BudayaTokoh

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

Oleh: S.S Budi Rahardjo

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

MATRANEWS.id — Bagi umat Nasrani, perayaan Natal semacam ritual yang dirayakan setiap tahun. Mengenai kelahiran Yesus Kristus di dunia ini.

Natal menjadi salah kaprah, ketika keluar dari esensi natal itu sendiri, tapi malah menjadi ajang menunjukan kemewahan dan kesuksesan. Lagu-lagu Natal yang dikumandangkan, pernak-pernik, hingga sampai makanan jasmani, seringkali menjadi tolok ukur sukses atau tidaknya perayaan Natal.

Banyak yang salah kaprah, dengan beberapa hal seperti: promosi-promosi barang-barang dengan diskon spesial di akhir tahun yang ditawarkan oleh banyak pusat-pusat perbelanjaan.

Natal, seolah makin identik dengan seorang tua gendut berjangkut putih berbaju merah mengendarai kereta terbang yang ditarik rusa-rusa, Santa Claus.

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

Tradisi menghadirkan seorang kakek Natal berjubah merah dan bertongkat beserta pembantu-pembantunya yang akan membagi-bagikan hadiah-hadiah, atau Natal berarti memasang pohon terang dengan banyak hiasan dan lampu berkelap-kelip di rumah-rumah, lengkap dengan kado-kado dan makan-makan.

Natal seharusnya mengaktualisasikan ajaran Kristus lebih konkrit.

Hidup bagi orang Kristen sesungguhnya adalah melayani, yang berarti hidup kita harus sepenuhnya menjadi berkat bagi setiap apa yang kita kerjakan. Menjadikan hidup lebih nyata dengan hadir untuk memberikan yang terbaik kepada sang pencipta.

Kelahiran Yesus, bukan sekedar kisah manis tentang kelahiran seorang bayi untuk diceritakan kepada anak-anak setiap akhir tahun. Juga bukan sekedar dijadikan tema sebuah komposisi acara musik rohani.

Yesus Kristus lahir, Allah menjadi manusia untuk bertumbuh menjadi dewasa dan kemudian mati untuk dosa-dosa kita sebagai sarana keselamatan kita.

Sang Juruselamat melalui seorang perawan bernama Maria datang kepada kita, menjadi manusia. Agar Ia dapat mati dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari kutuk maut. Allah menggenapi janjiNya. Yesus dilahirkan untuk menjadi Juruselamat kita!

Berita Menarik :  Menteri Basuki Hadimuljono Sosok Yang Nyentrik

Yesus Kristus lahir ke dalam dunia dan menjadi manusia untuk menyelamatkan barangsiapa yang percaya kepadaNya. Dia menjadi manusia agar bisa mati, dan menanggung segala hukuman atas dosa-dosa kita.

Ia juga bangkit mengalahkan maut dan kerajaan maut, menang mutlak sehingga Ia bisa berkata,”Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. ” (Wahyu 1:17-18)

Hanya oleh kasih karunia Allah, jika kita percaya secara pribadi, maka dosa-dosa kita diampuni dan semua orang yang percaya dapat diselamatkan.

Keselamatan adalah anugerah, pemberian Allah! Kita tidak dapat memperolehnya dengan melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya atau dengan cara apapun juga. Hanya dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, secara pribadi, maka dosa-dosa kita diampuni dan dapat diselamatkan.

Tidak ada bukti bahwa Yesus Kristus lahir pada 25 Desember, mengapa Natal dirayakan pada tanggal tersebut?

Encyclopædia Britannica mengatakan bahwa para bapak gereja kemungkinan memilih tanggal itu ”agar bertepatan dengan perayaan kafir Romawi yang memperingati ’hari lahir matahari yang tak tertaklukkan’”, pada titik balik matahari di musim dingin.

Menurut The Encyclopedia Americana, banyak pakar percaya bahwa hal ini dilakukan ”agar Kekristenan lebih bermakna bagi orang-orang kafir yang menjadi Kristen”.

Berita Menarik :  Perubahan Paradigma Pol PP Terlihat, Lebih Humanis

Sementara itu, ada ajaran yang tak boleh memberi ucapan: “Selamat Natal” kepada yang merayakannya.

Ironis, karena perayaan Natal, menjadi universal dan kadang membuat citra buruk kaum nasrani di mata agama lain, sehingga disebut “kafir”.

Agama yang sering menyebut “kafir” karena melihat kelakuan anak-anak Kristus, saat Natal bukannya merayakan dengan kasih, tapi kelakuannya menjadi “batu sandungan”. Pesta pora, mabuk-mabukan, seperti di beberapa diskotek di beberapa belahan dunia.

Banyak hal yang bisa membuat kita kehilangan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan melakukan perbuatan yang menyakit-Nya.

Kafir menurut Bibel di Perjanjian Lama, adalah bangsa Yahudi menyebut orang-orang di luar bangsa Yahudi, sebagai bangsa pilihan. Mereka menggunakan istilah goyim yang merupakan bahasa Ibrani untuk menyebutkan kata kafir.

Bangsa Yahudi merasa umat khusus, bangsa yang dipilih oleh Allah. Kata kafir di sini pun didefinisikan sebagai orang-orang yang tidak menyembah Allah Abraham.

“Kafir” merupakan terjemahan dari kata ‘ethnikos’. Kata ini menunjukkan sebuah pola hidup yang tidak sesuai dengan adat Yahudi. Kita tahu bahwa Yahudi sendiri memiliki hidup yang menuruti perintah firman Tuhan. Jadi, kata ‘kafir’ di sini menjelaskan hidup yang tidak sesuai perintah firman Tuhan.

Secara etnologi, kata kafir menurut Kristen merujuk pada orang-orang non-Yahudi seperti yang dijelaskan pada Perjanjian Lama. Namun, Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Galatia memakai kata kafir orang-orang yang tidak mengalami pertobatan, yang masih memiliki kehidupan yang sama seperti orang-orang non-Kristen.

Berita Menarik :  Pesta Kesenian Bali 2019 & ‘The Gang Of Three

Intinya adalah, bangsa Yahudi pun bisa saja disebut sebagai kafir.

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

Hal ini juga menekankan bahwa kafir bukan hanya sekedar orang yang tidak menganut agama Kristen. Makna kafir bukan hanya sekedar agama Kristen atau tidak.

“Kafir” adalah orang yang hidup semaunya sendiri, men-tuhan-kan diri sendiri, meski di KTP tertulis Kristen pada kolom agamanya, ia bukanlah seorang Kristen.

Ia adalah seorang kafir karena tidak hidup sesuai firman Tuhan.

Bahwa, kata “kafir” seringkali dipakai untuk mengungkapkan kebencian dan untuk membela agamanya sendiri.

Pada pengertian seharusnya, orang percaya akan nabi-nabi dari Abraham hingga Isa Almasih tidak bisa disebut kafir.

Gus Dur pernah berkata, “Kafir itu bukan orang Kristen dan orang Yahudi. Kenapa? Yang dinamakan kafir di dalam Alquran adalah orang-orang yang enggak bertuhan.”

Isa Almasih telah lahir ke dunia.

Joy to the world! Sukacita bagi dunia!

Ya, memang kelahiran seorang bayi sering merupakan kabar membahagiakan! Tetapi kelahiran bayi Yesus Kristus adalah khusus, jauh melebihi kelahiran bayi-bayi lain, karena bayi ini adalah Sang Juruselamat yang telah datang! Maka kita patut bersukacita karenanya!

Kelahiran Yesus, bukan sekedar kisah manis tentang kelahiran seorang bayi untuk diceritakan kepada anak-anak setiap akhir tahun atau sekedar dijadikan tema sebuah komposisi acara musik rohani.

Yesus Kristus lahir, Allah menjadi manusia untuk bertumbuh menjadi dewasa dan kemudian mati untuk dosa-dosa kita sebagai sarana keselamatan kita. Yesus dilahirkan untuk menjadi Juruselamat kita!

Suka Cita Natal, Bangsa Pilihan & Salah Makna Soal Kata Kafir

#ssbudirahardjo

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi