Selasa, September 17, 2019
Hotline Kerjasama-Iklan 0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
Ekonomi

Ryamizard Ryacudu: “Ah, Sudah Tua. Janganlah Macam-Macam.”

3.95KViews

Leyeh-leyeh bersama Pemimpin Redaksi Majalah MATRA, S.S Budi Raharjo, selepas open house lebaran.

Terkenal konsisten dan keras, irit bicara kepada pers. Hanya kepada majalah MATRA, Ryamizard kerap berdiskusi mengenai banyak hal.

Pernyataan spontan itu, bahwa sudah tua janganlah macam-macam, bukan untuk mengkritik calon Presiden Prabowo atau Amien Rais yang pada 2019, akan bersaing dengan Presiden Joko Widodo.

Mantu mantan Wakil Presiden, Jenderal TNI Try Sutrisno ini, sedang berbicara tentang dirinya sendiri, yang sudah berusia 68 tahun.

“Kita harus jaga kesehatan,” ujar suami dari dokter gigi Nora Tristyana. Pernikahannya memiliki 3 orang anak yang bernama Ryano Patria Amanzha, Dwinanda Patria Noryanzha, dan Trynanda Patria Nugraha. “Kadang, saya minum obat juga,” ia berterus terang.

Hanya dengan hati yang gembira, Ryamizard mengaku hidupnya bisa dijalani dengan baik. Pikiran dan hati yang bersih, membuatnya semua kehidupannya dalam normatif. “Track record kita ini, terus dicatat dalam sejarah. Bagaimana kita mengisi hari-hari, lebih berarti,” ujar Ryamizard, kini dengan senyum.

Obrolan berlangsung dalam suasana silaturahmi.

Bak menyusun puzzle, Ryamizard bercerita masa mudanya. Pendidikan yang telah ditempuh selama ini, adalah STM jurusan mesin, Akabri Darat (lulus 1973), Suscapa (1985-1986), Seskoad (1991). Kariernya dilewati dengan jabatan Pangdam V Brawijaya, yang kemudian diteruskan menjadi Pangdam Jaya.

Saat terjadinya gesekan elit nasional pada masa presiden Gus Dur, Ryamizard yang saat itu menjabat Pangdam Jaya “mengancam” siapa saja yang akan mengganggu keamanan di wilayahnya.

Terkenal konsisten dan keras, irit bicara kepada pers. Hanya kepada majalah MATRA, Ryamizard kerap berdiskusi mengenai banyak hal. Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.

Kemampuannya merangkul semua unsur TNI saat apel siaga di Lapangan Monas yang melibatkan unsur TNI AL dan TNI AU Juli 2001 menarik KSAD untuk menunjuknya sebagai Wakil KSAD dan kemudian menggantikan Endriartono Sutarto sebagai KSAD.

Ryamizard pernah dicalonkan di akhir masa jabatan Presiden Megawati, sebagai Panglima TNI. Namun, nama Marsekal Djoko Suyanto-lah yang akhirnya dipilih sebagai Panglima TNI pada tahun 2006, karena namanya dianulir oleh SBY.

Bicara karir politik, pria ini memulai pada 2008. Ryamizard sempat akan dicalonkan menjadi Wakil Presiden dari Megawati dan Joko Widodo. Hingga kemudian, mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Kini, Ryamizard ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan ke-24 dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Menjabat sebagai Menteri Pertahanan yang juga merangkul TNI dan POLRI. Ia mengkedepankan diplomasi dan pendekatan lunak atau soft power untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya bicara bukan hanya asal ngomong, kalau ada yang coba-coba ganggu keamanan negara Indonesia. Urusannya panjang,” ujarnya tanpa menjelaskan makna, urusan panjang yang seperti apa. Pembicaraan, selepas acara Open House, di rumah dinasnya kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan malah merangsek ke soal kesehatan dirinya.

Pria kelahiran Palembang, 21 April 1950 ini adalah anak dari perwira tinggi Angkatan Darat Mayjen TNI Musannif Ryacudu. Pada saat hidup ayahnya sangat dekat dengan Presiden Soekarno, ayah dari Megawati Soekarnoputri.

Ryamizard menjalani masa kecil sekolah dasarnya di Kalimantan dan Jakarta, sedangkan sekolah militernya di AKABRI, Magaleng. Lulus pada tahun 1974. Pada usia 24 tahun Ryamizard bergelar letnan dua infanteri.

Berbagai tugas lapangan dan jabatan dia lalui, mulai sebagai Komandan Peleton, Komandan Kompi, Wadanyonif Linud 305/Kostrad, Komandan Yonif Linud 305/Kostrad, hingga Komandan Brigif Linud 17/Kostra.

Setelah 23 tahun bertugas operasi militer di berbagai daerah dan luar negeri, karier perwira tingginya dimulai sebagai Kepala Staf Kodam Sriwijaya, Panglima Divisi 2/Kostrad, Kepala Staf Kostrad, Pangdam Brawijaya, Pangdam Jaya, dan Pangkostrad, hingga sebagai Kepala Staf TNI AD (Kasad) 2002-2005.

“Kita sudah tua, kita perlu menjadi seorang negarawan dan pemikir kebangsaan,” ujar Ryamizard, tanpa mau menyinggung sosok Amien Rais atau Prabowo, apakah pantas berlaga menjadi kandidat Presiden RI di 2019 nanti.

“Jadi, saya selalu jawab kalau ada yang bertanya, “apa kabar.”

“Ya, sehatnya orang tua,” ujar pria yang mengaku ada saja yang dirasa sebagai mahluk hidup di penghujung senja.

Bahwa dirinya disebut mengalami juga penyakit katarak atau gula, Ryamizard hanya tersenyum dan mengangguk.

“Semua bisa dihandle, dengan pola dan gaya hidup sehat. Sama seperti untuk NKRI, seperti tubuh kita yang tidak boleh lemah. Kita jangan kalah dalam persaingan global, persaingan antar bangsa,” paparnya.

“Yang kuat bisa menang. Yang lemah akan menjadi pecundang,” tutur Ryamizard dalam obrolan leyeh-leyeh, bersama Pemimpin Redaksi Majalah MATRA, S.S Budi Raharjo yang juga CEO majalah eksekutif.

“Dalam lima tahun ini, kita masuk dalam target 100 juta orang,” paparnya dengan program dan kader Bela Negara, di kalangan masyarakat.

Bela negara akan menumbuhkan nasionalisme dalam memperjuangkan maupun mempertahankan Indonesia.

“Bila satu orang memiliki rasa cinta yang mendalam, maka akan dengan tulus dan ikhlas membangun negaranya, dan siap untuk mati demi negaranya,” masih menurut Ryamizard, pria yang pelit untuk tersenyum ini.

baca juga: Majalah MATRA edisi cetak (print) terbaru – klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »