Maraknya Kenakalan Remaja di Mata Sang Jenderal

Brigjen TNI Harzeni Paine, S.H., M.A., Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).
Brigjen TNI Harzeni Paine, S.H., M.A., Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).

MATRANEWS.id Bicara tentang kenakalan remaja anak usia sekolah memang tak ada habisnya. Seolah hal ini menjadi fenomena yang tak berkesudahan. Berbagai upaya pencegahan sudah dilakukan Pemerintah, pihak sekolah, dan orang tua. Namun masih saja ada kejadian.

Terbaru, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah melakukan terobosan pembinaan anak-anak sekolah bermasalah dengan mengirim mereka ke Barak Militer.

Tujuannya tak lain untuk mengembalikan marwah anak-anak yang dianggap nakal ini menjadi lebih baik, disiplin dan taat aturan. Bisa dimengerti, terobosan Dedi Mulyadi ini menimbulkan pro dan kontra. Dalam beberapa bulan terakhir, pro dan kontra ini masih bermunculan di lini media sosial.

Fenomena kenakalan remaja dan terobosan Gubernur Jabar ini rupanya menarik perhatian  Brigjen TNI Harzeni Paine, S.H., M.A., Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).

Menurut Harzeni, banyaknya siswa sekolah SMP dan SMA perlu mendapat perhatin serius. Hingga sekarang, tak sedikit anak-anak sekolah yang menjadi korban narkoba, melakukan tawuran antar pelajar, dan banyak anak yang putus sekolah.

“Ngeri kalau lihat tawuran anak-anak sekolah sekarang. Mereka ada yang bawa celurit dan parang. Kalau dibiarkan sangat bahaya ini,” ujar Harzeni.

Faktor Guru

Di mata Sang Jenderal, fenomena kenakalan remaja ini disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor orang tua dan guru. Harzeni menggambarkan, kondisi guru di zaman sekarang berbeda dengan guru pada zaman dulu. Bukan berarti guru-guru yang sekarang jelek, namun dalam teknik pembinaan siswa dianggap masih kurang.

Guru di zaman dulu, lanjutnya, umumnya berasal dari sekolah khusus untuk Guru, yakni Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Di sekolah ini, guru benar-benar dibentuk menjadi seorang pendidik sejati. Bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, namun mencakup luas tentang budi pekerti, tata krama, dan psikologi, dan keteladanan.

Guru-guru yang berasal dari SPG, menurutnya, rerata memiliki jiwa pendidik yang memegang teguh ketertiban diri, sopan santun, tata krama yang tinggi, dan sangat tegas.

Maka itu, guru zaman dulu memiliki wibawa yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Namun guru di zaman sekarang, jarang yang memiliki wibawa, sehingga terkadang kurang dihormati oleh murid.

“Kalau guru zaman dulu, semasa saya sekolah, kalau memang ada murid yang salah dan memang dianggap perlu dijewer ya dijewer beneran. Dan tidak ada murid yang berani melawan, karena gurunya memiliki wibawa dan keteladanan luar biasa,” ujarnya.

Menurut Harzeni, para guru zaman dulu memiliki pengusaan materi pelajaran yang luar biasa. Materi sejarah benar-benar di luar kepala, sehinga saat mengajar di kelas tidak perlu melihat contekan buku.

“Sebagai contoh, cara guru zaman dulu mengajar di depan kelas tentang sejarah perjuangan para pahlawan, itu seperti bercerita yang bisa membawa alam bawah sadar muridnya seolah hadir di zaman perjuangan. Makanya, murid pun akan senang menyimak dan mudah untuk menghafal,” jelasnya.

Dari sisi kedisiplinan dan ketegasan, menurut Jenderal Harzeni, guru zaman dulu sangat tegas. Kalau ada murid yang didapati merokok di lingkungan sekolah, hukumannya berat. Rokok bisa disumpalkan di mulut si murid sampai benar-benar kapok, sehingga tidak lagi berani mengulangi perbuatannya.

“Nah, kalau sekarang, kita sering melihat atau mendengar banyak anak-anak sekolah SMP dan SMA yang berani merokok di lingkungan sekolah, tapi tidak dihukum tegas. Bahkan ada murid yang berani terang-terangan merokok di kelas. Ini kalau dibiarkan kan bisa merusak lingkungan sekolah, merusak masa depan mereka sendiri,” ujarnya.

Faktor Orang Tua

Faktor kedua, menurut Harzeni, adalah orang tua. Pola pengawasan orang tua zaman sekarang juga beda dengan orang tua zaman dulu. Zaman dulu orang tua sangat ketat dalam mendisiplinkan anak-anaknya.

Pengawasan orang tua zaman dulu terhadap anak-anak juga luar biasa. Jarang sekali zaman dulu anak-anak sekolah yang berani keluyuran sampai tengah malam.

Tapi anak-anak sekarang, mungkin karena orang tuanya sibuk kerja, jadi kurang adanya pengawasan. Perhatian orang tua terhadap anak juga makin kurang. Sekarang banyak anak-anak sekolah yang berani keluyuran sampai malam, bahkan ada yang sampai pagi.

“Akibatnya, banyak anak sekolah yang terpengaruh narkoba, pergaulan bebas, senang sesama jenis, dan sering terjadi tawuran,” katanya.

Menurut Harzeni, salah satu solusi untuk mengatasi masalah kenakalan anak-anak sekolah ini adalah dengan mengumpulkan anak-anak nakal tersebut dalam suatu tempat untuk dibina dengan baik secara serius.

“Saya setuju dengan yang sudah digagas oleh Gubernur Jabar, Pak Dedi Mulyadi, melakukan pembinaan anak-anak sekolah yang bermasalah ke barak,” ujarnya.

Harzeni menegaskan, program kegiatan ini jangan disalah artikan, seolah-olah akan menjadikan mereka sebagai tentara. Program ini hanya membentuk, membina, dan mengarahkan mereka menjadi lebih baik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Program pembinaan ini bisa menjadi salah satu dasar bagi mereka dalam mempersiapkan diri untuk meraih cita-cita mereka, apapun cita-citanya.

“Memang, kegiatan pembinaan anak-anak sekolah yang bermasalah ke barak militer menjadi pro dan kontra. Itu lumrah saja. Namun yang perlu dipahami adalah kegiatan pembinaan ini bukan untuk mengubah anak dididik secara militer,” ungkapnya.

Akan tetapi pembinaan melalui media barak ini untuk menanamkan kedisiplinan, memanfaatkan waktu menjadi lebih bermanfaat, dan pentingnya diberikan wawasan kebangsaan pada mereka. Sehingga akan terbentuk anak-anak sekolah yang berkarakter. Intinya, mengembalikan dasar-dasar karakter anak menjadi lebih baik.

Jadi Perhatian Presiden Prabowo

Menurutnya, yang namanya pembinaan kedisiplinan sudah pasti penuh dengan aturan. Kedisiplinan akan terbentuk kalau mau menjalankan aturan.

Harzeni mencontohkan, orang-orang yang bekerja di bank atau perusahaan lain, setiap pagi diawali dengan “briefing”. Kegiatan ini sebagai controling, sebelum mereka melaksanakan tugas. Begitu pula di TNI, tiap pagi mengadakan apel pagi.

Makanya, dalam pembinaan-anak-anak sekolah yang bermasalah, selama di barak, sebelum diberikan materi pembinaan, mereka melakukan kegiatan apel pagi untuk membiasakan kedisiplinan.

“Nah, yang perlu dipahami, anak-anak ini generasi muda yang nantinya akan melanjutkan Bangsa ini. Kalau tidak dipersiapkan dengan baik mulai sekarang,” ujarnya.

Menurut Harzeni, proses regenerasi Bangsa harus dipersiapkan dengan baik, kalau tidak  bisa membayakan masa depan negara. Presiden Prabowo Subianto sangat concern dengan regenerasi, makanya perhatian Presiden terhadap anak-anak muda sangat tinggi.

Progran Makan Bergizi Gratis adalah salah satu contoh. Dengan memberikan makanan bergizi kepada anak sekolah, diharapkan generasi muda Indonesia bisa sehat dan tumbuh dengan baik untuk menyongsong masa depan.

Ia berharap, anak-anak muda Indonesia bisa lebih semangat dalam meraih cita-cita. Dengan membiasakan diri berdisiplin dan menjauhi pergaulan yang buruk, maka meraih cita-cita gemilang di masa depan akan menjadi keniscayaan.

#Abdul Kholis

BACA JUGA: majalah MATRA edisi Juni 2025, Klik ini