Menguak Jaringan Pembuat Ijasah Palsu Terkini, repost Majalah EKSEKUTIF

Bacaan Pebisnis dan Socialpreneur edisi September 2022

MATRANEWS.com — Menguak Jaringan Pembuat Ijasah Palsu Terkini

Sebanyak 114 aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simeulue, Provinsi Aceh, diduga menggunakan ijazah palsu untuk kenaikan pangkat dan golongan.

“Sebanyak 74 ASN telah mendapat sanksi berupa penurunan pangkat dan juga golongan,” ujar Kepala BKPSDM Pemkab Simeulue, Jaswir Sabtu (20/8/2022).

Jaswir mengatakan, dugaan penggunaan ijazah palsu itu diketahui setelah BKPSDM menerima laporan. Sebanyak 114 aparatur sipil negara yang diduga menggunakan ijazah palsu itu tersebar di berbagai instansi di Pemkab Simeulue.

Itu yang tertangkap, sementara masih ada iklan di dunia maya seperti ini:

“Kami Sangat Menghargai Rahasia Privasi Anda..

Apapun kendala Anda yang menyebabkan pengurusan dokumen menjadi sulit,

Konsultasikan kepada kami seutuhnya, agar kami dapat membantu memberikan solusi yang tepat bagi permasalahan dokumen Anda.”

JASA IJAZAH SEKOLAH

Jasa Urus Ijazah Sekolah, SD, SMP, SMA, Ijazah Hilang, Rusak, Belum Memiliki, Dapat di Bantu No Induk Terdaftar.

 JASA IJAZAH KULIAH

Jasa Urus Ijazah Diploma, Sarjana, Ijazah Hilang, Rusak, Belum Memiliki, NIM/No Ijazah Baru Terdaftar.

****

Bahkan, ada periode di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Timur, pembuatan ijazah yang dilakukan diam-diam. Tinggal bisik-bisik pada penjaga kios jasa pengetikan, pemesan dapat dengan mudah menemukannya. Pemesan akan diantarkan ke si calo.

Si calo tidak hanya diam di kios. Mereka memutar-mutar mata mencari orang yang kira-kira mau menggunakan jasanya. Lalu pemesan akan dibawa menepi di pojok jalan untuk menjadikan transaksi.

Untuk membuat ijazah palsu, Anda cukup menyebutkan nama dan tempat tanggal lahir di awal. Jangan lupa menentukan jurusan dan perguruan tinggi.

Setelah itu, pemesan akan diminta menyerahkan sejumlah pas foto berukuran 3×4 dan 4×6.

Pemesan tak perlu bersusah payah mengeluarkan dan meluangkan waktu bertahun-tahun untuk kuliah. Tinggal menunggu tiga jam, gelar sarjana bisa ditebus dengan uang hanya sekitar Rp5 juta.

Sang pembuat ijazah palsu berdalih menawarkan jasa. Pasalnya, untuk mereka yang tak kunjung mendapat pekerjaan setelah menyelesaikan pelatihan marketing. Dengan ijazah  gelar Master manajemen, sang pemesan bisa menjabat posisi manajer proyek di perusahaan energi ternama Eropa.

Untuk gelar sarjana, sang pemalsu mengaku cukup rumit, harus mencari stempel kampus, tanda tangan Direktur Pendidikan, nomor matrikulasi unik, dan rumus hukum.

Kejadian di Aceh di bulan Agustus ini, hanyalah pengulangan dari kejadian yang terjadi di Jayapura.

Kasus lainnya mencuat di Universitas Satria (Unsat) Makassar. Bahkan kali ini sang rektor, yaitu Prof Dr HM Tahir Malik tersandung kasus ijazah palsu hingga akhirnya dipecat dari jabatannya.

Polemik kasus ijazah palsu membuat setidaknya 18 perguruan tinggi ditutup. Kampus-kampus yang mengeluarkan dan memperjualbelikan ijazah palsu tersebut berlokasi di wilayah Jabodetabek, Kupang serta Bekasi.

Majalah Eksekutif sempat menelisik Jaringan Pembuat Ijazah Palsu

Jaringan bisnisnya amat tertutup. Tetapi, setiap kali ada anggota yang diciduk aparat, bos mereka selalu turun tangan.

“Anda mau beli ijazah asli dan terdaftar? Kami bisa membantu Anda dapatkan ijazah S1, S2, Akta IV, TOEFL yang asli terdaftar dengan cepat”. Begitu bunyi iklan online yang eksekutif temukan di mesin pencari data Google.

Dalam iklan tersebut ditawarkan biaya pembuatan ijazah: D3 sebesar Rp 8,5 juta – Rp 12 juta; ijazah S1 antara Rp 13,5 juta – Rp 17,5 juta; dan ijazah S2 berkisar Rp 18 juta – Rp 27 juta.

Dengan banderol itu pemesan akan mendapat ijazah, transkrip nilai, buku skripsi, surat keterangan kelulusan dan legalisasi, NIM (Nomor Induk Mahasiswa) dan nomor seri ijazah yang terdaftar di Kopertis/Diknas maupun di universitasnya. Iklan tersebut juga menyebutkan soal keaslian lembaran kelulusan tadi, karena semuanya dikerjakan orang dalam perguruan tinggi masing-masing.

Bagi orang yang membutuhkan ijazah jenjang tertentu untuk persyaratan bekerja, sementara ia tak punya, iklan ini sungguh menggoda.

Tak perlu kuliah bertahun-tahun, hanya dalam hitungan hari, siapa saja bisa mendapatkan selembar ijazah lengkap dengan transkrip nilai secara instan. Tapi, ini adalah ijazah palsu, meskipun wujud fisiknya sangat mirip dengan ijazah asli.

Untuk menyoroti bisnis ilegal ini, awal September lalu eksekutif menelusuri sebuah lokasi, tempat di mana bagian dari jaringan bisnis pembuat ijazah palsu berada.

Sebelumnya, eksekutif mendapatkan nomor kontak salah satu anggota jaringan ini.

Saat dihubungi, sumber tersebut menyatakan bersedia memberikan informasi seputar bisnisnya. Namun, ia meminta agar wawancara dilakukan di luar kantornya. Alasannya, demi keamanan diri dan kantornya.

“Kami tidak mau, tiba-tiba di belakang Anda ada polisi yang ngikut,” ujar Wayan, sebut saja begitu, nama narasumber itu. Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya kami sepakat melakukan wawancara di suatu tempat di Jakarta Selatan.

Dari UI Sampai UGM

Kepada eksekutif Wayan banyak memberikan informasi terkait dengan jaringannya. Namun, lelaki berbadan tambun ini mengaku dirinya hanyalah salah satu dari puluhan orang yang bertugas mencari order.

Sudah lima tahun ia bergabung dengan jaringan yang “berkantor” di JKT. Ia termasuk salah satu orang kepercayaan “Big Bos” jaringan ini. Sejak bergabung, ia mengaku, sudah 200 lebih order ijazah yang didapatkan.

Pemesan ijazah palsu pada jaringan ini beragam. Mulai dari para buruh pabrik, mahasiswa drop out (DO), pekerja kantoran, hingga para calon kepala daerah dan wakil rakyat.

Jenis ijazah yang disediakan jaringan ini pun lengkap, mulai dari ijazah SMA, STM, D3, S1, hingga S2.

Untuk ijazah D3, S1, dan S2, nama perguru¬an tinggi yang dicatut tak tanggung-tanggung, mulai dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Ban¬dung (ITB), Universitas Gadjah Mada UGM, Universitas Gunadarma, Universitas Trisakti, Universitas 17 Agustus 1945, hingga perguruan tinggi yang kurang pamornya.

Kepentingan para pemesan ijazah juga bervariasi. Mulai dari ingin naik jabatan, tidak lulus kuliah lalu ingin punya ijazah, ingin pindah kerja ke perusahaan yang lebih bonafide, hingga untuk pencalonan bupati dan walikota.

Ada juga alumnus UI yang IPK-nya rendah dan ingin memiliki IPK lebih tinggi demi mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak, lalu memesan ijazah palsu kepada Wayan.

“Yang begini kan nggak mungkin pihak perusahaan akan ngecek transkrip nilai ke kampus UI. Dia hanya akan risih kalau kebetulan ketemu dengan teman satu angkatan di perusahaan itu,” katanya.

Pria berambut lurus ini mengungkapkan, selain orang bergaji pas-pasan yang ingin naik jabatan, pemesan ijazah palsu juga banyak dari kalangan anak pejabat dan pengusaha. Beberapa pemesan mengaku kepada Wayan, saat kuliah mereka sering bolos hingga akhirnya drop out.

Sementara sebagian dari mereka enggan bekerja di perusahaan milik orang tuanya.

Mungkin sebagai “penebus” rasa bersalahnya saat kuliah, ia ingin membuktikan diri bisa hidup mandiri dengan melamar pekerjaan di perusahaan lain. Tapi, ya itu, terpaksa menggunakan ijazah palsu.

Pria ini hanya mengingatkan agar ijazah palsu tidak digunakan untuk syarat pendaftaran atau kenaikan jabatan di pegawai negeri sipil atau TNI/Polri.

Pasalnya, kalau nekat, akan mudah terbongkar. Panitia penerimaan calon PNS dan TNI/Polri teramat teliti soal keaslian ijazah.

Mereka biasanya akan mengecek langsung ke perguruan tinggi dimaksud jika ada yang mencurigakan.

Lantas, berapa harga ijazah palsu?

Berbeda dengan yang ditawarkan iklan online di atas, harga ijazah palsu jaringan Wayan lebih murah. Untuk ijazah STM/SMA, kata Wayan, dibanderol Rp 1 juta, D3 seharga Rp 2 juta, dan S1 untuk perguruan tinggi swasta hanya Rp 3 juta. Sementara khusus ijazah palsu S1 dan S2 perguruan tinggi negeri seperti UI, ITB, dan UGM tarifnya masing-masing Rp 5 juta.

Yang mengejutkan, pembuatan ijazah palsu ini hanya tiga hari.

Terbayang, dengan harga itu, jika diasumsikan dalam sebulan jaringan ini rata-rata menerima pesanan seratus ijazah S1, maka omzetnya berkisar Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per bulan. Bisnis kotor yang menggiurkan, bukan?

Meski harga yang ditawarkan relatif terjangkau, namun tidak semua orang bisa memesan ijazah sesukanya. Dalam menerima pesanan, Wayan mengaku selektif. Ia hanya menerima order dari orang yang sudah direkomendasikan oleh orang-orang dekatnya.

“Saya punya banyak teman, merekalah yang memberi rekomendasi dan garansi pada kami, bahwa si pemesan bukan sedang menjebak,” ujarnya.

Selain itu, pria berkulit gelap ini juga menimbang-nimbang kelayakan penampilan fisik si pemesan dengan ijazah yang diminta.

“Misalnya, kalau dia dari kampung di Tegal atau Gunung Kidul, dan tampangnya kurang menyakinkan, saya sarankan jangan pesan ijazah UI, UGM, atau ITB. Ya nggak pantes aja. Untuk orang macam itu saya sarankan memesan ijazah perguruan tinggi lain yang nggak terlalu bonafide saja,” tambah Wayan terus terang.

Wayan juga akan menolak jika si pemesan hanya lulusan SMA, lalu minta ijazah S1. Bukan apa-apa, selain dari cara komunikasinya yang kurang menyakinkan, tingkat intelektualitasnya juga tidak cocok. “Yang kasihan dia sendiri kalau jadi pesan ijazah S1,” kilahnya.

Lain masalah jika si pemesannya adalah lulusan D3 dan perlu ijazah S1 untuk naik jabatan, Wayan mengaku masih bisa menerima. Yani,

Sebutlah begitu, adalah salah satu “klien” Wayan. Karyawati perusahaan asuransi top di Jakarta ini sebelumnya menjabat sebagai supervisor.

Ia ingin naik jabatan menjadi asisten manajer. “Tapi ya itu, salah satu syaratnya harus punya ijazah D3, padahal saya cuma tamatan SMA.

Makanya, saya pesan ijazah D3 ke Pak Wayan dan saya disarankan bikin ijazah Universitas Borobudur aja. Sekarang saya sudah jadi asisten manajer,” ujarnya.

Lain lagi dengan pengakuan Eko. Laki-laki asal Surabaya, Jawa Timur, ini memesan ijazah S1 melalui Wayan demi pindah kerja ke perusahaan yang lebih besar.

Tenaga marketing perusahaan farmasi di Jakarta ini sebenarnya sudah memiliki ijazah S1. Akan tetapi, kebijakan di perusahaannya, sebelum kontrak kerja 10 tahun selesai, ijazahnya ditahan oleh perusahaan sebagai jaminan agar tidak keluar.

Jika keluar sebelum masa kontrak berakhir dan ingin mendapatkan ijazahnya, Eko harus bayar “denda” Rp 10 juta ke perusahaan.

“Itu memang kontrak yang saya tanda tangani. Tapi saya ingin pindah kerja. Dari pada bayar Rp 10 juta, mendingan saya bikin aja ijazah palsu, tapi sama dengan yang saya punya, ” kata Eko yang mempesan ijazah palsu ke Wayan setahun lalu.

  Disuplai Orang Kampus

Tak puas dengan cerita Wayan dan pengakuan para “kliennya”, eksekutif meminta sumber eksekutif itu menunjukkan beberapa contoh ijazah palsu.

Dari tas ransel hitam miliknya, Wayan mengeluarkan dua lembar ijazah berlogo UG dan Universitas swasta, berikut transkrip nilainya.

Wow! Benar-benar mirip dengan ijazah asli. Sulit sekali untuk mengatakan kalau itu adalah ijazah palsu. Mulai dari logo perguruan tinggi, tanda tangan rektor dan dekan, hingga kertas yang digunakan tak ada bedanya dengan lembaran ijazah asli.

Dari dua lembar bukti tersebut, soal tanda tangan rektor dan dekan, mungkin kita bisa mengatakan itu palsu. Tapi, bagaimana dengan kertas ijazahnya? “Ini kertas asli dari masing-masing perguruan tinggi ini,” Wayan menegaskan.

Lantas, dari mana jaringan pembuat ijazah palsu ini mendapatkan kertas ijazah? Ada demand, ada supply, begitu Wayan berargumen. Menurutnya, kertas blangko ijazah asli didapatkan dari kampus masing-masing perguruan tinggi.

Para pemalsu ijazah ini memiliki jaringan dengan orang dalam tiap kampus. Jaringan di kampus yang dimaksud adalah orang-orang bagian tata usaha atau administrasi yang mengurusi ijazah masing-masing perguruan tinggi.

“Setiap tahun kelulusan, blangko ijazahnya bisa beda-beda, makanya kita harus bisa dapatkan dari orang dalam kampus. Biasanya mereka punya stok kelebihan blangko ijazah setiap tahun kelulusan.

Blangko itulah yang dijual ke kami,” ujarnya. Blanko-blanko ijazah itu kemudian oleh para pemalsu ini diisi data-data pemesan sesuai PT (perguruan tinggi) yang diminta. Yang mengerjakan adalah orang-orang yang ada di dalam jaringan ini.

“Bos saya ini orang profesional. Kerjanya cuma bikin surat-surat berharga palsu. Dia punya copy seluruh ijazah perguruan tinggi di Indonesia, tanda-tangannya tinggal ditiru. Kami juga punya spesialis pembuat tanda tangan,” ujarnya.

Wayan mengaku, para marketer ijazah palsu dalam jaringan ini rata-rata memiliki pekerjaan tetap di luar jaringan. Wayan, misalnya, adalah manajer marketing kartu kredit sebuah bank swasta di Jakarta.

“Ijazah ini hanya pekerjaan sampingan, dan tujuannya hanya ingin menolong orang saja,” kilahnya. Ia mengaku, dalam sebulan ia bisa mendapatkan order ijazah palsu sedikitnya tiga. Dari order ini, per ijazah S1 ia mendapat komisi antara Rp 300 ribu – Rp 500 ribuan.

Diciduk, Lalu Ditebus

Jaringan pembuat ijazah palsu ini, sudah ada sejak tahun 1980-an. Mereka memiliki peralatan lengkap, dari alat deteksi keaslian kertas ijazah, mesin embos, hingga alat stempel seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Menurut pengakuan Wayan, tempat bisnis ini sangat tertutup. Jarang ada yang datang ke “kantornya”, kecuali para marketer yang sudah menjadi bagian jaringan.

“Jangankan orang lain, kami saja nggak boleh lihat proses pembuatannya. Tahunya, kami serahkan data dan foto, lalu tiga hari jadi,” ujarnya.

Para pekerja di tempat bisnis ini pun, katanya, hanya keluarga dari bos mafia. Tak ada satu pun orang lain di luar keluarga.

Uniknya, di keluarganya, masing-masing memiliki keahlian sendiri-sendiri. Mulai dari tukang embos kertas, hingga spesialis pembuat tanda tangan palsu untuk ijazah.

Jaringan Wayan pernah beberapa kali diciduk penegak hukum. Tapi tiap kali itu pula mereka langsung ditebus oleh bosnya. Lalu beroperasi lagi seperti biasa.

“Pokoknya, kalau situasinya lagi gawat, misalnya lagi marak pemberitaan kasus ijazah palsu, kami berhenti sementara. Begitu aman, kembali lagi jalanin bisnisnya,” ungkapnya

Dari pengakuan Wayan ini, sulit dipercaya kalau pihak aparat tak tahu-menahu soal keberadaan jaringan pembuat ijazah palsu ini.

Apa iya, aparat yang sudah beberapa kali menciduk pelaku di jaringan yang sama, lalu tidak tahu keberadaan mereka?

  • BACA JUGA: majalah MATRA edisi AGUSTUS 2022, klik ini

Tinggalkan Balasan