 melanggar teritori Indonesia. Menurut dia, kapal tersebut berada di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia.

“Berdasarkan plotting daripada Lanal Ranai itu kan berada di wilayah kita, di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Itu harus kita bicarakan nanti,” kata Ade beberapa waktu lalu. Menurut dia, pelanggaran ini sudah ditanggapi Indonesia dengan mengirim nota protes ke Cina. Ade mengatakan TNI AL belum mengambil langkah dengan menambah armada atau mengambil tindakan karena pelanggaran ini masih diselesaikan dengan diplomasi.
TNI AL, kata Ade, akan terus memantau perkembangan situasi apakah menjadi meluas atau tidak. Menurut dia, jika dapat diselesaikan dalam kerangka diplomasi maka TNI AL tidak akan turut campur. Ade mengatakan belum akan menambah jumlah armada di Laut Natuna.
Pasalnya, pelanggaran yang dilakukan oleh kapal China itu masih merupakan konflik perikanan, bukan konflik yang mengganggu pertahanan negara. “Kita menambah armada sesuai dengan eskalasi, ini masih konflik perikanan,” katanya.
Sikap tegasnya juga terlihat saat ia melarang permainan Pokemon GO dimainkan para tentara di lingkungan TNI AL. Maklum saja, permainan Pokemon GO memang kontroversial, karena berbasis global positioning system (GPS) dan Internet serta dilengkapi dengan perangkat intelijen.
Fitur ini dapat merekonsiliasi citra fisik yang memetakan setiap sudut wilayah negara tempat pemain mengaktifkan permainannya. Fitur kamera secara real time dari Pokemon GO dapat memunculkan risiko keamanan, mengingat markas TNI merupakan obyek vital.

***

Dulu game Pokemon GO sempat dilarang di TNI AL. Ada apa?
Sebenarnya ada dampaknya bagi prajurit. Untuk orang luar ya silakan aja. Bagi prajurit jam kerjanya itu habis oleh Pokemon. Yang kedua jangan sampai karena Pokemon terus ngikutin alurnya artifisial yang dibuat skenario untuk mengikuti atau mencari-cari hingga masuk instansi militer, kan jadi aneh. Akibatnya kita curiga lah kita sehingga kita stop saja.
Bagi prajurit itu sebenarnya supaya dia jam kerjanya tidak sampai dimanfaatkan oleh pekerjaan yang bukan yang seharusnya sesuai tupoksinya dia. Jam kerja harinya Senin-Jumat, mulai jam 07.00-16.00 habis waktunya, ada Pokemon. Itu kan, juga bisa mengurangi kewaspadaan atau juga kesiagaan. Kalau mengenali teknologi kan enggak dilarang, tapi kalau kemudian memanfaatkan pada waktu yang tidak pas, kan ya enggak boleh.

Itu berlaku juga ketika di kapal-kapal?

Apalagi di kapal itu butuh konsentrasi 24 jam. Bukan hanya Pokemon saja, main handphone juga. Misalnya kapal memasuki pelabuhan lagi manuver, terus dia main hp kan enggak boleh, terutama yang dia istilahnya on work atau sedang jaga itu enggak boleh sama sekali, karena dia menjadi tidak siaga. Itu berisiko terhadap kapal.
Kapal ini kan mahal, artinya harus kita jaga betul sehingga dia tetap bisa menampilkan kesiagaan sesuai dengan tugas yang sedang dia laksanakan. Jadi tak boleh terus lalai dengan bermain game atau hape. Risikonya terlalu tinggi dan harus dibayar mahal nantinya bisa mengalami kecelakaan dan sebagainya. Karena itu larangan-larangan itu harus dipatuhi oleh semua prajurit yang sedang jaga di kapal khususnya.

Kalau bicara kapal, Anda pernah menyebutkan ada 71 kapal. Bisa dijelaskan?

MEF itu kita 151, nanti juga ada revisi tapi angka tidak jauh dari sana. Itu juga hasil validasi tentang postur AL yang ingin kita bangun dan tetap dengan program itu ada Minimum Essential Force ya. Artinya kekuatan pokok minimum dengan kekuatan itu diyakini kita masih mampu melakukan tupoksi dengan masa-masa yang bukan perang sebenarnya atau masa transisi kalau ada konflik memang kita ada peningkatan atau kecukupan untuk perang di laut.
Tapi diharapkan dengan MEF 151 itu juga ada angka menarik 151 itu kalau kita pakai huruf kan jadi ISI, he-he-he. Maksudnya semua perwira memahami bahwa postur MEF itu harus menjadi acuan dalam pemrograman kita. Diusahakan kita maintenance kekuatan AL juga karena kapal perang itu selalu dibatasi dengan usia kapal atau lifetime.

Berapa batas usia kapal perang ini ?

Dalam masa siklus waktu tersebut memang ada namanya MLM atau midlife modernization, modernisasi di tengah usia siklusnya dia. Rata-ata sih, kapal antara 20-25 tahun, nanti setelah 25 tahun itu ada namanya extended line. Program jadi perpanjang usia pakai hanya memang, kalau perpanjangan usia pakai nantinya itu akan berkaitan dengan beberapa performa yang menurun.

Apa kendala terkait kebijakan poros maritim setelah dipangkasnya anggaran?
Ya ada pengaruhya, tapi kita bermain dengan prioritas, karena anggaran sekian maka kita harus melaksanakan prioritas tetapi tidak mengabaikan pada essential task. Tugas esensinya dalam masa damai AL tetap harus hadir di laut di wilayah masing-masing sesuai dengan perbatasan Negara yang sudah ditetapkan. Itu juga bentuk eksistensi kekuasaan atas wilayah itu. Indonesia hadir di sana dalam kacamata internasional dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah perairan.

Lalu bagaimana menyiasati ketatnya anggaran ini?
Dengan keterbatasan anggaran maka kita harus selektif lagi. Hitungan kita misalkan kalau kita kondisi normal butuh sekian ribu ton bahan bakar, maka dengan dikuranginya anggaran kita harus selektif. Namun kita tidak boleh mengurangi kehadiran AL di perairan rawan. Ancaman masing-masing wilayah itu berbeda kompleksitasnya ada ancaman berkaitan dengan illegal fishing, dan sebagainya.

Perairan rawan ini termasuk kawasan seperti Natuna?

Ya, tidak hanya illegal fishing, Natuna juga berkaitan dengan keinginan Negara besar terkait masalah freedom of navigation. Juga mengamankan kepentingan kewajiban Negara pantai untuk menjamin keamanan perairannya. Ada juga alur laut kepulauan yang sudah merupakan implementasi dari inplus 82 yang harus kita buat dan persiapkan, otomatis juga harus diikuti dengan kemampuan kita mengamankan kawasan ini.

Bagaimana kondisi alutsista kita sendiri, bila dibandingkan dengan alutsista negara lain?
Kebijakan pemerintah kan bertahap. Bagaimanapun juga jenis kapal perang khususnya AL punya KRI, pesawat terbang Marinir, dan pangkalan support system, yang didukung dengan dukungan logistik harus bisa menjangkau kebutuhan KRI atau pesawat terbang di manapun dia berada. Berikutnya adalah sistem komando dari pengendalian.

Jangan sampai KRI tanpa komando. Kita kendalikan dengan efektif apakah menggunakan sarana komunikasi konvensional radio atau juga dengan digital sekarang.

Kita melakukan terobosan dengan membuat yang namanya kapal Fiber, yang kita sebut Kapal Angkatan Laut (KAL). Karena kapal itu harus dalam jumlah banyak yang kita siapkan tapi dari sisi anggaran tidak terlalu besar, yang penting hadir bila ada ancaman di perairan nusantara. Sekarang kapal fiber ini sudah tidak aman sehingga ditetapkan bahwa KAL harus dari bahan metal besi atau baja alumunium sehingga kalaupun terjadi benturan risikonya masih kecil.
****
Pengangkatan Laksamana TNI Ade Supandi sebagai Kasal didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 92/TNI/2014 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 31 Desember 2014. Ade Supandi, Perwira Tinggi bintang empat kelahiran Batujajar, Kabupaten Bandung tahun 1960 ini, resmi tercatat dalam lembaran sejarah bangsa sebagai pejabat Kasal ke-25. Ade merupakan KSAL kedua setelah Laksamana (Anumerta) R.E. Martadinata yang menjabat di periode 1959-1966 yang berasal dari wilayah Priangan.
Ade Supandi merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) TNI angkatan ke-28 tahun 1983. Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, diantaranya Komandan Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Komando Armada RI Wilayah Barat tahun 2009, Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 2011, Panglima Armada RI Wilayah Timur (Pangarmatim) dan Asrena Kasal.
Jabatan strategis setelahnya adalah sebagai Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI), berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/327/V/2014 tanggal 12 Mei 2014. Selanjutnya pada 31 Desember 2014, ia dilantik oleh Presiden Jokowi sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) menggantikan Laksamana Marsetio yang memasuki masa pensiun.
Namun, siapa sangka menjadi TNI AL bukanlah cita-citanya di waktu kecil. Ia malah bercita-cita jadi mahasiswa Politeknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) atau meneruskan usaha orangtuanya. Tapi, apa daya, bujukan seorang teman untuk mendaftar jadi taruna Akabri meluluhkan hatinya.

****
Anda dulu sempat masuk pesantren. Bagaimana ceritanya?

Bapak saya itu boleh dibilang pendidikan SD itu tak lulus karena kebutuhan hidup, sehingga tidak ingin anak-anaknya seperti beliau. Oleh sebab itu saya disekolahin lebih dengan perhatian penuh, sehingga saya tidak boleh main. Orangtua saya bilang agar tak seperti dia karena tak sekolah. Sebab, menurut beliau, tantangan hidup saya dengan beliau bisa berbeda, sehingga saya diharuskan sekolah.
SD saya di Batu Jajar, SMA-nya waktu itu ada rayonisasi saya harusnya kan masuk SMA Cimahi, karena rayonisasi akhirnya masuk SMA Cililin, sekitar 30 km dari Batu Jajar. Nah kakak saya itu sudah sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA). Orangtua bilang, daripada kamu bolak-balik kamu di sana saja kos. Cuma kakak saya bilang jangan nge-kos, tapi masuk pesantren. Jadinya saya sekolahnya di SMA, tapi tinggalnya di pesantren.

Dengar-dengar, saat masuk pesantren dulu berambut gondrong. Kenapa?

Enggak gondrong juga. Itu karena tren saat itu. Coba aja yang lain banyak yang gondrong juga celana cutbray, celana Koes Ploes.

Lalu, Anda tahu ada penerimaan di Akademi Militer dari siapa?

Kelas II SMA saya pindah ke Cimahi. Di situlah waktu itu ada orang promosi Taruna. Waktu saya kelas III tadinya sih saya enggak berminat, tiap hari lihat tentara masa masuk tentara. Sementara orangtua saya sebenarnya pengennya meneruskan usahanya, bidang penyamakan kulit dan konveksi. Kemudian ada teman ngajak daftar gitu, padahal waktu itu saya kan sudah daftar di Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Akhirnya ikutan daftar.

Cita-cita Anda berubah haluan?

Yang jelas orangtua tidak ingin saya itu biasa-biasa saja. Saya harus berilmu banyak, gitu saja. Waktu di pesantren, saya juga dinasehati untuk belajar mengaji, ilmu nahwu-sharraf. Belajar sedikit-sedikit ilmu fiqih kira-kira tak terlalu beratlah ya. Waktu daftar Taruna karena teman ngajak terus daftar ke AKABRI, he-he-he.

Anda masuk AL tak takut dipersepsikan playboy? Persepsi yang berkembang di masyarakat, AL itu playboy.

Kalau yang saya alami sih kayaknya enggak. Kalau baheula mungkin ya, saya tidak tahu karena kan saya tidak mengalami apa yang disebutnya stigma. Walaupun ada, mungkin itu kan satu kehidupan yang bisa saja terjadi bahwa orang datang ke suatu tempat, berkenalan, orang berkunjung ke kapal, mungkin saja jadi senang AL, kemungkinan juga kemudian kesengsem lalu pacaran. Tapi kadang-kadang harus kita lapor juga kepada komandan kapal jangan sampai anak buahnya berbuat yang tidak-tidak. Apalagi, sekarang zaman media social, jadi bisa ngerem sendiri-sendiri, daripada nanti fotonya tersebar. Rata-rata sekarang relative tertiblah.

Musik yang Anda gemari zaman itu Koes Ploes atau Panbers ya?

Zamannya Panbers, D’Loyd, kemudian KoesPloes sebenarnya orangtua terlalu protektif. Cuma kadang-kadang kalo main musik, bapak saya enggak senang. Tapi saya punya gitar, kakak saya punya gitar juga. Soundsystem musik juga lengkap di rumah.

Anda juga sempat melewati masa jaya Titiek Puspa?

Oh dengarlah, semua kaset punya di rumah. Malah saya itu dulu pernah pengen punya speaker yang bisa kayak tetangga. Saya bikin sendiri, merakit, beli penguatnya, bikin boksnya dengan menggergaji sendiri. Saya masih SMP.

Kini, Anda disebut-sebut sebagai orang Sunda kedua yang jadi orang nomor satu di AL. Anda bangga?

Ha-ha-ha. Begini ceritanya. Orang kan biasanya punya obsesi, ada dari suku-suku kita yang bermacam-macam, ada yang mewakili sukunya memangku jabatan suatu posisi. Semua orang juga punya kesempatan karena sekarang sudah canggih dengan bacaan dengan naskah dokumen.
Ternyata kastanya dari Sunda baru Pak Martadinata, dari Pak Martadinata ke saya kan 50 tahun, itu yang ke-25 ya. Kalau saya sih menganggapnya sebagai siklus sajalah. Jangan lupa sebenarnya kalau saya pelajari di tiap angkatan ini-itu agak spesifik menonjolnya ada era di mana satu angakatan itu yang menonjol itu justru orangorang yang justru dari Manado.
Kalau menurut saya semacam ada satu siklus di mana kemudian yang menonjol pada angkatan itu maksudnya angkatan angkatan masuk di AAL itu orang Manado. Ada juga yang dari Madura, Jawa, dan sebagainya. Saya kebetulan mungkin era ini orang Sunda, Aspem saya orang Sunda, Wakasal Sunda campuran, kemudian Askes orang Sunda. Berikutnya mungkin bisa gantian sehingga sebenarnya tidak menjadi satu fenomena khususlah, alamiah saja karena kenyataannya begitu.

Bapak kan berulang tahun bulan ini, ada yang ingin diucapkan dan kami dengar?

Sehat walafiat dan segar bugar, bisa berkarya untuk bangsa dan negara.

Kasih tausiyah dong, sedikit?

Besi itu kuat, tetapi ada api yang melelehkannya. Api itu kuat, bisa melelehkan besi, tetapi bisa dipadamkan dengan air. Air itu kuat, tapi matahari menguapkannya. Matahari yang terang panas, namun cahayanya dihalangi awan dan kabut. Awan dan kabut itu juga dapat hilang karena didorong angin. Angin itu kuat, manusia memanfaatkannya untuk mengeringkan dan melayarkan kapal. Kapal itu kuat, tetapi kalau enggak dibuat menjadi bahtera yang tahan dengan gelombang akan bisa tenggelam. Oleh karena itu, selalu lah membuat perencanaan yang baik untuk kehidupan dan berpenghidupan.

Mencerahkan dan menjadi pencerahan. Ada lanjutannya enggak?

Pandai-pandai memanfaatkan usia dan umur dari sang Pencipta. Karena dari total usia dan umur manusia, rata-rata 1/3nya untuk tidur. Dan 1/3nya untuk kerja (bisa kerja focus atau kerja-kerjaan) dan 1/3nya hanya berleha-leha atau wasting the time atau dan atau…..1/…..digunakan untuk beribadat kepada Tuhannya. Jadi kalua usia 75 tahun, maka 25 tahunnya itu tidurrrrrr atau slappen. Yang kerja 25 tahun kerja benar atau kerja-kerjaan. Hehehe. Nah, yang 25 tahun itu apa? Mungkin nothing to do. Sedangkan untuk Tuhannya mungkin sangat kecil sekali. Gimana, ada komentar?

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »