Menindaklanjuti Keluhan Nelayan, Pemerintah Bangkalan Intensifkan Patroli Anti Mini Trawl

Cegah Konflik antar Nelayan, Pj Bupati Bangkalan Rela 2 Hari ‘Melaut’ Buru Perahu Pakai Jaring Trawl

MATRANEWS.id –– Menyusuri Laut Bangkalan: Pelayan Masyarakat dalam Melaut untuk Menghindari Konflik Nelayan

Dalam dunia kepemimpinan, kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin tidak hanya sebatas tindakan administratif di balik meja kantor.

Pemimpin sejati juga harus bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

Pemahaman inilah yang tercermin dalam aksi nyata Penjabat (Pj) Bupati Bangkalan, Arief M Edie, yang rela menyusuri perairan laut selama dua hari terakhir demi menjaga keharmonisan antar-nelayan.

Sebagai seorang pemimpin yang mendahulukan pelayanan masyarakat, Arief M Edie tidak hanya berkantor di balik meja kerjanya.

Bersama-sama dengan Danlanal Batuporon, Letkol Laut (P) Imam Ibnu Hajar, dan Kasatpol PP Bangkalan, Rudianto, Arief menyusuri perairan laut barat Kota Bangkalan, mulai dari perairan Kota, Arosbaya, Klampis, hingga Tanjung Bumi. Mereka melakukannya dengan menggunakan kapal tugboat milik PT Adiluhung Saranasegara Indonesia.

Dalam aksinya, mereka menggelar operasi senyap dan patroli laut untuk memantau serta meredam potensi konflik antar-nelayan.

Upaya ini menjadi respons terhadap tekad para nelayan Bangkalan yang ingin menggelar patroli sendiri, yang kemudian dihalangi oleh Pj Bupati.

“Kami menggelar operasi senyap, patroli laut untuk memantau sekaligus meredam agar jangan sampai para nelayan bertemu dan berkonflik di tengah laut. Karena sebelumnya, para nelayan Bangkalan bertekad untuk menggelar patroli sendiri dan kami melarang,” ungkap Arief.

Keputusan tersebut sejalan dengan pemahaman bahwa tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya terletak pada pengelolaan administrasi pemerintahan, tetapi juga pada penanganan masalah sosial di masyarakatnya. Bangkalan, sebagai kabupaten dengan wilayah dominan kawasan pesisir laut, memiliki tantangan tersendiri terkait kehidupan nelayan yang mencari nafkah di laut.

Beberapa desa seperti Desa Tengket, Desa Lajing, dan Desa/Kecamatan Arosbaya mengalami keluhan terkait pemakaian pukat harimau atau jaring trawl oleh perahu-perahu nelayan dari luar Bangkalan.

Hal ini menjadi sorotan karena dapat merugikan ekosistem laut, termasuk merusak terumbu karang dan menangkap ikan-ikan kecil yang berpotensi untuk menurunkan populasi ikan.

“Alhamdulillah bertemulah dengan beberapa nelayan, tetapi yang merapat ke kami satu kapal nelayan dari Lamongan. Mereka beralasan bekerja, mencari uang. Namun kami ingatkan agar tidak menggunakan jaring trawl karena ikan-ikan kecil dan terumbu karang terangkut semua, termasuk bubu (alat tangkap ikan tradisional) milik nelayan Bangkalan,” tegas Arief.

Dalam dialog dengan nelayan asal Lamongan di tengah laut, Arief menyampaikan pesan bahwa tidak ada larangan untuk melaut mencari ikan sebagai upaya memenuhi nafkah keluarga.

Pj Bupati Bangkalan menegaskan, hal tersebut harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemimpin yang bijak menghargai setiap nelayan, sambil memberikan himbauan untuk menjaga keharmonisan di laut.

“Kami menghargai semua nelayan, namun jangan saling menyakiti, jangan sampai bubu-bubu terkena jaring trawl, kan tidak bisa begitu. Mencari nafkah harus sama-sama menghargai sesama pencari nafkah, hindari konflik antar nelayan, dan sesama nelayan jangan saling merugikan,” pungkasnya.

Dengan tindakan konkret ini, Pj Bupati Bangkalan menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya sebatas wacana, tetapi sebuah aksi nyata untuk kebaikan bersama.

Melalui kesadaran akan pentingnya harmoni antar-nelayan, Arief M Edie membuktikan bahwa untuk mencapai kesejahteraan, kita perlu saling menghormati dan bekerjasama, bahkan di tengah luasnya lautan yang menjadi sumber rezeki bagi masyarakat Bangkalan.

 

Tinggalkan Balasan