Ekonomi

Usaha Konvergensi Media – Oleh S.S Budi Rahardjo (Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia)

807Views

Penulis kini merupakan Pemred Majalah MATRA, CEO majalah Eksekutif dan Ketua Forum Pimpinan Media Digital dan coach Densus Digital. Saat di New York, Amerika Serikat.

Media Massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan oleh masyarakat kita untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didisain untuk mencapai masyarakat luas.

Dalam pembicaraan sehari-hari, istilahnya media. Merupakan pilar keempat bagi demokrasi. Tapi di era konvergensi media bisa menjadi Pilar ke lima.

Ada yang namanya medsos, bisa menyindir (bahkan meledek) kalangan yang selama ini berharap besar, dan berpandangan terlalu optimistik.

Korelasi antara ekspektasi publik dan medsos menjadi erat, meminggirkan peran media massa mainstream.

Titik pijak media massa mainstream, lebih kepada diisi oleh jurnalis yang kompeten tidak ikut-ikutan “edan” dan keluar pakem zaman normal.

Bangsa ini telah berlaku tidak adil terhadap rasionalitas, keberanian, dan nurani. Semuanya terserah mau kita sebagai bangsa.

Meneruskan zaman edan, atau menjadikan masa pancaroba ini sebagai jembatan menuju zaman waras.

Pers jaman sekarang sudah memasuki Multimedia yang saling terkait. Media Massa modern menyangkut smartphone, WA, SMS atau internet. Tak terbatas pada buku atau surat kabar.

Media adalah channel. Dari media elektronik, media cetak hingga online media. Tak sekedar bersifat satu arah. Menghibur. Meyakinkan. Menginformasikan. Juga menciptakan rasa kebersatuan.

Tak semua orang di era media digital bisa disebut Wartawan. Walau dengan teknologi semua bisa menginformasikan.

Ada yang namanya kompetensi. Wartawan menyampaikan berita sesuai 5 W 1 H.

Pimpinan Media Digial tergerak untuk membangkitkan kesadaran agar wartawan media online tidak disorientasi. Mengarahkan untuk setiap web atau media online mempunyai wartawan yang sudah kompeten sesuai dari prosedur Dewan Pers.

Bersama Dewan Pers membangkitkan dan memberi kesadaran kepada setiap wartawan online dalam kode etik Dewan Pers (Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers).

Inilah yang disebut, era Digital merupakan pemicu terbesar akan bergesernya preferensi konsumen terhadap channel komunikasi. Akibatnya, trend Public Relations (PR) pun mengalami pergeseran.

Benarkah?

– Siaran Pers Sudah Tidak “Bergigi”
Siaran pers atau press release dengan format standard sudah tidak “bergigi” saat sekarang. Media menerima banyak isu atau rilis setiap harinya, sehingga mereka hanya mungkin memiliki beberapa detik untuk melihat cerita atau konten yang Anda kirimkan.

Artinya, jika perusahaan tidak benar-benar memiliki inovasi, maka akan sia-sia alias percuma jika tim PR menulis siaran pers dan mendisttribusikannya ke media atau wartawan.

Daripada mencoba untuk mendapatkan liputan media melalui siaran pers yang dinilai tidak efektif, para profesional PR dan pemasar mencari cara-cara baru dan berbeda.

Caranya?
Misalnya, dengan memanfaatkan media sosial, membangun hubungan dengan para pemimpin industri dan influencer, dan mengkombinasikan kualitas visual dalam pesan komunikasi brand.

Gunanya untuk mendapatkan perhatian dari para jurnalis sehingga mereka dapat membantu Anda menyebarkan pesan komunikasi brand atau perusahaan.


Konten yang Mengandung Amplifikasi akan Lebih Dibutuhkan

Kita arus tahu bagaimana memanfaatkan dan memperkuat konten PR untuk mendapatkan lebih banyak mata animo publik.

Dan, kualitas konten merupakan kuncinya. Ketika Anda mulai dengan konten yang baik, maka Anda akan menemukan lebih banyak jalan untuk mendistribusikan sekaligus mengamplifikasinya.

– Brand Advocates yang Bicara Negatif dapat Dicegah dengan Konten
Anda tidak pernah tahu brand advocates yang akan tiba-tiba menyerang brand atau perusahaan dengan cara membicarakan keburukan brand di akun social media mereka.

Untuk mencegah hal itu, maka Public Relation dapat memulainya dengan melakukan pelatihan.

Manajemen Reputasi Online Makin Diperlukan

Ketika tim PR melempar cerita atau konten untuk para editor atau jurnalis, maka hal pertama yang banyak mereka lakukan adalah mencari tahu siapa diri Anda dan seperti apa perusahaan Anda.

Untuk itu, penting mengelola reputasi online Anda agar pesan brand atau perusahaan dapat sampai ke khalayak yang tepat.

Lakukan hal itu secara konsisten dan rutinlah mempublikasikan konten berkualitas.

Influencer Sejati Tidak Selalu Memiliki Pengikut Banyak

Banyak perusahaan tergiur menghabiskan sejumlah besar uang untuk mendapatkan perhatian dari para influencer di industrinya.

Cukup dimaklumi, karena para influencer memiliki ratusan ribu pengikut media sosial dan mereka dapat membantu mempromosikan pesan brand atau perusahaan ke seluurh pengikut mereka.

Namun, perlu diingat, jumlah pengikut yang lebih banyak tidak menjamin bahwa mereka (pengikut) merupakan orang yang tepat untuk brand Anda.

Artinya, lebih baik memiliki sedikit pengikut, namun mereka adalah orang yang memang tertarik pada konten Anda, memiliki keterlibatan dengan brand Anda, bahkan mencintai mereka Anda.

Untuk itu, fokus pada influencer yang mampu membangun pengaruh di antara audience yang ditargetkan brand atau perusahaan.

Ada komentar???

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »