Nasional

Prabowo Subianto: “Beliau Memang Sedang Dalam Tekanan Kejiwaan, Depresi.”

273Views

“Apapun latar peristiwanya maka hukum harus ditegakkan,” demikian penegasan Prabowo.

“Saya memutuskan untuk memberhentikan Ibu RS dari jabatan beliau di Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandi Uno,” ujar Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 2, terkait dengan kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet.

Dalam kesempatan itu, Prabowo Subianto memberikan simpatinya terhadap Ratna Sarumpaet. Ia menjelaskan, mertua aktor Rio Dewanto itu mengalami gangguan pada kejiwaannya.

“Saya juga harus jelaskan, beliau (Ratna Sarumpaet) usianya 70 tahun. Kata keluarganya, beliau memang sedang ada tekanan dalam kejiwaan, depresi dalam beberapa bulan belakangan ini ya,” kata Prabowo Subianto.

“Bahkan saya dengar ada indikasi dia sedang dalam tekanan jiwa yang sangat berat,” Prabowo Subianto menambahkan.

Ketika ditanya lebih detail mengenai kondisi Ratna, Prabowo enggan banyak berkomentar. Apapun yang terjadi, Ia tetap menunjukkan rasa empati pada Ratna, sosok yang memang diidolakannya sejak dulu.

“Saya tidak tahu, setiap orang kan bisa saja mengalami tekanan, mungkin masalah ekonomi dan segala macamnya saya tidak tahu. Saya juga tidak mau mencampuri karena itu kan privasi, tapi saya tetap empati pada beliau mau bagaimanapun, kasihan sama beliau sebagai manusia,” dia menguraikan.

Prabowo kemudian mengaku termasuk pribadi yang sentimentil. Mudah tersentuh karena sebuah kabar. Cepat tergerak karena riak. Dan kadang-kadang gampang bergegas karena tidak bisa sekedar bersimpati.

“Dengan sikap seperti itulah saya berbagi empati dengan saudara-saudara yang lain. Setiap kemalangan menimpa salah seorang saudara kita, menimbulkan kegelisahan yang sangat pada diri saya. Tidak ada obat gelisah yang lebih mujarab selain bertemu langsung dan coba memecahkan persoalan yang ada,” ujar Prabowo.

Hal itu pula lah yang Prabowo rasakan saat mendengar simpang siur kabar mengenai kondisi Ibu Ratna Sarumpaet (RS). Apalagi, foto-foto beredar dengan cepat disertai kronologis peristiwa yang meyakinkan.

“Tidak hanya saya, sahabat-sahabat yang lain juga langsung tergerak hatinya begitu mendengar kabar duka yang menimpa beliau,” urai Prabowo.

“Ibu RS adalah seorang sahabat, tokoh inspiratif yang konsisten berdiri memunggungi kekuasaan. Teladan yang sudah dibangunnya jauh sebelum era reformasi. Seorang seniman yang menunjukkan bahwa seni mengabdi pada kemanusiaan bukan pada kekuasaan,” tutur Prabowo.

“Saya terluka, begitu mendengar kabar tentang beliau. Asumsi-asumsi cepat berkembang mengenai peristiwa yang menimpa Ibu RS. Saya cepat mengambil sikap, apapun latar peristiwanya maka hukum harus ditegakkan,” demikian penegasan Prabowo.

Masih menurut Prabowo, pertemuan dengan Ratna Sarumpaet tidak jua membuka kotak pandora peristiwa. Pengakuan yang disampaikan Ibu RS langsung kepada saya malahan memperkuat sinyalemen-sinyalemen yang berkembang.

“Baru belakangan, Ibu RS membuka pengakuan mengejutkan yang sudah kita ketahui semua, bahwa fakta sesungguhnya jauh menyimpang dari cerita sebelumnya,” ujarnya.

“Saya sadar, sebagai manusia saya tidak luput dari kesalahan. Sikap sentimentil yang bersumber dari empati dan peduli sejenak membuat kita lupa untuk mawas diri. Tetapi apa daya, mulut sudah melontarkan kata dan ingatan merangkumnya jadi peristiwa. Riak sehari menjadi gelombang yang menimbulkan kegelisahan di tengah duka yang menimpa bangsa,” tutur Prabowo.

Sebagaimana manusia biasa, Prabowo menghaturkan permohonan maaf atas kekhilafan yang terjadi. Tidak sedikit pun terbersit niat untuk menimbulkan kegaduhan dari peristiwa ini, hanya naluri kemanusiaan.

“Sebagai seorang pemimpin, tentu kata maaf saja tidak cukup,” ujar Prabowo.

Sebab bukan kata tetapi tindakan yang akan membuat perbedaan. Karena itu saya memutuskan untuk memberhentikan Ibu RS dari jabatan beliau di Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandi Uno.

“Sebagai teman, saya akan terus menunjukkan kepedulian tetapi sebagai pemimpin saya tidak bisa mentolelir kebohongan,” paparnya.

Prabowo melanjutkan, berharap kita bisa belajar banyak dari peristwa ini. Bahwa itikad baik saja tidak cukup tetapi harus dilandasi kejujuran hati.

“Semoga hari-hari ke depan, kejujuran menjadi sikap hidup kita agar tidak ada lagi itikad baik yang dibunuh oleh kebohongan,” demikian pernyataan Prabowo.

baca juga: Majalah MATRA edisi terbaru– klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas