Budaya

Srikandi, Perkumpulan Istri Warga Negara Asing Peduli Kanker Serviks

239

Acara kepedulian berlangsung sukses di Hotel JW Mariots, dalam kaitan HUT Srikandi ke 17 Tahun. “Kami adakan pameran kesenian dan budaya Papua,” ujar Ketua Srikandi, Itha Saleem, istri dari Warga Negara Amerika ini.

Masih dalam konteks kepedulian, acara budaya itu dibuat rutin dan berkelanjutan. Bagaimana mengeksplorasi potensi pariwisata di Biak, Papua Barat karena selama ini belum dipromosikan secara maksimal.

Dalam kaitan HUT ke 17, menurut Itha, organisasi Srikandi ini punya misi luas, yakni dengan cara mengangkat kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat, khususnya aktivasi kaum peremuan di Papua. Pasalnya, “Papua, khususnya potensi wisatanya begitu eksotis, penuh pesona dan menarik untuk dilihat dan dipublikasikan ke permukaan.”

Itha Salem mengatakan, orang-orang di organisasi Srikandi ingin berbagi dan mengetuk kaum perempuan di sana.

‘Ayo bangkit’ untuk bercerita kepada dunia tentang potensi yang dimilikinya. Potensi alam yang eksotis, laut dan isinya, potensi ekonomi melalui kerajinan tenunan yang bisa dibuat apa saja. “Sekaligus budaya yang dimiliki begitu energik dan luar biasa bila dikemas dengan apik,” ujar Itha.

Gala Dinner dibuat sebagai ajang penggalangan dana buat para perempuan yang terkena kanker serviks di sana dan bisa bermanfaat dengan baik.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Dewan Kesenian Papua, Septinus Rumasep, dirinya bersyukur, organisasi istri-istri warga negera asing, perempuan Indonesia, Srikandi ini peduli dengan Papua. Hingga dia berharap dapat disinergikan dengan upaya Pemerintah Provinsi Papua untuk mengeksplorasi Papua dalam segala potensi yang dimilikinya.

Menjawab wartawan bagaimana kesiapan dan kemudahan menjangkau Papua, Septinus Rumasep mengatakan, ini memang pekerjaan rumah yang harus disikapi dengan cepat, baik dan tepat.

“Untuk Papua didatangi para wisatawan mancanegara maupun nusantara, Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi harus mempercepat penyediaan infrastruktur dengan baik, agar akses ke Papua dan menghubungkan Papua dengan semua provinsi dapat terlaksana dengan mudah, nyaman dan murah,” ucap Septinus Rumasep yang berterimakasih kepada Oraganisasi Istri Warga Negara Asing, Srikandi ini.

Seperti kita tahu, Srikandi sangat peduli akan kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan di Indonesia. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki angka tertinggi pengidap kanker serviks adalah Papua.

Yang juga menjadi catatan, dengan indikasi perhitungan setiap tahunnya 546 perempuan Papua meninggal akibat Kanker Serviks. Dr Rosaline Irene Rumaseuw mengatakan, ini tak lain karena kurang paham mengenai bahaya dan pengobatan dari kanker.

“Kanker ini menjadi masalah terbesar untuk wanita. Ketika saya berhadapan langsung dengan mama-mama di sana (Papua) ketika saya mendiagnosa mereka kanker, mereka tatapannya langsung kosong. Ini menjadi masalah buat saya, karena mereka tidak akan kembali lagi ke rumah sakit,” ungkap Dr Rosaline, saat ditemui di acara HUT ke 17 Perkumpulan Istri Warga Negara Orang, Srikandi

Menurut dr Rosaline Ruamseuw yang didamping Ketua Srikandi, Itha Saleem dan Sekretaris Dewan Kesenian Papua, Septinus rumasep, wanita yang telah divonis menderita kanker serviks tersebut lebih banyak memilih tidak kembali ke rumah sakit karena mereka tahu bahwa pengobatan yang mereka lakukan hanya jadi sia-sia.

“Saya selalu tanya kenapa mereka tidak mau kembali lagi. Mereka bilang itu penyakit mahal, daripada saya buang-buang uang lebih baik saya tabung uang itu untuk sekolah anak-anak atau memberikan pakaian layak untuk suami saya. Karena suami saya kerja dan harus tampil rapi,” ungkapnya menirukan wanita yang ditemuinya di Biak.

Selain itu, kata dr. Rosaline Ruamseuw, tingginya angka kematian akibat kanker serviks pun dilatarbelakangi masyarakat Papua yang masih percaya dengan hal mistis.

“Mereka lebih percaya kesembuhan bisa didapat ketika mereka mendatangi ‘orang pintar’. Makanya saya selalu mengedukasi mereka kalau sakit jangan cari ‘orang pintar’ tapi cari dokter,” papar wanita yang juga Presiden Lions Cub Jakarta Selatan Centennial Cendrwasih ini.

Selain itu, katanya, masyarakat pun lebih suka memendam penyakitnya tersebut. Sebab jika melakukan pengobatan hal itu akan menjadi sia-sia belaka. Yang juga perlu kita pahami, “Mereka juga bilang untuk apa berobat, toh nanti saya akan mati,” papar wanita yang aktif di parpol ini panjang lebar.

Nah!

Majalah MATRA terbaru

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas