Budaya

“Semoga Bisa Mensejahterakan Rakyat, Baik Yang Pemilihnya Atau Bukan”.

oleh: S.S Budi Rahardjo MM

1.55KViews

 

MATRANEWS.id —

“Rakyat ialah kita
Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang
berbunga
Rakyat terus menebar optimisme kehidupan.
Orang Yang bersih tangannya dan murni hatinya
Yang selalu bersyukur, hari demi hari dengan segenap hati. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikutinya, seumur hidupnya.”

     “

Rakyat tidaklah mengandung makna sempit “segenap penduduk suatu negara” seperti yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), atau sekadar menjadi nomina yang berfungsi menerangkan seperti “lagu-lagu rakyat” atau “teater rakyat”.

Inilah bedanya bahasa yang digunakan dalam puisi dengan bahasa sehari-hari. Karena, kita tidak akrab dengan puisi dan setiap saat bergelut dengan bahasa sehari-hari itu, kata “rakyat” pun kita gunakan sekehendak hati.

Akibatnya, kata “rakyat” sering kehilangan maknanya yang sejati. Dewan yang mengaku dirinya mewakili rakyat itu, dalam praktiknya hanya mewakili partai.

Jika dikatakan “untuk kepentingan rakyat”, pada dasarnya yang dimaksudkan adalah “untuk kepentingan suatu golongan” atau “untuk kepentingan orang-orang tertentu”. Kalau disebutkan “kedaulatan di tangan rakyat”, jangan buru-buru senang.

Yang sebenarnya berdaulat adalah orang-orang yang menyebut diri mereka “wakil rakyat”. Bukan rakyat yang, kata mereka, mereka wakili. Kan, pemilihan umum adalah upacara resmi penyerahan kedaulatan dari tangan rakyat kepada wakilnya.

Anda boleh kecewa berat berton-ton karena ketua parlemen Anda yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri masih tetap duduk enak di kursi empuknya. Anda tidak bisa berbuat apa-apa karena kedaulatan telah Anda serahkan kepada wakil partai yang katanya mewakili Anda itu.

Walaupun demikian, memang masih banyak juga kata “rakyat” yang merupakan nomina yang berfungsi menerangkan arti kata dalam makna yang sebenarnya, seperti “menipu rakyat”, “musuh rakyat”, dan “melecehkan akal sehat rakyat”.

Yang ditulis terakhir ini adalah yang terbanyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pejabat yang berbicara atau memberi keterangan seolah-olah orang yang mendengar omongannya tidak memiliki akal sehat.

Seakan tanpa beban dan tanpa merasa bersalah mereka berkata dengan ringan akan membayar utang negara dengan harta karun. Atau, memberikan cek bernilai miliaran rupiah kepada pihak lain tanpa tanda terima, dan sebagainya.

“Rakyat adalah objek yang senantiasa dibohongi, ditipu, diperalat, disengsarakan, tidak dilindungi haknya, tetapi senantiasa diperlukan,” ujar seseorang dengan amarah. “Rakyat adalah semata-mata kuda tunggangan dan pengangkut beban,” terdengar suara dari pojok lain.

Ungkapan-ungkapan seperti ini merupakan ekspresi kekecewaan atas perlakuan terhadap rakyat pada umumnya.

Wakil rakyat sudah dilantik.  Semoga mereka bekerja benar, tak tertangkap OTT KPK:

Terus terang, sangat langka memberi makna menyejukkan terhadap kata “rakyat”. Dimana, “rakyat” berkata: Rakyat ialah suara kecapi di pegunungan jelita// suara kecak di muka pura//suara tifa di hutan kebun pala.

Hari ini, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dilantik. Mereka adalah adalah pilihan rakyat, semoga bisa mensejahterakan rakyat, baik yang pemilihnya atau bukan.

Penulis adalah …! Rakyat Di Era Digital.

 

Rakyat ialah kita
Jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang
berbunga
Rakyat terus menebar optimisme kehidupan.
Orang Yang bersih tangannya dan murni hatinya
Yang selalu bersyukur, hari demi hari dengan segenap hati. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikutinya, seumur hidupnya.

 

Redaksi
the authorRedaksi
Translate »
%d blogger menyukai ini: