Konvergensi Majalah MATRA

Gaya Hidup Modern: Pemicu Gangguan Seksual

Modern. Sebuah kata yang bermakna bombastis untuk sebuah kehidupan. Seseorang bisa merasa sangat ketinggalan zaman, ketika orang lain mengomentari dirinya “tidak modern”, entah dalam penampilan maupun perilaku.

Toh, kehidupan terus berjalan. Dan, lambang kemodernan dewasa ini ditandai berbagai kemajuan di segala bidang, khususnya makin berkembangnya teknologi yang meliputi transportasi, komunikasi, informasi, dan sebagainya.

Kehidupan berlangsung serbacepat dan serbainstan. Melaju cepat dan terus- menerus.

Penemuan yang canggih pada suatu saat, dalam waktu relatif singkat menjadi ketinggalan zaman karena telah ditemukannya yang lebih canggih dan membuat penemuan sebelumnya menjadi kuno.

Kehidupan semacam itu sangat berpengaruh pada gaya hidup pelakunya, terutama mereka yang menjalani aktivitas di kota-kota besar.

Selain segi positif, seperti efisiensi waktu, fasilitas yang serbanyaman, cepat, dan mudah diperoleh, ternyata timbul pula dampak negatif terhadap kesehatan, baik fisik, mental, emosional, maupun perilaku menyimpang.

RISIKO GAYA MODERN: Munculnya berbagai penyakit dan keluhan kesehatan pada mereka yang biasa mengikuti irama hidup modern menjadi risiko yang sering dihadapi.

Mulai dari keluhan ringan yang acap kali diabaikan, sampai timbulnya kasus yang berat dan kerap berakibat fatal.

Beberapa gaya hidup modern berikut ini diduga sebagai pemicu kepermukaan risiko-risiko tersebut, antara lain:

1.Kebiasaan mengonsumsi makanan modern, semacam fast food. Biasanya, jenis-jenis makanan demikian mengandung lemak dan kadar garam yang tinggi, serta kurang serat, vitamin, dan mineral.

Mengonsumsi makanan seperti ini dalam jangka yang relatif panjang akan menimbulkan macam-macam penyakit, semisal, diabetes (kencing manis), obesitas (kegemukan), jantung, darah tinggi, ginjal, lever, kanker, stroke, dan lain-lain.

2  Berkurangnya aktivitas fisik/olahraga karena berbagai macam sebab, seperti kesibukan yang mendera, sehingga tak menyadari perlunya olahraga untuk menjaga kesehatan, serta ketaktersediaan fasilitas yang mendukung aktivitas fisik.

3.  Bagi seorang eksekutif, hal itu merupakan kebiasaan umum, misalnya pagi-pagi sudah diburu waktu, yang membuatnya tak sempat sedikit pun untuk senam atau berolahraga. Ia lekas ke kantor dengam mobil ber-AC.

4. Sampai di kantor yang nyaman, ia naik lift (meski hanya satu tingkat!), lalu masuk ruangan kerja yang sejuk, selanjutnya duduk sepanjang hari bahkan sampai jauh malam.

Gaya hidup dan rutinitas semacam itu, tentu menyebabkan kurangnya aktivitas fisik. Akibatnya, timbul bermacam-macam gangguan kesehatan, seperti vitalitas yang menurun, obesitas, keluhan fisik semisal pusing, pegal-pegal, susah tidur, dan lain-lain.

5. Kesibukan yang serbacepat, persaingan ketat dalam meniti karier, kemacetan lalu-lintas, dan sebagainya merupakan kegiatan yang dapat memicu stres bahkan depresi, sehingga menyebabkan timbulnya macam-macam keluhan, seperti sakit kepala, sulit tidur, mudah tersinggung, dan marah.

Mereka yang merasakan stres atau depresi, banyak mencari pelarian ke rokok, minuman keras, bahkan sampai mengonsumsi narkoba.

Cara-cara semacam itu dalam jangka pendek tampaknya dapat meredakan beban psikis, tetapi akan selalu berulang dan lambat laun semakin berat, sehingga menyebabkan timbul bermacam-macam gangguan kesehatan, seperti lever, jantung, ginjal, paru-paru dan lain-lain.

6. Kurang peduli untuk menjaga kesehatan. Karena kesibukan yang padat, kesehatan jadi sering terabaikan. Keluhan ringan seperti lesu, pusing, masuk angin sering tidak ditanggapi serius.

Padahal, banyak keluhan tersebut merupakan gejala awal penyakit berat, semacam jantung, darah tinggi, lever, ginjal, stroke, dan lain-lain.

Banyak pula yang tak merasa perlu men-chek-upkesehatannya secara rutin untuk mendeteksi dini penyakit, sehingga sering kali ditemui penyakit sudah dalam keadaan parah bahkan fatal!

LIBIDO MENURUN, EJAKULASI DINI: Nah, keseluruhan dampak negatif gaya hidup modern itu, bisa menyebabkan gangguan seksual, khususnya pada pria, dan akan mengakibatkan:

  1. Penurunan sampai hilangnya libido/gairah seksual
  2. Disfungsi ereksi alias impotensi
  3. Ejakulasi dini atau ejakulasi prematur

Menurut beberapa penelitian medis, sekitar 50% pria mengalami gangguan seksual ringan, 20% tingkat sedang, dan 10% tingkat berat.

Angka tersebut cenderung meningkat, terutama pada mereka yang menjalani gaya hidup modern, sehingga gangguan seksual berat dapat mencapai sekitar 15%!

Dan berdasarkan data statistik, ternyata penyebab gangguan seksual sebanyak 20–30% tergolong psikis/kejiwaan, sedangkan penyebab fisik/organis mencapai 70–80%.

Dalam praktiknya, biasanya terdapat kasus gangguan seksual yang tercampur faktor psikis dan organis.

Seseorang yang mengalami keluhan seksual akibat stres atau depresi, sering melarikan diri ke minuman keras atau obat-obat psikotropika sehingga timbul gangguan kesehatan fisik yang semakin memperparah keluhan daya seksualnya.

Sebaliknya, seorang yang mengalami keluhan seksual karena gangguan fisik, misalkan kompilikasi diabetes atau usia lanjut, akan merasakan stres karena gangguan seksualnya.

Dengan penanganan yang salah, alih-alih terobati, penyakit fisik akan semakin berat dan stres makin berlanjut.

Penyakit atau ganguan fisik terutama yang kronis, seperti diabetes, darah tinggi, jantung, ginjal, lever, sroke, usia lanjut, kanker, dan lain-lain biasanya menimbulkan gangguan seksual karena kerusakan atau penurunan fungsi jaringan neurovaskuler (saraf dan pembuluh darah) di daerah alat genital dan sekitarnya. Misalkan, terjadinya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah sehingga aliran darah ke alat vital terganggu dan menyebabkan kegagalan ereksi atau impotensi.

Kini, masih ada waktu untuk membatasi diri sehingga tak terjerumus dalam pola gaya hidup modern yang berlarat-larat.  Atau, Anda akan menyesal ketika kelelakian Anda tak berkutik.

H. Bambang Sukamto DMSH (Konsultan seks)

****

Kiat Hidup Modern yang Sehat

 

Sesuai moto mencegah lebih baik daripada mengobati, maka mencegah timbulnya penyakit yang dapat memicu gangguan seksual akibat gaya hidup modern yang tidak sehat merupakan  langkah yang terbaik.

Kiat langkah tersebut adalah S E H A T, penjabarannya:

S = Seimbang gizi

E = Enyahkan rokok, alkohol, dan zat adiktif lainnya

H = Hindari stres/depresi

A = Aktif berolahraga

T = Teratur memeriksakan kesehatan/checkup

 

 Jerat Mitos Seksual

Banyak mitos seksual yang beredar di masyarakat. Akibat meyakini mitos-mitos tersebut sebagai kebenaran, tak sedikit yang berperilaku atau berusaha memenuhi harapan sesuai dengan mitos-mitos tersebut.

Sering timbul akibat buruk dan merugikan karena perilaku memercayai mitos yang tidak benar itu.

Beberapa mitos seksual yang disarankan untuk tidak dipercayai, antara lain:

#Kemampuan seksual identik dengan “kejantanan”.

Pria yang tidak dapat mengimbangi atau “kalah” dari pasangannya dalam berhubungan intim adalah pria yang tidak jantan atau abnormal.

Hubungan seksual dengan pasangan yang usianya jauh terpaut di bawah, akan membuat awet muda. Akibatnya, banyak pria dan wanita mencari “daun muda” karena memercayai mitos ini.

Perselingkuhan atau penyelewengan seksual dapat memperpanjang hidup. Ini juga mitos. Banyak kejadian, seorang pria kena serangan jantung atau stroke bahkan meninggal sewaktu berhubungan seks dengan wanita yang bukan istrinya.

Semakin besar ukuran alat vital pria akan semakin besar pula kemampuan seksualnya untuk memuaskan pasangannya.

Bahan-bahan tertentu dari binatang, seperti tangkur buaya, buah zakar (torpedo) kambing, cula badak, dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan seksual pria.

 

Exit mobile version