IT  

51 Tahun Polytron, Tentang Rumah, Perjalanan, dan Teknologi yang Makin Mengerti Manusia

Dari televisi hitam-putih hingga AC yang bisa menerima perintah suara tanpa internet, perjalanan Polytron memperlihatkan satu hal: teknologi berubah, tetapi kebutuhan manusia tetap sederhana—ingin hidup sedikit lebih mudah.

51 Tahun Polytron, Tentang Rumah, Perjalanan, dan Teknologi yang Makin Mengerti Manusia
51 tahun Polytron

MATRANEWS.ID — Ada masa ketika orang harus berjalan mendekati televisi, memutar tombol, lalu menunggu gambar muncul perlahan. Kini, kebiasaan itu terasa jauh. Bahkan pendingin udara sudah bisa menyala hanya karena pemilik rumah memanggilnya.

“Hai Polytron.”

“Nyalakan AC.”

Sesederhana itu.

Perubahan kecil tersebut ikut mewarnai perayaan 51 tahun Polytron di Indonesia. Perusahaan elektronik yang tumbuh dari Kudus itu menggelar Polytron Fest 51st Anniversary di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 19–20 September 2026.

Namun Polytron Fest bukan sekadar pesta ulang tahun dan panggung musik. Dalam acara tersebut, Polytron memperkenalkan kampanye “Bangga Terus Melangkah”, menggandeng MALIQ & D’Essentials, menjalankan gerakan sosial bersama Kitabisa.com, sekaligus meluncurkan Polytron Neuva Pro dengan fitur Voice Sense.

Dari seluruh agenda itu, Neuva Pro membawa cerita tersendiri. AC tersebut dapat menerima perintah suara tanpa koneksi internet.

Saat Remote Tak Lagi Menjadi Satu-satunya Pilihan

Remote control punya satu persoalan yang hampir semua orang pernah alami: benda kecil itu kerap menghilang tepat ketika dibutuhkan.

Kadang remote terselip di sela sofa, tertutup selimut, atau berpindah tangan tanpa seorang pun ingat siapa yang terakhir menggunakannya. Karena itu, Polytron mencoba memangkas kerepotan kecil tersebut melalui Voice Sense.

Pengguna cukup berbicara langsung ke arah AC. Mereka tak perlu membuka aplikasi, menghubungkan perangkat ke Wi-Fi, atau menunggu jaringan internet stabil.

Perangkat memproses perintah suara secara langsung. Menurut Polytron, Neuva Pro menjadi AC pertama di Indonesia yang menawarkan fitur deteksi suara tanpa koneksi internet.

Sekilas, kemampuan itu mungkin tampak sebagai tambahan fitur. Namun justru dari hal sederhana semacam inilah teknologi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih meminta pengguna menyesuaikan diri dengan perangkat, teknologi mulai berusaha mengikuti kebiasaan manusia.

Teknologi Tak Harus Membuat Hidup Makin Rumit

Rumah pintar kini menjadi bagian dari arah perkembangan industri elektronik.

Lampu dapat dikendalikan dari telepon genggam. Kamera keamanan tersambung ke internet. Televisi mengenali akun penggunanya, sedangkan pendingin udara bisa diatur lewat aplikasi.

Semua itu terdengar modern. Meski demikian, kecanggihan sering membawa konsekuensi baru: pengguna harus melakukan lebih banyak langkah.

Mereka perlu mengunduh aplikasi, membuat akun, mengingat kata sandi, memasangkan perangkat, lalu memastikan koneksi internet bekerja dengan baik.

Padahal kebutuhan sehari-hari terkadang jauh lebih sederhana.

Seseorang baru pulang setelah seharian bekerja. Udara kamar terasa panas. Dalam situasi seperti itu, ia mungkin tidak ingin membuka aplikasi atau mencari remote.

Cukup berkata, “Nyalakan AC.”

Kemudian AC bekerja.

Di titik itulah teknologi terasa lebih masuk akal. Bukan karena tampil semakin rumit, melainkan karena mampu mengurangi kerepotan manusia.

Dari Kudus, Menyusuri Lima Dekade Perubahan

Polytron memulai perjalanan pada 1975 ketika wajah industri elektronik Indonesia masih sangat berbeda.

Pada masa itu, televisi hitam-putih menjadi salah satu pusat hiburan keluarga. Perangkat audio mengisi ruang rumah, sementara internet bahkan belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Lima puluh satu tahun kemudian, banyak hal telah berubah. Polytron pun ikut bergerak bersama perubahan tersebut.

Bisnis yang dahulu kuat di televisi dan audio berkembang ke kulkas, mesin cuci, pendingin udara, dispenser, perangkat dapur, laptop, monitor, hingga kendaraan listrik.

Akibatnya, produk Polytron kini bisa ditemukan dalam berbagai bagian keseharian seseorang.

Pagi hari, seseorang mungkin mematikan AC setelah bangun tidur. Setelah itu, ia menyiapkan sarapan dengan perangkat elektronik rumah tangga, kemudian berangkat menggunakan kendaraan listrik. Saat bekerja, laptop dan monitor mengambil peran. Ketika malam tiba, televisi atau perangkat audio kembali menemani waktu di rumah.

Dengan cara itu, Polytron mencoba hadir bukan hanya sebagai produsen barang elektronik, tetapi sebagai bagian dari ritme keseharian konsumennya.

Bagi merek yang telah melewati usia setengah abad, tantangannya tentu bukan sekadar bertahan. Yang lebih sulit justru menjaga agar keberadaannya tetap terasa dekat dengan generasi yang terus berganti.

“Bangga Terus Melangkah” dan Cerita Orang Biasa

Semangat perjalanan tersebut kemudian Polytron bawa ke kampanye “Bangga Terus Melangkah.”

Kalimatnya sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang.

Tidak semua perjalanan berjalan mulus. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan lalu mencoba memulai lagi. Seorang pedagang mungkin tetap membuka toko setiap pagi meski pembeli belum tentu ramai. Di tempat lain, mahasiswa menjalani kuliah sambil bekerja, sementara orang tua terus berusaha memberi kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

Sebagian orang bahkan tidak sedang mengejar kemenangan besar. Mereka hanya berusaha melewati satu hari, lalu menghadapi hari berikutnya.

Cerita seperti itulah yang ingin Polytron bawa ke dalam kampanye ulang tahunnya.

Untuk menyuarakan pesan tersebut, perusahaan menggandeng MALIQ & D’Essentials. Polytron melihat adanya kesamaan perjalanan antara keduanya: sama-sama melewati perubahan zaman, bertemu generasi baru, dan terus mencari cara agar tetap relevan.

Kolaborasi itu akan berlanjut dalam sebuah proyek video musik.

Di balik musik tersebut, ada pesan yang lebih sederhana: perjalanan tidak harus selalu sempurna untuk tetap layak dibanggakan.

Ketika Satu Share Berubah Menjadi Langkah Baik

Perayaan ulang tahun kemudian bergerak keluar dari area festival. Bersama Kitabisa.com, Polytron menghadirkan program “5.100 Langkah Baik.”

Masyarakat dapat berpartisipasi melalui media sosial dengan membagikan ulang unggahan kampanye Polytron, menuliskan cerita tentang “langkah baik” versi mereka, lalu mengunggahnya melalui Instagram Story.

Polytron menyatakan setiap satu share akan bernilai donasi Rp51.000.

Selanjutnya, dana tersebut akan digunakan untuk beasiswa pendidikan dan bantuan alat usaha bagi pelaku UMKM yang membutuhkan.

Angka 51 tentu mengikuti usia Polytron tahun ini. Akan tetapi, perusahaan mencoba memberi angka itu makna lain dengan menghubungkannya pada kegiatan sosial.

Dengan begitu, perayaan tidak berhenti pada panggung, konser, atau seremoni ulang tahun.

Ada bagian yang ingin diteruskan menjadi manfaat bagi orang lain.

Bertahan Berarti Terus Menyesuaikan Diri

General Manager Corporate Communications Polytron, Diantika, mengatakan perjalanan lebih dari lima dekade tidak hanya berbicara tentang kemampuan perusahaan untuk bertahan.

Menurut dia, perusahaan juga harus terus membaca perubahan kebutuhan masyarakat.

“Polytron adalah perusahaan elektronik nasional yang selama lebih dari 50 tahun tidak hanya bertahan, tetapi terus bertumbuh,” ujar Diantika.

Dalam pengembangan produknya, Polytron menggunakan pendekatan 3i: Invention, Innovation, dan Improvement.

Istilah tersebut terdengar sangat korporat. Namun bila diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari, maknanya sederhana: mencoba, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Barangkali pola seperti itulah yang membuat sebuah perusahaan mampu bertahan puluhan tahun.

Sebab umur panjang dalam dunia teknologi tidak datang hanya dari produk yang pernah sukses. Perusahaan juga harus berani meninggalkan kebiasaan lama ketika kebutuhan konsumen mulai berubah.

Ketika Teknologi Mulai Belajar Mendengar

Industri elektronik hari ini jauh lebih rumit dibanding lima dekade lalu.

Produsen televisi tidak lagi hanya berhadapan dengan sesama produsen televisi. Perusahaan elektronik masuk ke kendaraan listrik, sementara produsen otomotif memperluas bisnis ke perangkat lunak. Di sisi lain, perusahaan internet mulai membuat perangkat rumah tangga.

Akibatnya, batas antarindustri semakin kabur.

Meski datang dari jalur berbeda, mereka akhirnya bertemu di ruang yang sama: kehidupan manusia.

Karena itu, persaingan teknologi tidak hanya soal siapa yang mampu menghadirkan fitur paling banyak. Kemampuan memahami kebiasaan pengguna justru menjadi semakin penting.

AC yang menerima perintah suara tanpa internet mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan kecerdasan buatan atau kendaraan listrik.

Namun bagi seseorang yang pulang dalam keadaan lelah, kemampuan mengatakan “nyalakan AC” tanpa mencari remote bisa terasa jauh lebih nyata.

Teknologi menjadi berguna ketika manusia tidak perlu sibuk memikirkan cara mengoperasikannya.

Perangkat cukup memahami kebutuhan, lalu bekerja.

Setelah 51 Tahun, Perjalanan Belum Selesai

Polytron memulai kisahnya dari Kudus.

Perusahaan itu tumbuh bersama televisi, perangkat audio, dan masa ketika barang elektronik masih menjadi simbol kemajuan di ruang keluarga Indonesia.

Sekarang, jejaknya sudah sampai pada kendaraan listrik, laptop, perangkat rumah pintar, serta pendingin udara yang mampu menerima perintah suara.

Lima puluh satu tahun jelas bukan perjalanan singkat. Namun umur panjang tidak otomatis menjamin masa depan sebuah perusahaan teknologi.

Generasi terus berganti. Kebiasaan konsumen ikut berubah, sementara teknologi berkembang semakin cepat.

Karena itu, perusahaan harus terus belajar memahami manusia yang menggunakan produknya.

Di sinilah kalimat “Bangga Terus Melangkah” memperoleh makna yang lebih luas.

Kemajuan tidak selalu membutuhkan lompatan besar. Kadang, perjalanan justru bertahan karena seseorang mau mengambil satu langkah kecil, kemudian melanjutkannya dengan langkah berikutnya.

Polytron memulai langkah itu pada 1975.

Lima puluh satu tahun kemudian, perjalanannya masih berlanjut.

Exit mobile version