InternasionalNasional

Kotak Kardus & KPU. Apa itu “Lembaga Imajiner”?

Oleh: S.S Budi Rahardjo (Independen, Bukan Anggota Salah Satu Partai Politik)

243

Ramai di jagat media sosial, membahas keputusan Komisi Pemilihan Umum beserta Meme-meme lucu.

Menjadi trending topic soal “kardus” ini. Membuat lembaga ini menjelaskan kotak suara jenis ini bukan pertama kali dipakai.

Ditegaskan bahwa ‘kardus’ yang dipakai merupakan bahan karton kedap air dan pernah dipakai pada pemilu lima tahun lalu.

Klarifikasinya, kotak Suara ‘Kardus’ Pilpres 2019. Versi KPU: Itu Karton Kedap Air.

Jenis ‘kardus’ dipilih, selain karena memenuhi syarat, lantaran harga yang lebih murah.

Ya, begitulah. Dunia maya memang seru juga. Tak ada lagi “demonstrasi” atau unjuk rasa di jalanan, tapi lebih kepada protes-protes di media sosial.

Kordinator lapangan demonstrasi, beralih profesi ke timses medsos. Korlap: “kecebong” VS “Kampret”.

Saya jadi inget, ketika ada tulisan dari seorang Praktisi Bisnis & Dosen S2, yang bernama DR. Bambang Bhakti, MBA tentang : “Lembaga Imajiner”

Di benak setiap orang, ada seperangkat otak yang membantu manusia tidak saja untuk berpikir, tetapi juga berimajinasi.

Dalam proses berpikir, manusia seolah dibatasi oleh kemampuan menganalisis situasi berdasar angka, data, fakta dengan segala keterampilan logika serta berbagai keteraturan prosesnya.

Pada proses berimajinasi, manusia seolah berada dalam ruang tanpa batas. Ia mengikuti arus luas pandangnya sendiri, bahkan bisa merupakan sumber inspirasi bagi orang lain untuk mengikutinya.

Semula, banyak orang menyebutnya dengan memberi label paradigma.

Paradigma berdasar atas pikiran yang logis dan sistematis, juga paradigma berdasarkan imajinasi secara perseptif. Paradigma adalah sebuah pendekatan untuk memengaruhi jalan pikiran dan perilaku orang lain, sehingga orang lain sadar dan mau mengikuti pikiran dan imajinasinya.

Tampaknya, kini paradigma saja tidak cukup, harus ditindaklanjuti dengan bentuk LEMBAGA yang lebih konkret dan kasat pikir, kasat imajinasi.

Bahkan, kasat mata supaya orang lain lebih mudah dipengaruhi untuk ikut serta dengan paradigmanya.

Bila sang-“Manajer” memengaruhi orang lain dengan Lembaga Pikiran, misalnya berupa SOP – Standard Operating Procedures –, sang-“Leader” memengaruhi orang lain dengan Lembaga Imajiner.

Kita saksikan para pemimpin bangsa kelas dunia saling mengubah pengaruhnya dengan menggunakan Lembaga Pikiran dan Lembaga Imajiner.

Pada saat pemimpin Partai Komunis Cina, dalam kongres partai ke-16 menambah satu pilar, yaitu pilar pengusaha di samping pilar buruh dan pilar tani.

Di saat bersamaan pula, pemimpin negara-negara barat menegaskan bahwa Rusia bukan ancaman. Mereka justru berupaya merangkulnya, karena ancaman baru bagi dunia adalah teroris.

Pendekatan perubahan Lembaga Pikiran dan Lembaga Imajiner tersebut kita bisa sebut sebagai forward looking yang seolah mengatakan lupakan yang kemarin, mari kita bergerak bersama ke depan.

Tanpa mengatakan, kapitalisme ternyata bisa diterima di daratan Cina yang komunis, para pemimpin bangsa itu berjiwa besar untuk menerima kenyataan bahwa pilar buruh dan pilar tani akan lebih maju bila didukung oleh pilar bisnis yang notabene adalah kapitalisme.

Tidak ada pihak yang dilecehkan atau di hukum, kecuali para koruptor bangsa. Kita masih tunggu, apakah para pemimpin Rusia, musuh bebuyutan negara-negara barat yang notabene juga negara komunis, akan berjiwa besar menyatu dengan “mantan musuh-musuh”-nya dan sekaligus bersama-sama menghadapi terorisme.

Para pemimpin bangsa Indonesia saat ini, tampaknya belum memengaruhi rakyatnya untuk berpikir dan berimajinasi ke depan, tetapi cenderung Backward Looking, memandang ke belakang dengan seolah mengatakan bahwa yang lalu itu salah, mari kita rombak dan kita hukum.

Namun, pada saat bersamaan, reformasi sebagai suatu pilihan ternyata belum jelas dan tidak menggetarkan hati rakyatnya.

Tidak heran, bila Indonesia seolah berputar-putar di persimpangan jalan dengan rakyatnya yang duduk termangu menonton perdebatan para pemimpinnya, dan menunggu dengan cemas, ke arah mana bangsa ini mau dibawa.

Kalau Soekarno dulu membangun “Lembaga Imajiner” melalui nasionalisme yang berdiri-di atas-kaki-sendiri, Suharto membangun “Lembaga Imajiner” melalui pembangunan ekonomi bangsa berdasar atas kapitalisme.

Untuk, Habibie dulu sempat membangun “Lembaga Imajiner” dengan Castle in the Air – bahwa Indonesia adalah bangsa yang berbasis teknologi melalui misi IPTN-nya.

Lalu sekarang ini kita bertanya, apakah “Lembaga Imajiner” bangsa kita ke depan?

Belajar dari wacana bangsa, pemimpin di dunia bisnis-pun dituntut kemampuan menciptakan Lembaga Imajiner di organisasinya.

Terutama, ketika bisnis di negeri ini sedang terus-menerus mengalami gejolak pasang surutnya cash-flow. Ketika bisnis kembali meroket di tahun 2000, seolah situasi pasar bergerak sejalan dengan garis regresi.

Ia membuat komitmen pada fixed expenditures and expenses.

Alhasil, kecemasan melanda karyawan, motivasi menurun dan mendorong produktivitas kerja.

Pada situasi itu, munculnya sang pemimpin amat dibutuhkan untuk mendorong organisasi agar tetap mencari peluang baru. Tentunya, dengan menancapkan optimisme baru yang diyakini bersama oleh para pengikutnya.

Investasi untuk pemberdayaan sumber daya manusia, justru dibutuhkan untuk menghadapi situasi yang berbeda. Keteladanan sang pemimpin dengan menggelorakan semangat juang untuk mencapai sasaran yang lebih menantang, justru akan menggerakkan seluruh “anggota badan” organisasi.

Saat inilah, justru sang pemimpin sejati muncul ke permukaan dengan Lembaga Imajiner-nya.

Syarat sebuah Lembaga Imajiner untuk diterima oleh para pengikutnya adalah unique, sesuatu yang menjadi lebih baik dan berbeda, relevant, sesuatu yang nyata dan pengikut mau terlibat di dalamnya dan mendukungnya.

Juga significant, sesuatu yang bermakna dan berdampak besar bagi keseluruhan, dynamic, sesuatu yang terus bergerak maju ke arah yang benar, dan encouraging, sesuatu yang menggetarkan hati pengikutnya.

Bila ini juga dilakukan oleh pemimpin bangsa kita, tidak ada lagi kritik bahwa bangsa ini berjalan tanpa pemimpin. Adakah pendapat lain?

baca juga: Majalah MATRA edisi cetak terbaru — klik ini

#Ketua Umum Pimpinan Media Digital Indonesia
#Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia
#Pemilik OOJO TV
#CEO Majalah Eksekutif
#Pemimpin Redaksi Majalah MATRA

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas