internasionalNasional

Moeldoko Tak Ingin Sangkutpautkan Jokowi

"Itu Urusan Saya"

Moedoko cium tangan ke SBY - Foto: istimewa 6 Sep 2014 pukul 21.09 WIB)

“Dalam hal ini saya mengingatkan sekali lagi, jangan dikit-dikit Istana”   

MATRANEWS –– Moeldoko membantah tudingan hendak mengambil alih Demokrat. Panglima TNI di era Presiden SBY ini mengakui menerima sejumlah orang Demokrat yang menemui dirinya di rumahnya. Menurut Moeldoko, mereka bercerita tentang kondisi Demokrat.

“Ya saya dengerin saja. Berikutnya ya, sudah dengerin saja. Saya sebenarnya prihatin dengan situasi itu. Karena saya juga bagian yang mencintai  Demokrat,” kata pria yang  ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki.

Dulu Moeldoko dikenal dekat dengan SBY. Karena saat Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat Presiden RI, Moeldoko diangkat jadi Panglima TNI.

Bahkan, Moeldoko kala itu mengusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat anugerah Jenderal Besar.

Hal ini, menurutnya, bisa dilihat atas semangat Presiden SBY untuk membangun kekuatan TNI yang handal.

“Semangat yang kuat dari bapak Presiden membangun kekuatan TNI yang handal, kami bersepakat, tidak salah kiranya kalau Jenderal Purnawirawan Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan anugerah Jenderal Besar Susilo Bambang Yudhoyono,” ungkap Jenderal Moeldoko.

Pria yang selama kariernya,  identik dengan pengabdiannya di TNI Angkatan Darat. Puncak kariernya di TNI AD adalah saat dia menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD pada 20 Mei hingga 30 Agustus 2013.

Setelah itu, Moeldoko kemudian ditunjuk presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk naik pangkat dan menjadi panglima TNI.

Alumnus Akabri angkatan 1981 ini menggantikan Laksamana Agus Suhartono saat ditunjuk sebagai orang nomor satu di TNI.

Usai pensiun dari militer, Moeldoko sempat menjajaki ranah politik praktis. Dia tercatat masuk ke dalam jajaran pengurus Partai Hanura pimpinan Oesman Sapta Odang pada 2016.

Di Partai Hanura, Moeldoko tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. Dia mendampingi Jenderal TNI (Purn) Wiranto yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina.

Karier politiknya kini merambah kabinet dan masuk Istana Kepresidenan.

“Ada gerakan yang mengarah pada upaya mengambil alih kepemimpinan partai,” ujar AHY

“Saran saya ya, menjadi seorang pemimpin harus seorang pemimpin yang kuat. Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang-ambing,” kata Moeldoko, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP).

“Kalau anak buahnya enggak boleh pergi ke mana-mana ya diborgol saja kali ya,” tuturnya tanpa menyebut nama yang dimaksud, lewat video yang kemudian viral kemana-mana.

Moeldoko seakan menjawab bahwa dirinya adalah yang dimaksud Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Ada gerakan yang mengarah pada upaya mengambil alih kepemimpinan partai,” ujar AHY dengan tegas, bahkan menyebut sosok itu disebut-sebut melibatkan pejabat di lingkaran terdekat Presiden Joko Widodo.

Gerakan ingin ambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, berdasarkan informasi yang diperoleh AHY, terdiri dari seorang kader aktif serta seorang kader yang sudah enam tahun tidak aktif.

Kemudian, seorang mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan dengan tidak hormat karena terlibat korupsi, dan seorang kader yang keluar dari Demokrat sejak tiga tahun lalu. ”

Herzaky Mahendra Putra (Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat) menggenapi pernyataan AHY.

“Berdasarkan pengakuan, kesaksian, dari BAP sejumlah pimpinan tingkat pusat maupun daerah Partai Demokrat, mereka dipertemukan langsung dengan KSP Moeldoko,” ujar Herzaky.

Ingin mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional untuk kepentingan pencapresan 2024.

Demokrat beranggapan, gerakan ini dilancarkan untuk menjadikan Partai Demokrat sebagai kendaraan politik pada Pemilu 2024. Cara tak elok dengan mengkudeta AHY sebagai Ketum Partai Demokrat.

“Dalam hal ini saya mengingatkan sekali lagi, jangan dikit-dikit Istana,” kata Moeldoko.

Moeldoko menyebut, perkara ini merupakan urusannya semata. “Dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini, karena beliau dalam hal ini tidak tahu sama sekali, nggak tahu apa-apa dalam hal ini,” ujar Moeldoko.

“Jadi itu urusan saya, Moeldoko ini, bukan selaku KSP, murni Moeldoko,” tegasnya. Moeldoko lantas menjelaskan awal mula isu ini beredar.

Ia menyebut bahwa ada sejumlah tamu yang mendatangi dirinya. Moeldoko tak menyebutkan secara detail tamu yang ia maksud. Namun, ia menyebut bahwa tamu itu datang berbondong dan membicarakan banyak hal, bahkan curhat situasi terkini.

Sebagai mantan Panglima TNI, Moeldoko mengaku selalu membuka pintu untuk siapa saja yang hendak bertamu.

Namun ternyata, aktivitasnya ini memunculkan isu yang kini berkembang. Moeldoko menduga isu itu berangkat dari foto-foto dirinya ketika menerima tamu-tamu tersebut.

“Mungkin dasarnya foto-foto, ya orang dari, ada dari orang Indonesia Timur, dari mana-mana kan pengin foto sama saya, ya saya terima aja, apa susahnya,” kata dia.

Moeldoko mengaku prihatin melihat situasi yang berkembang saat ini. Sebab, sejatinya ia turut mencintai Partai Demokrat.

Ia pun menegaskan bahwa kudeta atau penggulingan kekuasaan hanya bisa dilakukan dari dalam kekuasaan itu sendiri, tidak dari luar. “Berikutnya kalau ada istilah kudeta itu ya kudeta itu dari dalam, masa kudeta dari luar,” kata Moeldoko.

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »