Ekonomi

Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19?

Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19?

Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19? Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19?

MATRANEWS.id — Di awal penyebab Covid-19 ini berjangkit, sejumlah gejala berupa batuk, demam dan sesak napas jadi pertanda yang patut diwaspadai. Bagaimana dengan gangguan pencium?

Hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa jadi gejala corona yang paling khas ditemukan.

Ketika seseorang tak mampu mencium berbagai aroma dan bau dari benda-benda di sekitar dengan baik. Ada masalah pada saraf olfaktori yang bertugas untuk mengontrol wewangian yang terhirup oleh hidung.

Berdasarkan National Health Service yang berpusat di Inggris,  perubahan kondisi yang terjadi saat indra penciuman tak bisa mencium bau. Maka,  ini akan mempengaruhi persepsi rasa.

Selain kehilangan indra penciuman, ini juga bakal berdampak pada indra perasa sehingga bisa mempengaruhi nafsu makan dan kehidupan

Di era covid,  dampak Covid-19 pada indra penciuman termasuk yang banya diteliti.

Konsorsium Global untuk Penelitian Kemosensori juga melakukan penelitian,  bertujuan untuk menemukan hubungan pasti antara penyakit pernapasan, seperti infeksi virus corona jenis baru dan pengaruhnya terhadap bau serta rasa.

Bagaimana fungsi indra penciuman dan indra pencecap. Ketika ketidakmampuan seseorang untuk mengenali aroma makanan atau minuman secara tepat. Saat terjadi penurunan fungsi indra penciuman.

Seorang dokter penyakit menular berusia 35 tahun yang terinfeksi Virus Corona mengatakan bahwa kondisi indra penciumannya memburuk. Wine atau anggur merah yang diminum terasa seperti bensin.

Begitu pula dengan aroma makanan lain, seperti bawang merah, bawang putih, daging, dan kopi. Infeksi Virus Corona menyebabkan indra penciuman salah mengidentifikasi aroma makanan dan minuman.

Menurut Healthnews.id, seng, vitamin A, dan antibiotik terkadang juga diresepkan untuk mengobati gangguan penciuman ini.

Para peneliti berspekulasi bahwa jaringan dalam hidung perlu diobati agar kemampuan mencium bisa kembali.

Penelitian Mengenai Dampak Covid-19 Pada Indra Manusia

Berita Menarik :  Superholding BUMN Indonesia Incorporations

Tentang hilangnya kemampuan mengenali rasa dan bau.  Ternyata, kasus parosmia dan phantosmia terkait Covid-19 masih cukup jarang terjadi.

Sebuah penelitian dari Juli mengatakan bahwa 7% dari sekitar 4.000 orang mengalami gangguan indra penciuman.

Penyebab munculnya gejala tersebut masih belum bisa dipastikan. Dilansir Health 24, sekitar 7,5 persen responden penelitian melaporkan parosmia dan sekitar 8,3 persen mengalami phantosmia.

Gangguan tersebut juga muncul lebih lama setelah pemulihan. Terkadang, ini bahkan dapat terjadi berbulan-bulan setelah pasien Covid-19 sembuh dari infeksi.

Studi terbaru berfokus pada orang yang baru sembuh, yang berarti tidak ada cukup waktu untuk menyelidiki prevalsensi sebenarnya dari kondisi distorsi bau ini.

Ada beberapa bahan alami yang bisa digunakan penderita parosmia untuk melatih indra penciumannya yang terganggu. Salah satunya adalah mengunakan essential oil.

Cobalah untuk menghirup aroma essential oil sebanyak dua kali dalam sehari, masing- masing selama 10 hingga 15 detik.

Anda perlu mengulangi latihan itu selama beberapa minggu. Bahan lain yang bisa Anda jadikan latihan adalah aroma bunga mawar, lemon, cengkih, dan minyak kayu putih.

Selain itu, hindari pula makanan atau minuman yang menimbulkan bau tidak sedap saat Anda masih dalam proses pemulihan.

Majalah Healthnews.id juga pernah melaporkan bahwa ada peningkatan yang stabil dari kelompok dukungan daring selama pandemi bagi orang-orang yang berjuang dengan parosmia, phantosmia, dan anosmia.

Orang biasanya cenderung pulih dari parosmia dan phantosmia dengan cukup cepat karena saraf yang rusak memperbaiki dirinya sendiri.

Satu studi menemukan bahwa lebih dari separuh partisipan cenderung memperbaiki atau sepenuhnya memulihkan kemampuan mengenali bau dan rasa setelah sekitar satu bulan.

Hanya saja, pemulihan indra secara sempurna setelah infeksi dapat memakan waktu rata-rata antara dua dan tiga tahun serta hanya ada sedikit pilihan pengobatan, salah satunya dengan metode pembedahan yang jarang menjadi pilihan.

Berita Menarik :  Densus Digital: "Tim Kampanye Pilkada dan Pilpres sudah berani membeli data netizen. Bukan Bocor!"

Begitu sembuh, penyintas infeksi virus SARS-CoV-2 rupanya ada yang masih diusik oleh kondisi lainnya di hidung, yakni parosmia dan phantosmia.

Tak hanya Covid-19. Gangguan Penciuman terjadi pada Obesitas, Parkinson, atau tekanan darah tinggi.

Umumnya, para penderita Parkinson mengalami gejala berupa menurunnya fungsi hidung untuk membaui sesuatu.  Jika Anda merasa indera penciuman Anda tidak setajam biasanya, konsultasikan kepada dokter.

  • Alergi
  • Cedera di kepala
  • Infeksi saluran pernafasan.
  • Polip hidung
  • Septum hidung bengkok
  • Sinusitis kronis
  • Penggunaan obat-obatan, seperti ampicilin, loratadine, atau amitriptyline

Selain faktor yang ada di atas, ternyata kebiasaan pada gaya hidup Anda juga dapat menjadi pemicu hyposmia terjadi. Misalnya, kebiasaan merokok dan penggunaan obat-obatan terlarang juga dapat menyebabkan hidung Anda tidak bisa mencium bau secara maksimal.

Jika salah mengenali bau itu yang disebut parosmia

Tidak hanya kemampuan penciuman hidung yang menurun, ternyata tidak bisa mencium dengan benar atau salah mengenali bau juga merupakan tanda bahwa ada masalah dengan penciuman Anda. Kondisi ini dikenal dengan parosmia.

Parosmia adalah sebuah keadaan ketika seseorang bisa mendeteksi bau, tetapi salah mengenalinya. Misalnya, wewangian yang sebenarnya tidak cukup bau diartikan sebagai bau yang tidak menyenangkan.

Respons penderita parosmia biasanya menggambarkan bahwa sebagian bau yang mereka hirup tidak enak.

Gangguan penciuman ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

  • Kerusakan pada neuron penerima indera penciuman
  • Cedera di kepala.
  • Flu
  • Terpapar oleh racun
  • Gangguan pada sistem saraf dan sinus.

 Hilangnya kemampuan untuk mendeteksi bau (anosmia)

Pada anosmia, hidung penderita sama sekali tidak bisa mencium bau apapun. Biasanya, hal ini disebabkan oleh cedera pada otak, kondisi hidung, atau memang terlahir seperti itu.

Nah, kalau Anda kehilangan indera penciuman Anda ketika sedang flu atau pilek, biasanya hal tersebut hanya berlangsung sementara saja.

Akan tetapi, alangkah baiknya jika berkonsultasi kepada dokter.


 

 

  • Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19? Kehilangan Fungsi Indra Penciuman Jadi Gejala Covid-19?
Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi
Translate »