Nasional

Presiden Singgung Kasus 2002, Saat Sang Dirut Juga Kena Kasus Korupsi. Kenapa Tanpa Menteri BUMN?

661Views
Konvergensi Majalah MATRA

MATRANEWS.id — Presiden Jokowi  datangi Markas Besar PLN, kemudian tegur direksi PLN.  “PLN harusnya sudah memiliki beberapa rencana untuk menghadapi persoalan pemadaman listrik,” ujar Jokowi.

“Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik,” masih tegur Jokowi.

Di ruangan itu sudah ada tiga layar besar yang menampilkan grafis mengenai pemadaman listrik. Di ruangan juga sudah ada jajaran direksi PT PLN, termasuk Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani.

Jokowi menyebut, kejadian yang sama pernah terjadi pada tahun 2002 untuk wilayah Jawa dan Bali.

“Mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi kembali terjadi lagi,” ujar Jokowi.

“Saya tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN namun banyak hal di luar PLN terutama konsumen sangat dirugikan. Pelayanan transportasi umum sangat berbahaya sekali, MRT misalnya,” sambungnya.

Peristiwa serupa pernah terjadi di Jawa dan Bali pada 17 tahun lalu. Atas kejadian ini PLN dinilai tidak belajar dari pengalaman sebelumnya.

Area kemarin yang terdampak listrik padam ini antara lain Bandung, Bekasi, Cianjur, Cimahi, Cirebon, Garut, Karawang, Purwakarta, Majalaya, Sumedang, Tasikmalaya, Depok, Gunung Putri, Sukabumi, dan Bogor.

Yang menarik, saat ini sang Dirut PL kena kasus Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK,  terkait proyek PLTU Riau 1.

Sedangkan pada 2002 lalu, Eddie Widiono  dianggap bersalah dalam kasus korupsi proyek outsourching Costumer Information System.´

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengangkat Sripeni Inten Cahyani sebagai pelaksana tugas (Plt) baru direktur utama (dirut) PT PLN (Persero), menggantikan Djoko Rahardjo Abumanan.

Padahal, Djoko baru diangkat sebagai Plt Dirut pada 29 Mei 2019 lalu untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan Sofyan Basir.

Sofyan mengundurkan diri dari posisi orang nomor satu perusahaan listrik pelat merah itu karena tersangkut kasus suap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau -I.

Serah terima  jabatan Plt (Plt Dirut PLN) dari Djoko ke  Sripeni sebagai pemegang kendali perusahaan listrik mulai 2 Agustus 2019.  Acara serah terima jabatan, sebut Djoko, dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dan komisaris perusahaan.

Berikut transkrip lengkapnya:

*5 AGUSTUS 2019 – GEDUNG UTAMA PLN*

*Presiden:*

Pagi hari ini saya datang ke PLN yang pertama saya ingin mendengar langsung peristiwa pemadaman total minggu kemarin dan dalam sebuah manajemen besar seperti PLN ini mestinya.

Menurut saya, ada tata kelola risiko-risiko yang dihadapi dengan manajemen besar tentu saja ada contingency plan, ada backup plan.

Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?

Saya tahu peristiwa seperti ini pernah kejadian di tahun 2002 17 tahun yang lalu, Jawa dan Bali.

Mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama. Jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi itu kembali terjadi lagi.

Kita tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN, tetapi juga banyak hal di luar PLN yang terutama konsumen sangat dirugikan. Pelayanan transportasi umum misalnya sangat berbahaya sekali, MRT misalnya.

Oleh sebab itu pagi hari ini saya ingin mendengar langsung.

Tolong disampaikan yang simpel-simpel saja. Kemudian kalau memang ada hal-hal yang kurang blak-blakan saja sehingga bisa diselesaikan masalah dan tidak terjadi untuk masa-masa yang akan datang.

Saya silakan.

*Plt. Dirut PLN:*

Baik, terima kasih. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden yang telah hadir dan atas nama direksi kami mohon maaf atas kejadian hari Minggu, 4 Agustus 2019.

Mohon izin, Pak Presiden, kami laporkan bahwa pada sistem kelistrikan di Jawa-Bali ini terdapat dua sistem, yaitu sistem utara dan sistem selatan di mana sistem transmisi ini masing-masing ada dua sirkuit.

Jadi, dua sirkuit di utara dan dua sirkuit di utara. Jadi totalnya ada 4 sirkuit atau 4 jaringan.

Yang menjadi backbone yaitu jaringan 500 kv, Bapak.

Jaringan 500 kv yaitu kalau dari utara adalah Rembang kemudian Ungaran …

Dan kemudian yang selatan adalah dari Kediri, …, …, dan kemudian Tasik. Dua-duanya adalah 500 kv 2 sirkuit.

Kemudian, yang terjadi pada hari Minggu posisinya adalah sebagai berikut, Pak.

Jadi di utara, pada titik di jaringan Ungaran-Pemalang itu di Kecamatan … terjadi gangguan di mana gangguan pertama terjadi pada pukul 11.48 dan kemudian sirkuit yang kedua juga mengalami gangguan.

Jadi dua line, terjadi gangguan.

Kemudian secara otomatis pasokan listrik dari timur ke barat, ini dalam rangka efisiensi Bapak, jadi pasokan listrik murah itu ditransfer dari timur ke barat.

Salah satu mitigasi yang telah dilakukan oleh kami dalam hal ini di RUPTL adalah membangun PLTU-PLTU yang dalam hal ini murah ada di pusat beban yaitu di wilayah barat.

Sekarang sedang berjalan, salah satunya yang akan beroperasi adalah … 1.000 mega akan masuk di tahun 2019 ini, kemudian 2020 1.000 mega lagi.

Selanjutnya 2023 akan ada 1.000 mega dari Suralaya 9, kemudian 2024 1.000 mega lagi Suralaya …

Dari kondisi seperti itu maka secara otomatis transfer daya dari timur ke barat itu sebesar 2.000 mega. Itu kemudian pindah jalur menuju ke jalur selatan.

Pada waktu hari Minggu, ini sudah menjadi satu rutin, Pak, hari Minggu itu beban rendah, sehingga kami PLN melakukan perbaikan-perbaikan atau pemeliharaan jaringan.

Kemudian yang dipelihara adalah yang di selatan, Bapak, di Kediri, …, dan … itu dilakukan pemeliharaan satu sirkuit. Sirkuit yang pertama. Sehingga itu tinggal satu sirkuit saja.

Pada waktu pindah dari Ungaran kemudian ke … kemudian ke … dan Tasik inilah kemudian membuat guncangan di dalam sistem.

Guncangan ini kemudian secara proteksi, secara pengamanan, sistem ini kemudian melepas, Pak.

Yang dilepas adalah Kasugihan -Tasik, jadi Kasugihan-Tasik kemudian lepas dari sistem sehingga aliran pasokan daya dari timur ke barat mengalami putus.

Di timur, masih bertegangan Pak, jadi pada pukul 11.48 itu kondisi sistem kelistrikan di Jawa Timur dan Bali, dan kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah normal, Bapak.

Kemudian karena lepas maka tegangan turun. Karena tegangan turun maka secara proteksi pembangkit-pembangkit yang ada di sistem barat itu mengalami proteksi melepaskan diri dari sistem.

Karena frekuensinya kemudian drop sampai mencapai 46 hertz dan kemudian ini secara proteksi kesisteman mesin-mesin pembangkit melepaskan diri.

Dari melepaskan diri inilah kemudian upaya yang dilakukan PLN adalah memaksimalkan bagaimana upaya perbaikan atau proses transfer dari timur ke barat itu tetap berjalan.

Sedikit demi sedikit berjalan waktu, kami mohon maaf Pak, prosesnya lambat. Kami akui Pak prosesnya lambat.

Kami mengharapkan sebenarnya sudah masuk untuk ke Suralaya … masih pada posisi hot start, artinya kalau PLTU masih bertegangan sedikit kemudian tidak mati sama sekali dia tidak dalam kondisi dingin sehingga hanya memerlukan waktu 4 jam untuk kemudian di start kembali.

Kejadiannya adalah kemarin masuk ke Saguling, kemudian Saguling dihidupkan, dari Saguling dihidupkan ini sudah pada pukul 14.00 Bapak.

Nah, Saguling ini memiliki peran untuk menstabilkan daya dan tegangan.

Sistem di Jawa-Bali ini kemudian pada waktu kondisi emergency sangat memerlukan pembangkit-pembangkit yang memiliki peran menstabilkan daya dan tegangan.

Kemudian dari Saguling kemudian agak masuk ke Cibinong, kemudian ke Depok, dan kemudian masuk ke Gandul. Nah, dari Gandul ini pasokan daya kemudian ditransfer menuju ke Balaraja dan ke Suralaya.

Namun, posisinya memang sudah cukup lama Pak. Sehingga masuk ke Suralaya posisinya sudah cold start, jadi mesin sudah dingin, Pak. S

Sehingga sampai saat ini yang kami prediksikan kami bisa memulihkan dalam waktu 4 jam dengan beroperasinya PLTU Suralaya yaitu 2.800 mega di sana yang cukup untuk memasok sistem Jawa Barat dan Banten kemudian menjadi mundur, Bapak.

Karena baru tadi pagi pukul 3, artinya lebih dari 8 jam, karena sudah masuk dingin, ini baru masuk satu Bapak 400 mega, yaitu unit 3.

Kemudian dari Gandul pasokan menuju ke Muara Karang yang kemudian ke Priok. Priok dan Muara Karang memang secara sistem mendukung kelistrikan DKI dan tipe pembangkit PLTGU Priok dan Muara Karang ini adalah cepat untuk start. Jadi memang dirancang cepat untuk beroperasi kembali.

Dari Priok dan Muara Karang, baru sampai ke Priok dan Muara Karang itu pukul 18 Bapak.

Oleh karena itu kalau kita perhatikan, kami pantau dalam masyarakat/pelanggan, ada yang sudah masuk di pukul 19, ada yang 20, 21, dan 22 karena bertahap, Bapak.

Karena apa? Karena kami pada waktu kondisi emergency sistem harus dijaga secara tegangan maupun secara frekuensi.

Karena kalau frekuensinya turun maka pembangkit-pembangkit yang sudah beroperasi dikhawatirkan akan lepas kembali.

Jadi memang, ini salah satu yang sangat hati-hati pada kondisi emergency karena pada waktu semua turun maka kami harus menghidupkan satu per satu dengan cermat dan hati-hati.

Jadi memang kami mengakui Bapak, di dalam proses kami ada beberapa hal yang harus kami pangkas di dalam penormalan kembali terutama cascading berkaitan dengan … dari 500 kv turun ke 150 kv kemudian masuk ke 20 kv ini masuk ke distribusi dan masuk ke jaringan pelanggan.

Ini merupakan ada cascading antara peran penyaluran dan peran distribusi.

Inilah Pak kami mohon maaf karena cascading inilah yang kami sekarang mengakui bahwa ini akan kami pangkas.

Kami akan satukan menjadi advance control center) yang akan meng-combine antara penyaluran dan distribusi dari 150 kv ke 20 kv.

Itulah mungkin mudah-mudahan dengan perbaikan ini nanti mudah-mudahan ini bisa lebih baik dalam rangka kecepatan.

Namun, yang tadi kami sampaikan bahwa antara utara degan selatan kami di dalam RKAP maupun di dalam RUPTL telah memasukkan perkuatan jaringan transmisi khususnya membuat redundant untuk sistem utara maupun sistem selatan dan itu sudah masuk di dalam RUPTL dan RKAP.

*Presiden:*

Pertanyaan saya, tadi di penjelasannya panjang sekali.

Pertanyaan saya Bapak/Ibu semuanya ini kan orang pintar-pintar apalagi urusan listrik sudah bertahun-tahun, apakah tidak dihitung.

Apakah tidak dikalkulasi bahwa akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya?

Kalau tahu-tahu drop gitu artinya pekerjaan-pekerjaan yang ada tidak dihitung, tidak dikalkulasi dan itu betul-betul merugikan kita semuanya?

*Plt. Dirut PLN:*

Mohon izin menambahkan, Bapak. Tadi yang Bapak sampaikan mengenai kalkulasi, kami memiliki ketentuan Bapak, m-1  kemudian emergency-nya adalah m-1-1 ).

M itu adalah jumlah sirkuit Bapak, di dalam sistem yang masuk tadi utara dan selatan tadi ada 2 sirkuit di utara dan 2 sirkuit di selatan, ada jumlahnya 4.

Kemudian 2 hilang Pak secara tiba-tiba, jadi menjadi m-2. Kemudian satu itu sudah ada pemeliharaan, jadi m-1 artinya pemeliharaan yang dibolehkan adalah 1 … yaitu di selatan.

Ini yang kami tidak antisipasi adalah terjadinya gangguan 2 sirkuit sekaligus.

Ini yang secara teknologi nanti kami akan investigasi lebih lanjut, Bapak, berkaitan dengan gangguan di satu tempat tersebut dan mudah-mudahan nanti inilah yang dari sisi keteknisan akan menjadi improvement ke depan.

*Presiden:*

Yang paling penting saya minta perbaiki secepat-cepatnya yang memang dari beberapa wilayah yang belum hidup segera dikejar dengan cara apapun agar segera bisa hidup kembali.

Kemudian hal-hal yang menyebabkan peristiwa besar ini terjadi sekali lagi saya ulang jangan sampai kejadian lagi. Itu saja permintaan saya.

Baiklah, terima kasih.

 

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »