KomunitasTokohTrend

Musisi Bicara 411, 212 ataupun “Reuni” 212

537

Musik merupakan sebuah bahasa universal yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan (universal). Dengan musik, insan manusia dapat saling berkomunikasi hingga menyentuh ke segala lapisan masyarakat lewat syair nada dan irama.

Dengan musik orang dapat lebih semangat menyelami jiwa mempertebal keyakinan atau keimanan, bahkan untuk sebuah urusan cinta serta ungkapan sebuah keadilan.

Dengan kata lain musik adalah sebuah kebutuhan universal berbagai latar belakang, baik usia, pendidikan,suku, agama , ras dan lain sebagainya.

Untuk itu bermusik harus tetap konsisten dijalurnya, agar pesan yang ada menjadi tetap murni dirasakan.

Edi Kempud – Grass Rock
Bagi seorang Tri Witarto Edi Purnomo yang lebih dikenal dengan panggilan Edi Kempud. Gitaris band Grass Rock mengungkapkan munculnya fenomena saat ini, dimana para artis dan musisi yang berkiblat pada sebuah kepentingan politik tertentu adalah sesuatu yang agak disayangkan.

Edi mengatakan, sesuatu yang baik adalah, bila profesi yang dilakoninya itu, lebih pada meningkatkan sebuah profesionalisme. Banyaknya artis di musik atau diluar musik terjun ke panggung politik baginya itu sah sah saja. Namun sebaiknya profesi baru itu harus berlatar pendidikan politik yang cukup, agar apa yang dilakukannya menjadi maksimal untuk orang banyak.

Menurut Edi, teman-teman yang terjun ke dunia politik dan duduk sebagai wakil rakyat atau pejabat publik (kepala daerah) kadang akhirnya mengecewakan karena apa yang dilakukannya tidak maksimal.

“Kenyataan ini yang banyak saya lihat, dimana teman-teman artis baik itu di musik atau diluar musik kurang maksimal dengan apa yang dilakukannya untuk orang banyak,” ungkap Edi Kempud.

Maksud Edi adalah, bisa jadi mereka kurang memahami masalah.

“Entah itu karena latar belakang pendidikan politik yang minim atau sekadar ikut ikutan karena namanya cukup dikenal,” ungkap Edi Kempud yang ditemui seusai acara pengajian Cangkrukan “Antara Sabar dan IstiqomaH” di kediaman rocker gaek Renny Djayusman, Minggu (10/12/2017) di bilangan Jakarta Selatan.

Edi mengaku, pemahaman bidang politik yang dimiliki tak seluas kebanyakan orang. Kadang ia kerap hanya sebagai pendengar dan pemerhati saja atas situasi perkembangan politik yang selalu hangat, baik didunia nyata maupun didunia maya (media sosial).

Lebih jauh Edi mengungkapkan, bahwa musik adalah bagian dari warna kehidupan, dimana unsurnya di sukai berbagai kalangan. Untuk itu, seseorang musisi atau grup bila sudah berpihak pada sebuah kepentingan atau golongan dirasa bermusiknya sudah tidak murni lagi.

Masih menurut Edi, tak jarang, dalam syair kita jumpai menyuarakan sebuah keadilan mewakili perasaan yang sama dalam masyarakat. Nah kadang masyarakat menyukai figur karena syair yang cukup mewakili perasaannya, dan ini tentu jadi dilema.

“Tatkala, seorang figur yang diidolakan berada pada sebuah kepentingan yang berbeda dengan apa yang di cipta lewat bermusiknya,” ungkap Edi Kempud yang merasa aneh dengan hal tersebut.

“Bila ada keberpihakan tentu ada yang tidak berpihak jadinya, dan ini yang mulai terjadi dalam masyarakat musik tanah air,” Edi menambahkan.

Menurut Edi, bermusik harusnya tidak terkotak kotak. Bila itu terjadi maka hal yang alami dari sebuah penciptaan menjadi tidak murni karena ada kepentingan di dalamnya.

Bermusik seyogyanya menjadi bagian penghibur untuk tiap orang. Bila di dalamnya ada sebuah kepentingan dan kepentingan menjadi sebuah kekecewaan pada masyarakat penggemar, ini yang akhirnya menimbulkan gap dan tanggapan beragam dalam masyarakat penggemar.

“Saya melihat dan mencermati belakangan ini kekisruhan terjadi baik ungkapan di twitter atau FB, banyak masyarakat menyayangkan musisi musisi yang berblok pada urusan politik dan kepentingan,” ujar Edi.

“Menurut saya, sebaiknya bermusik yang baik itu ada pada jalur yang netral tanpa kepentingan. Konsistensi di musik bisa jadi yang membuat seseorang atau grup malah menjadi besar dan berkibar,” demikian Edi menekankan.

***

Edi Kempud merupakan salah satu senior musisi yang kini coba menyelami agama dan hijrah memperdalam ke imanan dan ibadah untuk keselarasan dan ketenangan hidupnya.

Sejak menginjak masa perkawinannya di tahun 1994 dan memiliki anak pertama di tahun 1995, dorongan seorang istri tercinta, membuat seorang Edi Kempud mulai menekuni ibadah terutama shalat lima waktu yang menjadi keharusan sebagai seorang imam dalam keluarga.

Baginya, hal–hal yang baik dalam ke imanan harus terbangun untuk kepentingan diri maupun keluarganya.

Berkat dorongan sang istri, mulai tahun 2000, Edi semakin concern menekuni ibadahnya mengikuti jejak musisi seniornya alm Gito Rollies.

“Gito Rollies almarhum adalah musisi senior panutan saya, yang sangat concern menekuni agama sejak berhijrah,” ujarn Edi.

“Alhamdulillah, banyak contoh baik yang saya teladani dari almarhum, untuk itu saya bertekad ingin seperti dia. Menularkan kebaikan dan keyakinan pada orang lain dari hal sepele semisal mengajak dan mengingatkan ibadah orang lain,” Edi berangan-angan.

“Minimal, mendirikan shalat selain sharing agama untuk bekal kehidupan yang akan datang,” ujar Edi.

***

Edi yang sekarang memiliki tampilan lebih agamis dengan memelihara jenggot sebagai bentuk sunnah Rasul yang di teladaninya, selain kegiatannya bermusik dalam aktifitas keseharian juga banyak mengikuti kegiatan ke imanan seperti pengajian dan sharing ilmu – ilmu agama.

Sharing ke imanan dilakukan dalam lingkungan terdekat tempat dia tinggal juga pada kegiatan pengajian undangan.

Edi pun pernah ditunjuk memberikan tausiah pemahaman agama pada saudara muslim di Lembaga Pemasyarakatan.

Sebagai seorang muslim yang mendapatkan hidayah, berbagi akan sebuah ke imanan adalah sesuatu yang membahagiakannya.

“Khilaf sebagai seorang manusia, tentu pernah saya lakukan, namun sebagai seorang muslim wajib kita melakukan hal terbaik untuk bekal di akherat nanti,” ujar Edi.

Berbagi atau sharing ke imanan baginya, selain perbuatan mulia tentu sebuah kewajiban seorang muslim dalam mensyiarkan agamanya dengan cara cara yang baik dan santun.

Edi mengaku, pernah berbagi pada narapidana Rutan Kebon Pedes kota Bogor dan komunitas penjaga pintu kereta serta anak-anak punk dan pemusik jalanan kota Bogor beberapa waktu lalu.

Menyikapi aksi umat Islam yang terjadi belakangan ini, Edi juga menyayangkan penguasa dan pemerintah tidak mampu menentukan sikap meng-“clear”-kan suasana yang terjadi.

Tak heran, berbagai kasus akhir akhir ini muncul terkait penolakan sebagian ulama atau ustaz yang ingin mendakwah dan mensyiarkan agama untuk kepentingan umatnya.

“Menurut pandangan saya, kebhinekaan, nasionalis dan pancasila merupakaan unsur yang bisa jadi sudah tertanam lama dalam jiwa rakyat Indonesia sejak bangsa ini berdiri tegak,” papar pria yang terlahir dari sebuah keluarga dalam lingkungan NU.

Jadi kebhinekaan, masih menurut Edi, Pancasila dan rasa Nasionalis bukanlah hal yang dibesar besarkan. Karena, pada akhirnya kata-kata itulah justru membawa pemahaman berbeda di tengah masyarakat yang menjadi perseteruan.

Edi merasa, jargon itu malah menjadi bahan kekisruhan di tatatanan masyarakat bawah. Justru pendidikan karakter masyarakat itu dianggap lebih penting lewat pemahaman beragama yang baik, dan dilakukan secara luas agar keimanan yang baik bisa lebih tumbuh memahami persoalan bangsa.

Terkait aksi aksi umat muslim yang menjadi persoalan berbagai pihak, Edi melihat dan meyakininya bahwa apa yang dilakukan umat muslim sebagai mayoritas agama bangsa Indonesia adalah sesuatu yang positif sepanjang apa yang dilakukan menggunakan etika dan adab seperti; tertib, disiplin dan saling menjaga kedamaian atau tidak anarkis.

Apa yang dilakukan umat muslim dalam berbagai aksi seperti 411, 212 ataupun reuni 212 merupakan bentuk aksi umat Islam terhadap sebuah ajaran yang diyakini dan diimani, agar tidak dilecehkan.

Sesuatu yang wajar bila aksi tersebut muncul karena umat Islam yang begitu besar kumpul menyatakan sikapnya.

“Apa yang dilakukan umat muslim atas pelecehan tersebut adalah bentuk solideritas murni dalam menjaga apa yang diyakininya,” ujar Edi.

Maksudnya, yang dilakukan umat bukan karena sebuah kepentingan politik, namun lebih pada sebuah suara menjaga akan alkitab suci dimana itu merupakan seruan yang diimani dan harus dijaga.

***

Anwar Fatahillah – Powerslaves

Tak beda dengan Edi Kempud, hal senada juga dilontarkan seorang basist grup band rock populer, Anwar Fatahillah .

Musisi Rock cukup senior yang menggawangi berdirinya grup Rock Powerslaves berpendapat, sebaiknya bermusik jadikanlah profesi yang baik tanpa harus masuk dan berkiblat pada sebuah golongan atau digunakan sebagai kendaraan politik atau sebuah kepentingan golongan tertentu.

Anwar mengakui, dalam internal grup saja kadang, ada perbedaan pandangan politik apalagi di masyarakat luas.

“Mereka adalah para pecinta musik bagian dari masyarakat yang secara otomatis juga bagian penggemar grup rock Powerslaves,” ujar Anwar.

Yang kemudian ditekankan adalah, wawasan politik yang berbeda di kalangan penggemar ini yang harus dijaga dan disikapi lebih cermat.

Anwar menekankan, agar apa yang di ciptakan dalam bermusik menjadi tidak ada ganjalan atau penghalang untuk dinikmati dan disukai dari yang diciptakan Powerslaves.

“Kekuasaan kan ada batas waktunya, sementara musik sebagai bentuk kreatifitas ciptaan bisa lebih langgeng dari kekuasaan,” ujar Anwar.

“Ini yang harus kami jaga agar sedikit mungkin keberpihakan tidak ada. Kami lebih nyaman dalam posisi netral agar bisa dekat dengan semua orang,” Anwar Fatahillah menekankan.

Intinya adalah, Anwar menekankan, dimana grup band yang digawanginya tidak ikut–ikutan berpihak pada kepentingan politik atau kekuasaan.

Secara pribadi ditanya soal perkembangan politik saat ini Anwar merasa sangat prihatin melihat kondisi bangsa sekarang ini.

Banyak masyarakat ikut ikutan menjadi pengamat politik di perbincangan media sosial yang kadang ujarannya berbuah perseteruan bahkan tak jarang berbuntut keranah hukum.akibat melanggar UU -ITE .

Kebebasan berpendapat merupakan hal yang diatur undang undang , sepanjang tidak ada yang dirugikan, diciderai atau tersakiti. Namun pendapat dan ujaran yang kebablasan pun tentu tak bisa dibiarkan.

Anwar mengatakan, apa yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat dalam menggunakan media sosial perlakuannya haruslah adil pada semua pengguna tanpa keberpihakan.

“Sebagai penyelenggara negara, pemerintah baiknya lebih adil dan jujur. Siapapun yang melanggar ya harus diberikan sangsi yang sama sesuai hukum yang berlaku,” ujar Anwar yang dijumpai saat usai mengikuti pengajian bersama di kediaman Renny Djayusman, di Jakarta.

Anwar beranggapan seruan-seruan yang salah justru memunculkan provokasi memicu timbulnya sebuah konflik baru di tengah masyarakat seperti yang akhir akhir ini terjadi terhadap pelarangan ulama atau Ustaz berdakwah.

Menanggapi aksi–aksi kejalan yang dilakukan umat muslim beberapa waktu lalu, Anwar menilai bahwa aksi umat muslim yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan salah satu bentuk keprihatinan dan solideritas umat yang sangat sangat wajar disuarakan dan dilakukan.

Anwar menyebut, sebagai seorang muslim adalah sebuah keharusan membela sesuatu yang diyakini benar.

Sebagai sosok yang ikut serta kejalan dalam aksi 411 maupun 212 tahun lalu sangat mendukung aksi itu ada. A

Aksi itu, menurut Anwar, adalah simbol umat muslim Indonesia yang di realisasikan dalam sebuah gerakan solideritas membela sesuatu yang terluka atau terzhalimi.

Lebih dari itu dengan jumlah yang begitu besar, gerakan itu memperlihatkan soliditas umat dalam menjaga keutuhan beragama yang di lindungi undang undang.

“Aku juga sangat menyayangkan perseteruan umat Islam belakangan ini terjadi di kalangan masyarakat bawah. Khususnya di dunia maya(medsos),” Anwar memberi gambaran.

Anwar mengatakan, banyak sekali seruan beberapa orang yang sebenarnya dalam kapasitas keilmuannya belum tahu banyak atau paham tentang agama, namun berani bersuara tentang sebuah keimanan dan lebih parahnya seruan itu malah bersebrangan dengan pendapat para ulama umumnya.

Menurut Anwar, munculnya gap dimasyarakat bisa jadi ada kepentingan yang akhirnya meluas dan memperburuk suasana sehingga perpolitikan makin hangat jelang pemilu 2019 nanti.

Hal ini bisa saja memicu konflik yang telah hangat terasa.

Bila itu terus menghangat, jelas ini sangat berbahaya apalagi isu perbedaan agama yang diyakini dan dalam kehidupan berbangsa di tanah air yang berpedoman pada nilai nilai Pancasila menjadi pemicunya.

Anwar menekankan, agama harusnya menjadi hal yang pokok dan fundamental dalam merekatkan keutuhan berbangsa.

“Munculnya isu toleran dan Intoleran dalam sebuah keyakinan ini, yang seharusnya sama-sama dijaga agar tidak lagi terjadi permusuhan antar umat beragama apalagi yang seiman,“ ungkap Anwar Fatahillah.

Hal itu ia tekankan, menanggapi ramainya “kegaduhan” di media sosial yang saling menjudge dan bisa jadi memperluas kekeisruhan yang terjadi didalam masyarakat.

Menurut Anwar, Islam tidak pecah, persoalan terjadi hanya pada tataran atau kelas kelas masyarakat yang terbawa emosi akibat provokasi.

“Dilakukan oleh orang-orang yang gemar menebar fitnah dan kebencian didunia maya,” ujar Anwar.

Untuk itu, Anwar mengingatkan, sebaiknya penggunaan media sosial harus lebih cerdas dan bijak menanggapi berita berita yang berseliweran dan tidak memiliki bukti dan sumber yang jelas.

”Aku yakin banyak masyarakat sekarang lebih jeli menyikapi kegaduhan yang kadang justru datangnya malah dari para petinggi struktur ormas besar,” ujar Anwar menanggapi berbagai statement dari orang yang duduk dalam lembaga agama yang menaungi umat terbesar di Indonesia.

Anwar melihat, gerakan dan aksi umat muslim yang ada seperti reuni 212, merupakan gerakan murni hati nurani umat yang terciderai akibat pelecehan mantan pejabat daerah yang kini menjalani masa hukuman.

Aksi yang dilakukan umat muslimpun terbilang santun, tertib dan damai.

***

Anwar Fatahillah seorang pentolan grup band rock Powerslaves, adalah satu diantara musisi rock yang kini telah hijrah menyelami dunia keimanan.

Menurutnya tidaklah mudah berproses menjadi baik dari kehidupan seorang musisi rock tanah air.

Aliran musik Rock adalah musik simbol kebebasan, dimana minuman keras dan narkoba menjadi kedekatannya. Tekad memperbaiki diri menjadi lebih baik kini dilakoninya untuk memperdalam agama.

Dimulai dari perbuatan sederhana seperti jujur pada diri sendiri maupun pada orang lain. Selain itu, Anwar mencoba menjalankan sholat lima waktu sebisa mungkin dilakukan yang menjadi kewajibannya.

Begitupula kegiatan undangan undangan pengajian juga kini kerap disambanginya.

”Lewat perkumpulan IKI (Indonesia Kita), aku coba ikut berpartisipasi pada bentuk kegiatan positif. Salah satu kegiatannya adalah melakukan pengajian bersama selain bermusik yang memang menjadi profesi ku,” papar Anwar.

***

Wadah Indonesia Kita (IKI) adalah wadah perkumpulan musisi berbagai genre yang mencoba berbuat dalam bentuk kegiatan kegiatan positif.

Yang dimaksud kegiatan positif, mulai dari sharing agama, pengajian, kegiatan amal atau bakti sosial agar terjalin silaturahmi antar musisi senior maupun junior pada bentuk kegiatan -kegiatan positif.

“Dengan tujuan positif dan baik Insya Allah apa yang kami lakukan menjadi semakin berkah. Bermusik adalah profesi yang sudah aku geluti, untuk peform panggung ya Aku adalah musisi Rock atau rocker,” ujar Anwar.

Baginya, menelusuri kehidupan duniawi tidak akan pernah ada puas dan habisnya, sementara tiap manusia diberi limit umur dan tiap orang tidak akan pernah tahu itu kapan akan berakhir.

”Selagi kita sehat dan mampu menjalankan ibadah dengan baik lakukanlah.Toh pada akhirnya sesuatu yang baik pada akhirnya juga akan sangat berguna dan membantu untuk kehidupan didunia maupun diakherat kelak,” Anwar mengakhiri pembicaraan.

(Beng) sumber: Jakartasatu.com

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas