MATRANEWS.ID – “Ngapain sih pacaran sama berondong?” adalah komentar yang masih kerap terdengar di telinga banyak perempuan dewasa yang memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda.
Pandangan ini seperti cermin sosial yang menunjukkan bahwa norma pacaran konvensional—di mana laki-laki lebih tua dari perempuan—masih dominan di tengah masyarakat kita.
Namun, fenomena perempuan yang memilih pasangan lebih muda kini semakin mendapat tempat.
Dan, lebih dari itu, sebuah studi mengungkapkan bahwa mereka justru merasa lebih bahagia dalam hubungan tersebut (23/5/2025).
Data dan Fakta: Bahagia Bersama yang Lebih Muda
Peneliti hubungan, Dr. Justin Lehmiller, menyebutkan bahwa perempuan yang menjalin hubungan dengan pria yang 10 tahun lebih muda mengaku paling bahagia dibandingkan mereka yang berpacaran dengan pria seumuran atau lebih tua.
Survei yang melibatkan 200 responden perempuan ini menjadi penegas bahwa preferensi usia dalam berpacaran bukanlah hal mutlak, tapi soal kenyamanan dan persepsi kebahagiaan dalam relasi.
Perempuan yang dominan, mandiri, dan tahu apa yang mereka inginkan, merasa lebih cocok dengan pasangan berondong yang cenderung lebih fleksibel.
Energi Muda, Cinta Lebih Hidup
Berondong, karena faktor usia, cenderung lebih aktif, terbuka untuk eksplorasi, dan antusias menjalani hubungan.
Ini membuat perempuan merasa lebih diperhatikan dan dihargai.
Perhatian yang diberikan bisa jadi bukan dalam bentuk materi, tapi dari kualitas waktu dan kesediaan untuk mendengar serta menyesuaikan diri.
Misalnya, ajakan untuk piknik ke taman atau berkendara malam keliling kota justru disambut antusias oleh pasangan yang lebih muda.
Berbeda dengan pria dewasa yang sudah terlalu lelah oleh rutinitas, pria muda menganggap ini sebagai momen spesial yang layak dirayakan.
Tantangan: Belum Mapan dan Minim Rencana Serius
Namun, hubungan dengan berondong tidak bebas dari tantangan. Kendala utama sering kali datang dari ketidakmapanan.
Pasangan muda biasanya belum stabil secara finansial dan kariernya belum matang.
Konsekuensinya, rencana untuk menikah atau membangun rumah tangga bisa menjadi lebih panjang dan penuh kompromi.
Tak hanya itu, ekspektasi akan kehadiran pasangan yang dewasa dalam berpikir dan bertindak juga belum tentu terpenuhi.
Beberapa perempuan mengaku, meski secara emosional mereka merasa disayangi, secara visi masa depan kadang tidak sejalan.
Persepsi Sosial: Cinta yang Masih Dinilai Tabu
Pacaran dengan pria lebih muda juga kerap menjadi bahan gunjingan, terutama dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Label seperti “ngemong” atau “memelihara bocah” menjadi beban psikologis tersendiri bagi perempuan yang menjalin hubungan seperti ini.
Padahal, jika kebahagiaan adalah tolok ukur, data menunjukkan bahwa pasangan berondong dapat memberi rasa aman emosional yang lebih besar.
Ini menciptakan dinamika relasi yang lebih ringan dan mengalir, tanpa beban ekspektasi berlebihan.
Refleksi: Realitas Cinta yang Dinamis
Fenomena pacaran dengan berondong mencerminkan perubahan cara pandang perempuan terhadap cinta dan relasi.
Pilihan ini bukan soal usia semata, tetapi bagaimana peran, perhatian, dan kebahagiaan saling bertaut dalam kehidupan dua insan.
Masyarakat sebaiknya mulai menggeser fokus dari urusan umur menuju nilai-nilai fungsional dalam hubungan: kepercayaan, komunikasi, dan rasa hormat.
Kebahagiaan tidak mengenal umur, dan cinta yang sehat bisa tumbuh dari relasi yang dibangun dengan pengertian.
Solusi dan Nilai Tambah
Untuk perempuan yang menjalin relasi dengan pria lebih muda, penting untuk menegosiasikan visi masa depan secara terbuka sejak awal.
Diskusi tentang tujuan hidup, nilai-nilai keluarga, dan kesiapan berkomitmen harus menjadi bagian dari dinamika cinta yang sehat.
Bagi masyarakat, langkah bijaknya adalah membuka pikiran.
Biarkan setiap individu merayakan cinta dalam bentuk yang paling membuat mereka bahagia. Selama tidak melanggar hukum dan nilai etika dasar, siapa kita untuk menghakimi?






