Skandal Lingkungan dan Krisis Air Menghantui Danone

Di Tengah Ancaman Boikot, Danone Terus Disoal, Namun, di Prancis, sorotan terhadap Danone tidak hanya terbatas pada isu geopolitik, melainkan juga mencakup peran perusahaan ini dalam krisis lingkungan

Ilustrasi (Foto: Dok. Antara)
Ilustrasi (Foto: Dok. Antara)

MATRANEWS.ID – Nama perusahaan multinasional asal Prancis, Danone, tengah menghadapi sorotan tajam di tengah ancaman boikot global.

Sementara perusahaan-perusahaan multinasional lainnya merasakan tekanan serupa, Danone dituduh aktif mendukung rezim apartheid Israel, menyebabkan citra globalnya hancur.

Namun, di Prancis, sorotan terhadap Danone tidak hanya terbatas pada isu geopolitik, melainkan juga mencakup peran perusahaan ini dalam krisis lingkungan, khususnya krisis air di kawasan Auvergne.

Boikot Global dan Kritik Terhadap Dukungan Israel

Danone dan sejumlah perusahaan multinasional lainnya menjadi sasaran kritik global karena diduga mendukung rezim apartheid Israel.

Keterlibatan mereka dalam rezim yang terus melakukan genosida terhadap penduduk sipil Palestina di Jalur Gaza menimbulkan dampak signifikan terhadap citra global perusahaan-perusahaan tersebut.

Namun, di Prancis, isu yang lebih rinci dan lokal tengah mencuat terkait peran Danone dalam krisis air yang meresahkan masyarakat Auvergne.

Perusahaan ini, bersama anak perusahaannya, Société des Eaux de Volvic, dianggap menjadi dalang utama penyusutan debit air tanah di kawasan tersebut.

Krisis Air di Auvergne: Dalang Utama, Danone

Di tengah indikasi kekeringan yang semakin memburuk di kawasan Auvergne, Danone di Prancis dituduh menjadi sumber utama krisis air yang melibatkan masyarakat lokal dan pengusaha setempat.

Edouard de Féligonde, pemilik peternakan ikan setempat yang merupakan warisan sejak abad ke-17, memimpin jurnalis berkeliling di propertinya yang kini terancam oleh krisis air.

Sejak Danone mengambil alih Société des Eaux de Volvic pada tahun 1993, penyedotan air tanah meningkat empat kali lipat, mengakibatkan peternakan ikan Saint-Genest l’Enfant, yang diakui sebagai monumen bersejarah, menghadapi kekeringan yang menghancurkan.

“Bukan hanya kekeringan biasa yang kami hadapi, tapi kekeringan ini berpengaruh langsung pada sumber daya untuk usaha ini,” keluh Edouard de Féligonde.

Tanggapan Danone dan Dugaan Penggiat Lingkungan

Danone membantah bahwa operasi bisnis air minum dalam kemasan (AMDK) mereka menyebabkan penurunan debit air tanah di Auvergne.

Mereka didukung oleh dinas terkait yang menggolongkan ‘perubahan iklim’ sebagai penyebabnya.

Namun, argumen ini ditentang keras oleh penggiat lingkungan dan masyarakat setempat yang merasakan dampak langsung dari kekeringan.

“Pembatasan penggunaan air mengancam bisnis saya,” kata seorang pengusaha setempat bernama Jeff, yang terpaksa memangkas penggunaan air hingga 25 persen.

Dia menyalahkan Danone atas ketidakmampuannya mengontrol volume pemompaan air.

François-Dominique de Larouzière, seorang ahli geologi, dan Hydrobiolog Christian Amblard, anggota asosiasi perlindungan lingkungan PREVA, meragukan alasan perubahan iklim sebagai penyebab penurunan debit air.

Amblard bahkan menyatakan bahwa ini bisa menjadi awal dari perubahan kawasan Auvergne menjadi daerah yang tandus.

Reaksi Masyarakat Lokal dan Ancaman Hukum

Krisis air dan dampaknya terhadap masyarakat lokal mendorong Edouard de Féligonde untuk memulai perjuangan hukum melawan Danone dan otoritas publik yang memberikan izin penyedotan air tanah di kawasan tersebut.

Sementara Danone tetap bersikeras bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas krisis air, kekhawatiran dan protes terus tumbuh di kalangan warga.

Di tengah tekanan global dan lokal, Danone harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tindakan dan dampak operasionalnya telah menjadi sorotan dunia.

Walaupun perusahaan ini mungkin berhasil membantah beberapa tuduhan, tantangan nyata bagi citra dan integritasnya semakin mendalam.

Tinggalkan Balasan