Ekonomi

Meraup Berkah dari Nuklir dan Limbah

bitan

MATRANEWS.id — Bagi sebagian orang, nuklir identik dengan senjata atau bom nuklir yang mengerikan. Padahal, nuklir yang terkendali bisa bermanfaat untuk kesejahteraan hidup manusia. Di Indonesia, nuklir dikelola dan dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Pusat Diseminasi Dan Kemitraan (PDK) BATAN aktif mengembangkan inkubator bisnis yang bertujuan untuk mendorong UKM agar dapat berkembang serta mandiri dengan pola pembinaan untuk meng-upgrade wirausaha yang sudah ada atau membentuk usaha baru. Selain pembinaan, BATAN juga memberikan produk hasil litbang untuk meningkatkan kualitas produk yang mereka hasilkan.

Rumah Kompos ”Fajry Berkah Tani” adalah salah satu UKM binaan BATAN yang menggunakan produk litbang Inoculant Microba Rhizosfer (IMR). Yaitu agen hayati yang bisa membantu memperkaya mikroba rizhosfer pada pupuk kompos dan memperbaiki unsur hara tanah.

Semua Karena Limbah

Imam Fajri selaku founder dari “Rumah Kompos Fajry Berkah Tani” mengatakan bahwa ide mendirikan Rumah Kompos berawal dari keresahannya saat melihat banyaknya limbah pertanian dan peternakan di kampungnya. Terutama limbah kotoran ternak sapi yang tidak termanfaatkan dan hanya dianggap sebagai pencemar lingkungan oleh masyarakat di lingkungannya. Dan masyarakat juga kebingungan untuk mengelolanya karena minimnya pengetahuan.

Di lain sisi, para petani khususnya dirinya sendiri membutuhkan sebuah teknik untuk menyuburkan lahan dengan cara yang alami (dari alam kembali ke alam). Sehingga tidak hanya bergantung pada pupuk kimiawi yang cenderung merusak tanah. Dari kondisi ini, Fajri melihat sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Kemudian, ia mengolah limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos dan menjualnya kepada rekan-rekannya. Dan berkat dukungan dari Dinas Pertanian setempat akhirnya ia berhasil mendirikan Rumah Kompos Fajry Berkah Tani dengan slogan-nya “Back to Natural Agriculture”

Pembinaan Hingga Business Matching

sampah berkah

Awal perkenalan Fajri dengan BATAN bermula saat ia membuat laman Facebook rumah komposnya. Tak disangka, laman tersebut sampai ke pegawai BATAN yang bernama Asrori. Kemudian, Asrori memperkenalkan apa itu IMR dan menawarkan Fajri untuk mengaplikasikan IMR di pupuk komposnya. Fajri menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan IMR.

Berita Menarik :  Tongkat Komando Angkatan Darat di Jenderal Andika Perkasa

Pada bulan Oktober, tim BATAN datang ke tempat Fajri untuk melakukan survei usaha dan memberikan pelatihan mengembangkan pupuk kompos berbasis IMR. Pihak BATAN menjelaskan keunggulan dari IMR sebagai agen hayati yang bisa membantu mempercepat dekomposisi (dekomposer) bahan organik dan menyediakan lingkungan rhizosfer yang lebih baik sehingga mendukung pertumbuhan dan peningkatan produktivitas tanaman. Selain itu, IMR juga dapat memperbaiki struktur tanah yang rusak, mempermudah penyerapan hara dan membantu penyediaan hara bagi tanaman.

Dari pemaparan pihak BATAN, Fajri mengetahui bahwa agar tanaman bisa tumbuh dengan baik, subur dan menghasilkan maka 3 unsur yaitu air, udara dan nutrisi harus terpenuhi. Air dan udara bisa didapatkan dari pupuk organik (kompos). Hanya saja, para pengusaha kompos sering melupakan keberadaan agen pengurai (dekomposer) nutrisi berupa mikroba. Dan mikroba ini bisa diperoleh dari IMR yang menggunakan mikroba lokal dan mudah ditemukan. Hal inilah yang memotivasi Fajri untuk mengembangkan produknya dengan IMR.

Dari pertemuan itu, Rumah Kompos Fajri terpilih menjadi salah satu UKM Binaan BATAN dan mendapatkan IMR secara gratis selama masa pembinaan. Kemudian pada tanggal 20 Agustus 2020 lalu, Fajri juga ikut serta dalam Business Matching Media Kompos Organik yang diselenggarakan pihak BATAN untuk launching dan menyusun roadmap bisnis UKM binaan BATAN.

Keunggulan Pupuk Kompos Dengan IMR

Fajri menyebutkan setidaknya ada 2 keunggulan dari pupuk kompos yang menggunakan IMR. “Pertama, proses fermentasi menjadi lebih cepat (kurang lebih 15 hari). Berbeda dengan sebelum menggunakan IMR yang membutuhkan waktu 1 – 1,5 bulan. Kedua, saat diuji di persemaian bibit tanaman menjadi lebih cepat berkecambah (3 hari). Sementara, tanpa IMR membutuhkan waktu 3-7 hari untuk tumbuh,” ujar Fajri kepada redaksi MatraNews.id.

Berita Menarik :  BPOM: Belum Ada Efek Samping Yang Berat di Antara Relawan Vaksin Covid-19

Selain itu, dalam proses pembuatan pupuk kompos dengan menggunakan IMR tidak diperlukan tenaga tambahan untuk membolak-balikkan bahan kompos. Tentunya hal ini dapat mengurangi tenaga kerja atau biaya produksi dan waktu. Karena keunggulannya tersebut, pupuk kompos Fajri laris manis di pasaran.

“Dengan IMR, grafik penjualan naik drastis. Dari yang awalnya 300 kantong per musim (setiap 4 bulan sekali) menjadi 900 kantong per musim (setiap 4 bulansekali). Kebanyakan pembeli merasakan keunggulan pupuk kompos IMR sehingga mereka repeat order.” imbuhnya dengan puas.

Berharap Ketersediaan IMR Terjaga

Fajri berharap, ketersediaan IMR bisa terjaga dan tercukupi karena dia dan teman-teman yang lain sudah merasakan sendiri manfaat IMR yang bisa meningkatkan kualitas produk yang mereka hasilkan. Selain itu, Fajri juga berharap bisa segera memenuhi data uji laboratoratorium dan dokumen lain yang dibutuhkan sehingga dapat memperoleh merk dagang sendiri dan ijin edar demi keberlangsungan usahanya.

“Terimakasih BATAN atas kesempatan dan bimbingannya selama ini. Harapan kami, semoga hasil-hasil litbang BATAN bisa disampaikan kepada masyarakat luas agar lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan manfaatnya. Khususnya IMR. Sukses selalu dan teruslah berkarya demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Selamat Ulang Tahun ke -62, BATAN!.” tutup Fajri dengan semangat.

Konvergensi Majalah MATRA
Nuriyati
the authorNuriyati
Translate »