HukumNasionalTokoh

Novel Ungkap Keterlibatan Petinggi Polri & Desak Presiden Jokowi

Tim Gabungan Polisi Berakhir Masa Kerjanya Kemarin. Hasil kerja dirahasiakan.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyampaikan kata sambutan pada acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja, di pelataran gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye/18
375Views

MATRANEWS.id — “Karena polisi tidak serius, maka saya kembali mendesak Presiden Jokowi,” ujar Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) korban penyiraman air keras terhadap dirinya.

8 Januari 2019 Kepala Polri membentuk tim gabungan terdiri dari 65 orang, terdiri akademisi hingga mantan anggota Komnas HAM. Dan pada 7 Juli 2019, tim gabungan berakhir.

Masyarakat Sipil Anti Korupsi juga kembali mendesak Presiden Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang bersifat indepenen.

Desakan agar Presiden membentuk TGPF semakin menguat setelah tim gabungan Polri dianggap gagal mengungkap pelaku teror.

Menjadi catatan kelam, 820 hari Kepolisian RI belum berhasil ungkap pelaku teror Novel Baswedan. Tim Gabungan bentukan polisi gagal ungkap siapa pelaku penyiram air keras ke Novel, 11 April 2017.

Kepala Satuan Tugas Direktorat Penyidikan Kedeputian Bidang Penindakan KPK cedera parah pada kedua matanya setelah disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017, saat pulang dari Salat Subuh berjamaah di masjid sekitar rumahnya kawasan Kelapa Gading.

Novel Baswedan mengaku menyayangkan Presiden, yang sempat menyatakan akan membentuk tim khusus, entah tim apa. Akan tetapi belum ada action dan diam membiarkan begitu saja.

Tak hanya ke Kepolisian, dirinya telah melaporkan kejanggalan kasusnya. Terkait sosok jenderal polisi yang diduga mendalangi aksi penyiraman air keras terhadap dirinya, Novel lapor juga ke Komnas HAM.

Sang jenderal, menurut Novel, memiliki posisi kuat dalam struktur kepolisian dan mempunyai kekuatan atau pendukung di kepolisian. “Saya tak akan berhenti untuk mengungkap kasus ini,” ujarnya kembali mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF), karena kasus ini mandeg.

“Keengganan atau memang ada suatu kesengajaan, saya tidak tahu,” kata Novel menyebut penyelidikan Kepolisian yang jalan di tempat.

Langkah polisi menuntaskan kasusnya dianggap sungguh masih jauh. Hingga saat ini saja polisi belum menangkap pelaku penyerangan di lapangan. “Apalagi berpikir sampai ke otak penyerangan,” ujar Novel terus terang.

Jika kasus yang menimpanya tidak diungkap dan dibiarkan, Novel khawatir orang-orang yang bertugas memberantas korupsi semakin takut untuk bekerja. “Terus kita berharap pada siapa lagi kalau orang-orang yang memberantas korupsi semakin takut,” paparnya usai seremonial hari pertama kerja kembali di KPK.

Rekayasa Mata

Saat ini, Novel telah menyelesaikan pengobatan mata kirinya untuk menempatkan organ-organ buatan, seperti lensa. Hal ini membuat mata kirinya bisa melihat meski masih ada gangguan syaraf.

“Mata kiri saya sama dengan mata kanan saya, dua-duanya rusak tetapi mata kiri saya lebih besar kerusakannya sehingga dokter mengambil langkah untuk operasi rekayasa di mata kiri yang didahulukan,” ujarnya.

Terkait mata kanan, saat ini masih muncul bercak-bercak putih di selaput kornea mata kanannya. Akibatnya, penglihatan Novel masih berkabut. Adapun seluruh biaya pengobatan Novel hingga kini masih ditanggung negara, dan sebagian dari biaya pertanggungan asuransi pegawai KPK.

“Saya pernah mencoba mengemudi mobil, orang-orang rumah pada panik,” ujar Novel, yang hari-harinya mengoleskan salep mata untuk menjaga jaringan yang dipasang tetap hidup. “Tidak boleh lupa,” lagi-lagi penyidik senior ini menyitir kalimat itu sekaligus minta “ring satu” Jokowi untuk mengingatkan Presiden Jokowi.

“Apa yang harus diungkap, maka harus diungkap. Kejahatan tidak boleh dibiarkan, dimaklumi, dan diselesaikan dengan cara kompromi,” ujar Novel memberi pesan kepada semua orang, bahwa kita semua harus terus semangat memberantas korupsi dan menegakan keadilan. Jangan menyerah dan tunduk pada ketakutan.

Tiru Jokowi, Wadah Pegawai (WP) KPK mengadakan sayembara untuk mencari pelaku penyerangan air keras terhadap rekan mereka yang merupakan penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Sepeda itu diperuntukan bagi mereka yang berhasil mengungkap pelaku penyerangan Novel. Wadah Pegawai KPK menyiapkan sebuah sepeda — tak hanya satu –sebagai hadiah. Persis seperti hadiah kuis yang sering diberikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), bahwa sepeda merupakan simbol dari rakyat agar kasus Novel tuntas.

baca juga: Majalah MATRA cetak (print) Wawancara Khusus Novel

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »