0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
Budaya

Satu Organisasi Beda Warna

180Views

MATRANEWS.id — Panggung Keberagaman. Indonesia memiliki momentum untuk menjadi bangsa yang menghargai perbedaan dan membuka akses kesetaraan. Satu organisasi, orang-orang ini memiliki tafsir dan “pemilikan” warna.

Dulu, kita mengenal warna-warna tertentu. Lalu kita sepakat (tanpa kecurigaan tanpa rebut-ribut) menyebut kandungan simbolisasinya. Semua setuju. Dan itu kenyataan. Tenang, damai, sejahtera.

Sesungguhnya, kalau mau diurut ke zaman dahulu, nenek moyang kita mulanya cuma mengenal tiga warna dasar; putih, merah dan hitam. Beda pilihan pemimpin, tapi semangatnya adalah menularkan semangat persatuan.

Pada sebagian besar etnis di Indonesia, tiga warna itu sering dipakai sebagai lambing dari “tiga dunia”: Dunia Atas (langit nan suci), Dunia Tengah (bumi yang tidak abadi), dan Dunia Bawah (kegelapan dari kekuatan hitam). Sebagai pelengkap, ada pula kuning (emas) dan hijau.

Makna warna-warna itu, menurut kesepakatan yang entah awalnya dibikin oleh siapa, juga bisa dipahami.

Misalnya, begini, putih pertanda kesucian, merah adalah keberanian, dan hitam sering disangkutkan dengan hal-hal yang bersifat spirit atau dunia bawah nan misterius.

Bagaimana dengan warna kuning (emas)? Itu biasa dipakai sebagai lambang kewibawaan kekuasaan (payung ke emasan). Dan hijau bisa dianggap sebagai lambang keabadian.

Kesepakatan makna-makna itu hidup di masyarakat sejak dulu.

Maka, tidak aneh jika Bapak-Bapak Bangsa Indonesia kemudian memilih merah putih sebagai warna bendera Negara. Dua warna yang sangat mengakar serta mengandung makna keberanian atas dasar kesucian.

Barangkali kita masih ingat saat kakek-nenek kita menggelar upacara melempar bubur merah putih ke atas genteng demi harapan keselamatan, agar kalis dari bencana dan mara bahaya.

Sedangkan jalur kuning, sejak dulu dipajang pada upacara-upacara yang menggembirakan: pernikahan atau perayaan yang dimaksudkan sebagai penyambut datangnya kebahagiaan.

Zaman berjalan, warna bertambah. Makna selalu semakin kaya dan sangat bervariasi.

Semua warna bersifat netral dan bebas. Tapi tetap bertanggung jawab, terutama terhadap makna kesepakatan itu. Anehnya, tidak ada yang mengklaim sebuah warna menjadi milik. Alangkah damai.

Tapi, apa yang terjadi kini?

Kenyataan, orang sering gamang menggunakan warna. Khaawatir. Takut. Sebab, selalu ada saja yang membuat pemilihan warna mendadak, dianggap politis.

Warna putih dihindari karena “dianggap” sebagai milik golput (golongan putih). Warna merah juga ditabukan karena sering dicap “milik” komunis, “milik” kaum marhaen. Sedangkan warna biru, seakan partai anu.

Kalau hitam? Jangan. Bisa dianggap tidak kooperatif atau menyindir. Untuk hijau dan kuning, untuk urusan Partai, terus terang saya “enggan” berkomentar.

Warna, kini tampaknya sudah digiring untuk menjadi lambang dalam kerangkeng tujuan-tujuan tertentu. Warna memiliki bos baru, gembala baru. Suka tidak suka, pantas tidak pantas, tepat tidak tepat, sebuah warna harus digunakan dalam atribut, atau kostum, berdasarkan kesepakatan baru, tafsir baru.

Yuk, mari kita membangun solidaritas dan kepedulian, dalam konteks membangun keberagaman.

sumber: catatan pinggir N Riantiarno (Sketsa di majalah MATRA)

baca juga: majalah MATRA edisi cetak (print) — klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas