Selasa, September 17, 2019
Hotline Kerjasama-Iklan 0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
Ekonomi

Anak Kritis, Kapan Silaturahmi Lagi?

988Views

MATRANEWS.id — Untuk yang berpikir positif, teori kritis adalah sebuah aliran pemikiran yang menekankan penilaian reflektif dan kritik dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan pengetahuan dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Tapi, dalam esensi negatif, kalimat kritis bukan lagi dimaknai konsep untuk merespon sebuah pemikiran atau teorema yang kita terima. Respon tersebut melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistem.

Kritis menjadi punya arti dalam keadaan krisis. Bisa dalam artian gawat, genting (tentang suatu keadaan): keadaan pasien sangat — karena terlampau banyak mengeluarkan darah; 2 dalam keadaan yang paling menentukan berhasil atau gagalnya suatu usaha.

Saat ini, gejala “Kritis” merajalela. Masyarakat modern sedang dalam viral, kritis. Maknanya juga bervariasi. Dari hal yang berarti Kritis dalam perspektif positif, kemudian negatif.

Ada lagi yang cenderung baru. Yakni, terbaca di media sosial seperti Facebook atau Instagram. Banyak netizen, meng-upload atau komentar dan posting di medsos lebih banyak yang mengungkapkan kata-kata dan gambar atau meme. Intinya, sifatnya mengkritik tetapi tidak kritis.

Kritis dan kritik menjadi sepadan.

Padahal, sebenarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda.

Menurut “bell hooks“, pola pikir kritis adalah pola pikir yang selalu mencari tahu apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana dari suatu hal. Namun kemudian, dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk memilah hal apa yang paling penting dalam memecahkan suatu masalah.

Berdasarkan teori dari Richard Paul dan Linda Elder, pola pikir kritis merupakan suatu seni dalam menganalisa dan mengevaluasi masalah dengan tujuan untuk memperbaiki problema tersebut.

Pola pikir kritis, menurut mereka, diarahkan, dimonitor, didisiplinkan, dan juga dikoreksi oleh diri sendiri.

Sementara itu, mengkritik adalah proses berpikir yang tujuannya adalah mencari kesalahan dan kekurangan dari orang lain atau sesuatu hal. Kritik membangun pada dasarnya adalah bentuk pola pikir kritis, bukan semata-mata mengkritik.

Berpikir kritis, bukan saja dalam konteks anak Kritis.

Ada periode, di era 80’an bagi anak-anak mobil di jaman itu. Lintas Melawai adalah salah satu tempat yang sangat sakral. Di eranya, anak muda doyan sekali breakdance dan jalan jalan sore (JJS).

Di Lintas Melawai, kawasan ini suka memamerkan mobil, makan dan minum, atau sekedar “ngeceng”.

Kepopuleran Lintas Melawai semakin menjadi dengan hadirnya lokasi tersebut dalam film Catatan Si Boy, yang dibintangi sama si ganteng Ongky Alexander. Harry Moekti juga sempat menciptakan lagu yang cukup ikonik di tahun 80-an, yang berjudul Lintas Melawai.

Ada “gank” atau kelompok kumpulan anak gaul. Mau keren, tapi “kritis” dalam hal uang bensin. Logo (stiker) yang dipasang di belakang mobil, saat ngeceng di Lintas Melawai (LM) menjadi sebuah identitas.

Jaman berganti. Anak Kritis, kini sudah menjadi sukses. Ada yang menjadi pengusaha, eksekutif (CEO) atau malah menjadi pejabat. “Kelakuan” lama, ketika menjadi “anak kritis” di masa lalu, Kritis – Gud Fren 4ever.

Tak hanya di media sosial, mereka membangun ikatan yang otentik dengan orang lain secara nyata, bukan hanya di media sosial. Gue memang tetap menjadi anak kritis, dalam konteks positif.

Kalau Anda, bagaimana?

majalah MATRA edisi terbaru — klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »